Time Out – Yes or No?

By Rumah Dandelion

Time-out merupakan metode yang dipakai oleh banyak orang tua untuk mendisiplinkan anak. Time-out ini awalnya dikembangkan pada tahun 1960-an sebagai sebuah metode untuk membentuk perilaku anak, sebagai alternatif mendisiplinkan anak dengan tidak menggunakan hukuman fisik (kekerasan).

Saat time-out, orang tua meminta anak untuk duduk diam dan tidak menyertakan anak dari kegiatan atau orang-orang yang ada di sekitarnya. Harapannya, anak dapat merenung dan merefleksikan kesalahan yang telah mereka lakukan. Tampaknya efektif dan efisien untuk dilakukan ya. Namun, apakah benar demikian?

Banyak kritikan terhadap metode time-out, yang ketika dilakukan secara tidak tepat justru berpotensi memberikan dampak negatif pada anak. Misalnya saja, ketika orang tua menggunakan time-out sebagai metode hukuman dan bukan sebagai metode untuk mengajarkan sesuatu pada anak.

Bayangkan saja ketika anak anda yang berusia dua tahun menunjukkan tantrum, lalu anda minta dia untuk diam di suatu ruangan atau pojokan tanpa anda ajak bicara, dan anda berharap anak anda dapat merefleksikan kesalahannya? Rasanya sulit ya. Di usia tersebut anak belum bisa dapat dengan mudah mengambil insight atas perbuatannya. Dampak lain dari time-out adalah perasaan malu dan tertolak karena anak merasa diisolasi dari orang-orang dan lingkungan sekitarnya. Apalagi jika setelah time-out orang tua tidak memberikan penjelasan apa-apa.

Lantas, apakah time-out sama sekali tidak bisa digunakan? Pada prinsipnya, ada hal-hal positif yang masih dapat kita ambil dari metode time-out, selama kita melakukannya dengan tujuan dan cara yang tepat.

Perhatikan usia anak dan batasan waktu time-out

Time-out lebih efektif digunakan untuk anak berusia antara 3 – 8 tahun. Pada usia ini, anak diharapkan sudah mulai memahami konsekuensi dari perilaku negatif yang ia lakukan. Misalnya saja, anak usia pra sekolah yang mengamuk karena tidak diijinkan meminjam mainan temannya. Time-out tidak harus dilakukan secara lama untuk bisa menjadi efektif. Untuk anak berusia 3 tahun, maksimal waktunya adalah 3 menit, dan 5 menit untuk anak berusia 6-8 tahun

Tidak harus di ruangan yang terisolasi

Anda dapat menggunakan pojok ruangan sebagai tempat untuk anak menenangkan diri, bukan hanya untuk anak tapi juga untuk anda. Keluarga dapat menamainya dengan pojok tenang, sehingga tetap menimbulkan kesan positif bagi seluruh anggota keluarga. Pastikan selama time-out anda tetap dapat mengawasi anak dan memastikan bahwa ia tetap dalam kondisi yang aman.

Gunakan untuk perilaku yang jelas dan lakukan secara konsisten

Time-out efektif digunakan untuk perilaku negatif yang tampak jelas, misalnya saja merebut mainan, berteriak, melempar mainan, dan lain sebagainya. Lakukan secara konsisten, sehingga anak dapat benar-benar paham akan hubungan dari time-out dan perilaku negatifnya.

Komunikasi itu penting

Time-out akan menjadi sesuatu yang sia-sia jika anak tidak dapat memahami kenapa ia harus duduk dengan tenang dan diam. Anda dapat mengenalkan dan menjelaskan tentang aturan time-out pada anak. Usahakan melakukan itu dalam keadaan tenang. Anda juga dapat menggunakan metode cerita, misalnya menggunakan boneka. Setelah time-out selesai, anda juga dapat mengajak bicara anak dengan lebih tenang, untuk mengingatkan kembali mengapa ia mendapat time-out, dan perilaku apa yang seharusnya ia tampilkan. Beri anak kesempatan untuk melakukan perilaku yang sesuai/tepat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>