Waspadai Kematian Mendadak Pada Bayi

By Rumah Dandelion

Suatu hari, setelah saya posting di sosial media foto Yoda lagi tidur tengkurap, ada yang bertanya “gpp ya tidur tengkurap begitu? Aman?” saya jadi coba browsing lagi terkait posisi tidur bayi dan berujung pada penemuan tentang Kematian Mendadak pada Bayi (Sudden Infant Death Syndrome – SIDS). Setelah dapat informasi ini saya jadi lebih paham mengapa sebaiknya bayi tidak tidur tengkurap dan langsung meneruskan informasi ini ke pengasuh di rumah.

 

Apa itu SIDS?

SIDS adalah kematian bayi secara mendadak tanpa ada sejarah sakit atau riwayat kesehatan bermasalah sebelumnya. Dari kasus-kasus yang terjadi, orangtua menuturkan bahwa mereka masih melihat bayinya bergerak dalam periode waktu 5 sampai 30 menit sebelum ditemukan tidak bernapas. Ini menandakan bahwa kejadiannya bisa terjadi sangat cepat. SIDS terjadi di usia di bawah 1 tahun, paling banyak pada bayi usia 1-4 bulan.

 

Penyebab SIDS

Hingga saat ini, para ilmuwan belum dapat menemukan penyebab pastinya. Namun telah diketahui adanya faktor-faktor resiko. Dalam Triple-Risk Model, dijelaskan tiga faktor yang harus muncul sebelum bayi dapat dikatakan meninggal akibat SIDS.

 

 

 

 

  1. Abnormalitas / kelainan otak. Semakin banyak hasil penelitian menunjukkan bahwa bayi yang meninggal akibat SIDS terlahir dengan kelainan di bagian otak yang mengontrol pernapasan, detak jantung, tekanan darah, suhu, dan mengirim sinyal untuk membangunkan individu dari tidur. Ilmuwan terus berusaha mengembangkan teknologi untuk skrining kelainan ini sejak dini.

 

  1. Periode perkembangan kritikal. Di 6 bulan pertama kehidupan bayi, terjadi pertumbuhan dan perubahan yang sangat cepat, termasuk dalam hal pola tidur dan bangun bayi serta sistem pernapasan dan regulasi suhu tubuh. Perubahan-perubahan ini dapat membuat sistem internal bayi tidak stabil dan lebih rentan. SIDS lebih banyak terjadi pada bayi laki-laki (60%), karena pematangan bagian otak yang terkait aktivitas tidur ini berkembang lebih lambat dari bayi perempuan. Bayi prematur dan bayi yang lahir dengan berat badan rendah juga punya resiko yang lebih besar.

 

  1. Faktor Situasional. Kebanyakan bayi mengalami situasi yang dapat meningkatkan resiko terjadi SIDS, seperti posisi tidur tengkurap, residu rokok, suhu terlalu panas, atau jalur napas tersumbat. Namun, bayi yang punya dua faktor resiko sebelumnya bisa jadi tidak mampu menghadapi faktor situasional ini. Seperti misalnya, bayi normal biasanya akan mencoba bergerak dan menangis saat sesak akibat jalur napas tertutup selimut. Namun bayi yang terlahir dengan kelainan otak, tidak mampu mengirim sinyal keadaan bahaya untuk membangunkan bayi.

 

 

Cara Mengurangi Resiko Bayi Mengalami SIDS

Kelainan otak dan periode perkembangan kritikal berada di luar kontrol kita sebagai orangtua dan pengasuh. Namun kita bisa mengontrol faktor situasional. Apa saja yang bisa kita lakukan untuk mengurangi resiko terjadinya SIDS?

  • Posisikan Bayi Telentang Saat Tidur.

Memposisikan bayi dalam keadaan telentang saat tidur berdampak besar. Sejak tahun 1994, ketika kampanye “Back to Sleep”  digulirkan, jumlah bayi yang meninggal akibat SIDS menurun hingga 50%. Studi juga menunjukkan bahwa sebagian besar bayi yang meninggal akibat SIDS ditemukan dalam keadaan tidur tengkurap, bukan telentang. Posisi tidur telentang memang bisa membuat bayi lebih mudah terbangun, namun resiko mengalami berhenti bernapas dan SIDS lebih kecil.

 

Kenapa posisi tidur tengkurap kurang baik? Karena posisi ini lebih dapat membuat bayi menghirup kembali udara yang dihembuskannya (kurang oksigennya), serta bisa membuat hidung dan mulut bayi tersumbat (berbahaya bagi bayi yang belum punya kemampuan motorik untuk mengangkat kepala dan mengubah posisi tidur). Ada pula yang menyatakan tidur tengkurap bisa mengganggu regulasi suhu tubuh dan membuat bayi kepanasan (overheating). Bagaimana dengan posisi tidur miring? Posisi ini juga kurang disarankan karena bayi dapat lebih mudah berguling jadi tengkurap. Meski demikian, saat bayi dalam keadaan bangun dan dalam pengawasan, tetap perlu ada waktu tengkurap (tummy time) untuk melatih kekuatan otot leher, bahu, dan lengannya.

 

  • Ciptakan Lingkungan Tidur yang Aman

Banyak bayi yang dinyatakan meninggal akibat SIDS, ditemukan dalam keadaaan kepala tertutup oleh seprai / selimut. Oleh karena itu, untuk bayi muda, disarankan agar tempat tidurnya tidak dipenuhi oleh bantal, selimut, boneka, atau benda lain yang berpotensi membekap atau menutup jalur napas bayi. Pastikan pula seprai tidak longgar dan mudah tergeser akibat gerakan bayi. Kalaupun ingin memakai selimut, pastikan selimut tidak melebihi ketiak bayi. Gunakan kasur atau alas tidur yang padat, hindari alas yang terlalu empuk seperti sofa atau bean bag karena bisa membuat cekungan saat bayi berguling/ berpindah posisi dan bayi jadi tidak bisa bernapas.

 

  • Cegah agar Bayi Tidak Kepanasan

Kadang kala, orangtua khawatir bayi kedinginan sehingga justru berlebihan: memakaikan baju berlapis, topi, ditambah lagi bedong dan selimut. Untuk mencegah bayi kedinginan, lebih disarankan pakaikan baju yang berlengan panjang dan menutup hingga kaki, tidak perlu lagi ditambahkan selimut. Atur suhu ruangan agar tetap sejuk dan bayi tidak sampai kepanasan. Tanda-tanda kepanasan (overheating) adalah berkeringat, dada panas saat dipegang, napas cepat, dan gelisah.

 

  • Tidur di Kasur yang Terpisah

Bayi disarankan untuk tidur bersama orangtua di kamar yang sama, namun tidak di tempat tidur yang sama, apalagi bila ada anak kecil lain. Hal ini dikarenakan, saat tidur, kesadaran kita menurun dan bisa saja secara tidak sadar tubuh kita menimpa bayi dan membuatnya sulit bernapas. Oleh karena itu, bila ibu menyusui, setelah selesai lebih baik bayi diletakkan kembali ke tempat tidurnya. Bila ibu tertidur, yang seringkali terjadi, segera pindahkan bayi setelah ibu terbangun.

 

  • Lingkungan Bebas Rokok

Bayi yang orangtuanya perokok punya resiko yang lebih tinggi untuk mengalami SIDS, karena volume karbondioksida yang dihisap oleh bayi sebagai perokok pasif meningkat. Hal ini menyebabkan gangguan pada sistem pernapasan. Bahkan, bila orangtua tidak merokok di dekat bayi pun, residu yang menempel pada baju bisa menjadi masalah. Yuk ciptakan lingkungan yang bebas rokok, dan gantilah pakaian pada saat pulang ke rumah, sebelum berinteraksi dengan bayi.

 

Penulis: Orissa Anggita Rinjani, M.Psi

Referensi

American Academy of Pediatrics Journal. 2016. SIDS and Other Sleep-Related Infant Deaths: Recommendations for a Safe Infant Sleeping. Diunduh dari Environmentpediatrics.aappublications.org/content/early/2016/10/20/peds.2016-2938.full-text.pdf

 

Safe to Sleep. https://www.nichd.nih.gov/sts/about/SIDS/Pages/default.aspx

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>