Tes Sidik Jari: Perlukah?

By Rumah Dandelion

Baru-baru ini, ada beberapa teman saya bertanya seberapa perlu sih tes sidik jari itu? Mereka dapat ajakan dari orangtua murid di sekolah anaknya (usia balita). Ya, tes sidik jari ini memang sedang menjadi tren. Daripada pemeriksaan psikologis seperti tes minat bakat dan tes inteligensi yang bisa memakan waktu berjam-jam, tes sidik jari hanya membutuhkan waktu yang singkat untuk keluar hasilnya. Akan tetapi kalau ditanya apakah saya merekomendasikan tes ini, untuk saat ini saya akan menjawab ‘tidak’. Kenapa?

Pertama, buat saya, anak usia dini sebenarnya belum terlalu perlu untuk tes inteligensi, tes gaya belajar, tes kepribadian, atau tes minat bakat. Kalau ada yang datang ke saya dan minta anaknya di tes, saya akan tanya balik dulu kebutuhannya apa. Bila tidak ada indikasi adanya gangguan perkembangan atau gangguan belajar yang membutuhkan informasi skor IQ untuk penegakan diagnosa, dan hanya karena sekedar ‘ingin tahu’, biasanya saya sarankan tidak usah dulu.  Kalau untuk tes kematangan sekolah, dari TK ke SD, itu bisa saja dilakukkan karena memang beberapa sekolah meminta adanya rujukan dari psikolog.  Fyi, tes kematangan sekolah bukan mengukur IQ dan tidak terkait calistung ya…

 

Mungkin ada yang kemudian bertanya, kenapa memangnya kalau anak usia dini di tes? Bukannya justru bagus kalau orangtua sudah sejak awal tahu seluk-beluk potensi anaknya? Memang sebenarnya sah-sah saja sih, saya hanya khawatir orangtua kemudian terlalu menyempitkan pengalaman anak. Misal, “wah ternyata Cita katanya paling berbakat di bidang logika matematis, kalau gitu saya ikutkan kursus sempoa dan robotik saja deh, daripada kursus menari atau berenang.” Ini akan membatasi bidang-bidang yang anak bisa eksplorasi. Padahal bagi saya, untuk anak usia dini lebih butuh pengenalan ke berbagai bidang, seluas-luasnya (broad). Ya musik, ya gambar, ya bela diri, ya olahraga, ya puzzle, ya alam, ya cerita, ya nyanyi, ya komputer, dan lain-lainnya. Tidak harus melulu melalui kursus formal ya, tetapi bisa banget dari kegiatan sehari-hari. Nanti akan kelihatan kok dengan sendirinya bidang mana yang lebih mudah anak kuasai dan tampak enjoy melakukannya  Semakin besar, akan semakin jelas di bidang mana anak menonjol, bidang mana yang menjadi kekuatan maupun kelemahannya, dan bidang mana yang paling menjadi minat anak. Saat itu, orangtua dapat membimbing anak untuk mengenal bidang tersebut lebih dalam (depth), sehingga keterampilan pun semakin terasah dan bahkan bisa berbuah prestasi.

 

Kedua, saya belum bisa merekomendasikan tes sidik jari karena saat ini masih menjadi kontroversi dan tergolong pseudo science (ilmu semu) di psikologi. Artinya, secara ilmiah (saya tidak akan bahas pengertian ilmiah disini ya..bisa dipelajari sendiri lebih lanjut), tes sidik jari belum teruji keabsahannya.  Saya coba browsing jurnal-jurnal atau riset terkait tes sidik jari, kebanyakan berkaitan dengan penggunaan sidik jari untuk pemeriksaan forensik. Adapun yang berkaitan dengan kecerdasan ataupun sifat seseorang, belum berhasil saya temukan.

 

Sama seperti pseudo science yang lain: astrologi (zodiak), grafologi (ramalan berdasarkan tulisan tangan), atau tarot (ramalan menggunakan kartu). Bukan berarti hasilnya sama sekali tidak benar, saya juga dulu suka banget jaman remaja lihat rubrik zodiak di majalah –dan sesekali memang tepat lho – , hanya saja, sulit membuktikan apakah memang sikap, karakter, dan perilaku kita itu karena pengaruh zodiak. Prof. Sarlito Wirawan Sarwono (alm), guru besar psikologi Universitas Indonesia, pernah menyatakan “Dalam hal ilmu sidik jari, tidak bisa diverifikasi bagaimana hubungannya antara sidik jari (bawaan) dengan sifat, minat, perilaku, apalagi jodoh dan karir, bahkan kesalehan seseorang yang merupakan hasil dari ratusan variabel seperti faktor sosial, ekonomi, budaya, pendidikan, lingkungan alam, dan sebagainya, walaupun juga termasuk sedikit faktor bawaan.” (dalam tulisan yang dimuat di Koran Sindo 15 Mei 2011).

 

Di link ini http://dmitlab.in/dermatoglyphics-multiple-intelligence-test/ dinyatakan manfaat tes sidik jari adalah mengetahui potensi bakat dan karakter bawaan (innate), sedangkan saya sangat percaya bahwa perilaku dan kepribadian seseorang  bukan karena pengaruh bawaan saja, tetapi juga dibentuk oleh lingkungan dan pengalaman seseorang. Sidik jari tidak pernah berubah, sementara manusia berubah. Oleh karena itu, tes psikologi (dan interpretasinya) dilakukan dengan kesadaran bahwa gambaran yang tertangkap adalah gambaran saat ini, dengan segala faktor situasional yang mempengaruhi (misalnya mood anak, lagi sehat atau tidak, adakah kejadian hidup yang baru terjadi dan bisa mempengaruhi kondisi pada saat tes). Hasil bisa digunakan untuk memprediksi perilaku, namun tidak selamanya menetap. Jika setelah tes, contoh tes minat bakat, kemudian anak mendapat stimulasi dan informasi baru, sangat mungkin untuk mengalami perubahan pada perkembangan kemampuan dan ketertarikan akan suatu bidang karir. Dunia pun berubah. Jaman dulu, tidak ada pekerjaan sound engineering, animator, atau game designer. Jika sidik jari sudah menentukan bakat dari awal karir apa yang cocok, tentu terbatas pada apa yang telah berkembang sekarang dan tidak mengantisipasi perkembangan dunia ke depannya.

 

Lebih lanjut, di dalam website http://famousfingers.net dituliskan bahwa tes sidik jari bisa membantu kita mengenali: kekuatan otak, gaya belajar, kecerdasan majemuk, kecocokan dengan pasangan, dominasi otak kiri dan kanan, sampai IQ, EQ, dan kreativitas. Terus terang saya mau tidak mau berpikir “Hebat sekali tes ini. Hanya dengan satu input, bisa muncul banyak sekali outputnya. Padahal, untuk mengukur tinggi dan berat badan saja (yang nyata secara fisik) dibutuhkan alat ukur yang berbeda.”

 

All that being said, bagi saya saat ini tes sidik jari bukan metode yang akan saya gunakan untuk mendapatkan gambaran profil anak. Namun ke depannya, seiring dengan perkembangan pengetahuan, siapa yang tahu?

 

Penulis: Orissa Anggita Rinjani, M.Psi, Psi

 

One thought on “Tes Sidik Jari: Perlukah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>