Stress Pada Anak

By Agstried Elisabeth

Sebagai psikolog yang bekerja di bidang pendidikan anak, saya kerap mendapat pertanyaan dari orangtua atau guru, bisakah anak stress? Dan bagaimana membantu anak yang mengalami stress? Sebenarnya, jawabannya adalah, ya. Anak bisa mengalami stress. Mereka jelas belum punya tanggung jawab finansial (yang kerap membuat orang dewasa stress) atau harus berhadapan dengan bos atau rekan kerja yang bikin pusing. Tidak. Bentuk stress pada anak berbeda dari orang dewasa. Dan, berbeda bukan berarti bisa dianggap remeh, karena bagi anak-anak permasalahan yang mereka alami sama beratnya dengan masalah yang dihadapi oleh orang dewasa, bahkan bisa jadi anak-anak merasa lebih tidak berdaya karena mereka belum punya kapasitas mengendalikan emosi dan menyelesaikan persoalan seperti orang dewasa.

Kalau ditanya, apakah penyebab anak-anak stress? Sebenarnya tidak banyak berbeda dengan orang dewasa. Dari beberapa cerita yang saya dengar, anak bisa stress dengan tuntutan pekerjaan (baca: pendidikan) mereka. Bayangkan seorang anak yang tertatih-tatih mengikuti standar sekolahnya. Entah karena memang ia membutuhkan waktu lebih lama dalam mengolah informasi yang masuk, ataupun ia belum menemukan metode belajar yang menyenangkan dan sesuai untuk dirinya yang mana. Dan setiap kali ia kesulitan dalam menangkap pelajaran, guru dan orangtua selalu bertanya “apa yang susah?” “mengapa teman-teman yang lain bisa?” dan si anak pun jelas belum bisa menganalisa bagaimana ia harus menyelesaikan masalah ini. Dan setiap hari anak terus diingatkan betapa ia tertinggal dibanding teman-temannya di kelas.

Atau anak juga bisa stress dengan perubahan mendasar pada lingkungan dekat mereka. Tiba-tiba ada kerabat yang tinggal di rumah dan memiliki aturan yang berbeda untuk anak. Entah lebih tegas, atau lebih santai, juga bisa membuat anak stress dengan perubahan yang mendadak. Begitu pula jika anak belum siap untuk situasi punya adik, perceraian, atau kehilangan. Perubahan tersebut bisa membuat anak tertekan.

Ada banyak faktor lain yang membuat anak stress. Hal ini sangat bergantung dengan kepribadian anak juga. Ada anak yang tidak terlalu tertekan tertinggal di kelas, tapi cukup terpukul ketika melihat teman dekatnya bermain dengan anak lain. Atau ada anak yang terlihat tidak terlalu terpengaruh oleh situasi di sekolah tapi langsung demam ketika ditinggal pengasuhnya. Jadi untuk bisa mengenal sumber stress pada anak kita juga harus mengenal karakter anak kita.

Bagaimana dengan tanda-tanda pada anak yang sedang mengalami stress? Biasanya anak yang sedang mengalami stress mengalami perubahan perilaku yang tiba-tiba. Anak yang semangat sekolah tiba-tiba sangat enggan ke sekolah, perubahan pola tidur, atau mengompol dapat menjadi tanda bahwa anak mengalami stress. Selain itu, nilai yang menurun drastis, rangkaian mimpi buruk di malam hari, menarik diri, atau tiba-tiba mengisap jari (yang tadinya tidak dilakukan) juga dapat menjadi tanda stress pada anak.

Pada satu titik, anak-anak membutuhkan stress. Tekanan dan kesulitan membuat kita belajar bertahan dan berjuang, betul? Nah, masalahnya jika anak-anak belum tahu bagai mana cara bertahan dan berjuang, atau tekanannya jauh melebihi kemampuan mereka, maka mereka justru akan frustrasi dan putus asa. Melihat anak yang frustrasi dan putus asa tentu saja membuat sedih dan patah hati ya.. oleh karena itu ada beberapa hal yang dapat kita lakukan agar anak tumbuh memiliki kemampuan mengatasi stress.

Ini adalah beberapa ide yang bisa membantu anak menghadapi stress:

Sampaikan pada anak bahwa kita menyadari ada yang mengganggunya. Sesederhana kalimat: “kak, kayaknya dari hari senin kemarin, ada yang lagi dipikirin ya?” akan membantu. Hal ini menunjukan bahwa kita menyadari perubahan pada dirinya dan kita peduli terhadap hal itu. Berhati-hatilah dalam menyampaikan, agar kita tidak terkesan menuduh atau sok tahu. Jangan sampai kalimat yang keluar menjadi seperti ini: “kakak masih marah sama X karena kejadian kemarin? Kenapa sih, kan begitu aja.” Kalimat ini terdengar seperti kita lebih tahu dari anak mengenai perasaannya dan kita mengecilkan masalahnya. Selalu ingat untuk menggunakan pendekatan yang simpatik pada anak.

Ketika anak mau bercerita, dengarkan masalahnya. Dengarkan masalahnya dengan tenang dan penuh perhatian. Dengarkan dengan seksama dan penuh kepedulian. Hindari (atau tahan) godaan untuk menghakimi, menyalahkan, atau justru menceramahi anak panjang lebar mengenai apa yang harusnya ia lakukan. Cobalah dapatkan cerita penuh. Jangan terburu-buru biarkan anak menyelesaikan semua ceritanya dan menjadi lega. Intinya disini bukanlah kita memberikan sudut pandang kita. Akan tetapi kita mendengarkan sudut pandang dia.

Setelah anak selesai bercerita, cobalah untuk melabel emosi yang mereka rasakan. Pada anak-anak, kadang mereka kesulitan dalam menerjemahkan perasaan mereka ke dalam kata-kata. Penting untuk bisa melabel perasaan ke dalam kata-kata agar anak bisa menjelaskan apa yang terjadi pada mereka sehingga kemungkinan anak meledak dalam tingkah laku menjadi lebih kecil. Ketika anak sudah paham apa yang mereka rasakan, maka langkah berikut yang bisa dilakukan adalah bantu anak mencari strategi untuk mengatasi masalahnya. Usahakan idenya tidak datang dari kita tetapi dari anak. Ketika anak memberikan ide yang bagus, dukung dan bantu anak merealisasikan ide tersebut. Semakin anak terlibat dalam penyelesaian masalahnya, anak akan lebih percaya diri dalam menghadapi masalah berikutnya.

Ketika dirasa masalah yang ada memang di luar kendali kita dan anak, maka bantu anak untuk bisa move on dari masalah. Kadang dengan bercerita, frustrasi dan emosi mulai mencair. Ketika anak sudah merasa lebih baik hanya dengan bercerita, segera alihkan fokus. Tanyakan pada anak, hal apa yang dapat dilakukan untuk membuat anak merasa lebih gembira. Jangan berikan masalah perhatian lebih banyak dari yang seharusnya.

Pada akhirnya, kadang anak belum tentu mau bicara mengenai hal yang mengganggu mereka. Jika mereka belum mau bicara, hal yang harus kita lakukan adalah sabar dan memastikan anak tahu bahwa kita ada untuk mereka. Just be there. Menghabiskan waktu bersama, meskipun tidak membicarakan masalah, kadang cukup menguatkan mereka dalam menghadapi tekanan yang sedang mereka hadapi.

Sebagai orangtua, kita tentu ingin selalu melindungi anak kita dari masalah dan tekanan. Akan tetapi, peninggalan terbesar yang dapat kita berikan kepada anak kita adalah kemampuan dan keyakinan diri bahwa mereka bisa melalui masalah apapun dikemudian hari pada hidup mereka.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>