Tips Membuat Aturan yang Efektif

By Orissa Anggita

Bayangkan dunia tanpa aturan, apa yang terjadi? Kebingungan dan kekacauan pasti ya. Dalam semua yang kita lakukan, sadar tidak sadar kita sebenarnya dibatasi oleh aturan. Aturan berbicara, aturan berkendara, aturan menggunakan ruang publik, aturan makan, aturan berpakaian, dan sederet aturan lainnya.

Membuat orang mengikuti aturan bukan hal yang mudah. Jangankan anak-anak, orang dewasa saja kadang masih suka mencari celah ya untuk tidak melakukan aturan tertentu. Namun disiplin mengikuti aturan dalam melakukan sesuatu adalah hal penting untuk dikembangkan, ini adalah dasar untuk memahami nilai dan tanggung jawab. Cepat atau lambat, anak perlu memelajarinya.

Apa yang dapat orangtua lakukan untuk menetapkan aturan bagi anak dengan efektif? Berikut tips-tipsnya.

Tetapkan aturan yang jelas

Jangan berasumsi bahwa anak sudah tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang kita harapkan dari mereka. Sampaikan dan diskusikan dengan mereka:

  • Alasan mengapa aturan dibuat. Anak punya hak untuk mengetahui mengapa mereka diperbolehkan atau tidak diperbolehkan melakukan sesuatu. Sebagai orang dewasa saja kita tentu sebal bukan bila tiba-tiba diharuskan begini begitu tanpa alasan yang jelas? Jadi daripada berkata “ya karena mama bilang begitu!” saat membuat aturan, misalnya, tidur paling lambat jam 9 malam di hari sekolah, jelaskan “besok kan sekolah, harus bangun lebih pagi. Kalau kurang tidur, jadi mengantuk dan lebih sulit belajar. Tubuh juga butuh istirahat setelah seharian melakukan banyak hal, supaya tidak mudah sakit.”

Repot dong tiap kasih aturan harus ada penjelasan? Ya memang demikian, tetapi itu penting dilakukan dan membantu mengembangkan kontrol diri anak. Ketika anak paham alasan dibuatnya aturan tertentu, akan lebih bisa membuat mereka tetap mengikuti aturan meskipun tidak ada yang mengawasi.

  • Buat aturan dalam bentuk pernyataan positif. Sebisa mungkin, ajarkan apa yang harus mereka lakukan, bukan yang tidak boleh mereka lakukan. Daripada aturan “Jangan lari-larian di tangga” lebih baik “Berjalanlah di tangga”. Anak tidak selalu bisa memikirkan lawan kata dari apa yang kita larang. Bisa saja anak berpikir “Oh jangan lari-lari, boleh kali ya lompat-lompat atau guling-guling”. Jadi sebaiknya, langsung saja menyatakan apa yang kita harapkan dari mereka.
  • Tetapkan konsekuensi yang jelas bila anak mengikuti/melanggar aturan. Saat kita menetapkan aturan “makan harus habis” maka ketika tidak habis anak perlu mendapat konsekuensi seperti “kalau makan bersisa, maka belum boleh makan snack ya”. Buatlah konsekuensi yang kurang relevan, hindari konsekuensi seperti “kamu tidak mau makan, jadi jalan-jalannya batal”. Ketika aturan dilanggar, ingatlah untuk mengkritik perilaku/ tindakannya, bukan melabel anak. “Karena kamu belum mau merapikan, belum boleh main ke tetangga ya” daripada “kamu itu memang anak yang pemalas dan tidak punya tanggung jawab.”

Libatkan anak dalam membuat aturan

Memberikan kesempatan buat anak untuk terlibat dalam menentukan aturan, dan konsekuensi, akan meningkatkan keterikatan dan keinginan untuk mengikuti aturan. Usia 3 tahun, saat kemampuan bahasa sudah cukup berkembang, anak sudah mulai bisa kok diajak diskusi. Pelibatan ini penting terutama untuk anak yang berada di tahap pra-remaja dan remaja, mereka cenderung menuntut kebebasan dan otonomi yang lebih besar. Beri mereka ruang agar merasa dipercaya, didengarkan, dan bisa berkontribusi, sehingga melihat orangtua berlaku adil dan mau menjalankan aturan yang disepakati.

Batasi aturan 3-5 poin

Terlalu banyak aturan akan sulit untuk diingat anak dan dapat menjadi kehilangan kekuatannya. Kita ingin anak mengingat apa yang diharapkan dari mereka, meski tidak dalam pengawasan atau pendampingan. Pilihlah aturan yang dianggap sebagai prioritas dan menjadi nilai keluarga yang ingin dikembangkan. Orangtua dapat membuat aturan (ground rules) yang berlaku dimana saja, seperti menghormati orang lain dan bersikap sopan, ataupun aturan spesifik seperti aturan makan atau aturan penggunaan gadget. Batasi isi aturan 3-5 poin saja.

Jalankan aturan dengan konsisten

Namanya anak-anak, pasti akan coba-coba untuk mengetes apakah orangtuanya benar-benar serius dalam membuat dan menjalankan suatu aturan. “Apa benar kalau aku nonton lebih dari 30 menit maka di waktu nonton berikutnya akan dikurangi? Apa benar kalau aku tidak mau membereskan mainan maka tidak boleh main yang lain?” Ketika orangtua konsisten, akan lebih mudah menjadi kebiasaan dan bagian dari perilaku keseharian mereka, karena anak tahu apapun yang mereka lakukan, atau nego, orangtua tetap akan tegas. Sering-seringlah mengacu kembali pada aturan yang sudah dibuat. Ketika akan pergi ke rumah teman, ingatkan “apa ya aturan bertamu? Nanti kalau mau masuk apa yang harus dilakukan?” Ini membuat anak lebih mengingat dan menyadari dimana dan kapan saja aturan tersebut berlaku.

Bila perlu, tulis aturan dan tempel di tempat yang terlihat. Adanya aturan tertulis menjadi pengingat bagi semua, anak maupun orangtua/pengasuh. Untuk remaja, bisa diletakkan di tempat yang lebih privat, di kamar alih-alih pintu kulkas. Beri penghargaan bila mereka mau menjalani aturan, apalagi bila tanpa diingatkan.

Terbuka untuk mengubah aturan

Sebagai orangtua juga perlu fleksibel dan mempertimbangkan situasi. Saat anak lagi sakit misalnya, beri kelonggaran untuk makan di tempat tidur, atau saat ada yang mengundang ke pesta anak dibolehkan makan es krim meskipun jatah mingguan sudah habis. Pastikan saja anak memahami mengapa ia mendapat pengecualian itu. Biasanya kalau ke rumah eyang juga agak susah tuh untuk bertahan pada aturan. Aturan juga dapat mengalami perubahan, bahkan perlu, ketika anak beranjak dewasa. Anak sekolah dasar kita berikan aturan harus sampai rumah jam 5 sore, untuk anak SMP atau SMA bisa diperpanjang misalnya jam 7 malam.

Menjalankan aturan dan membuat anak mengikuti aturan dengan sukarela bukan selalu hal yang mudah. Tetapi semoga dengan tips-tips di atas, drama-dramanya dapat diminalisir yaa. Semangat!

Referensi:

https://psychcentral.com/lib/the-5-cs-of-effective-discipline-setting-rules-for-children/

http://raisingchildren.net.au/articles/family_rules.html

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>