Strategi Untuk Melatih Anak Tidur Sendiri

By carmelia

Saat membentuk sebuah keluarga, orang tua biasanya mengimpikan sebuah rumah dengan beberapa kamar tidur sehingga ada kamar yang dijadikan kamar utama dengan pasangan dan ada juga kamar yang sengaja diperuntukan untuk kamar anak. Akan tetapi dalam kenyataannya, mendorong anak untuk tidur di kamarnya dengan mandiri menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua.

Jika anak dapat tidur dengan mandiri pada kamarnya maka orang tua dapat memiliki privacy, dapat memiliki waktu istirahat yang lebih berkualitas, meningkatkan hubungan dengan pasangan, dan juga dapat merencanakan program anak (jika ada). Maka, Pertanyaan yang muncul adalah kapan sih anak bisa tidur sendiri?

Buat saya pribadi, melatih anak untuk tidur di kamarnya sendiri membutuhkan waktu dan strategi seperti saat menyapih dulu. Tidak ada waktu yang tepat namun kita sebagai orang tua dapat menciptakan waktu yang sesuai untuk mendorong anak belajar tidur dengan sendiri. Pastinya dengan adanya perubahan dari tidur bersama orang tua menjadi tidur sendiri maka anak juga membutuhkan waktu transisi untuk beradaptasi.

Dr. Richard Ferber (1985) berpendapat bahwa melatih anak untuk tidur sendiri berarti memberi kesempatan anak untuk menilai dirinya bahwa ia sudah menjadi individu yang mandiri. Artinya, orang tua dapat memupuk kepercayaan diri anak terhadap kemandiriannya terlebih dahulu sebelum mencoba memulai tidur terpisah dengan orang tua. Melihat hal ini, saya mencoba memberikan beberapa tips sebagai strategi untuk melatih anak tidur sendiri sebagai berikut:

 

  • Pastikan perubahan dilakukan satu per satu

 

Dalam perkembangan anak, ada beberapa tahapan yang perlu dijalani seperti menyapih dan toilet training di malam hari. Jika anak sudah melalui tahapan menyapih dan mampu tidur di malam hari tanpa mengompol maka orang tua dapat mencoba melatih anak untuk tidur sendiri. Maka dari itu, orang tua dapat mengajak diskusi perlahan-lahan kepada anak seperti “Nak, kamu sudah bisa mandiri ya sekarang. Banyak hal yang sudah dapat kamu lakukan dengan sendiri seperti makan, mandi, dan pakai sepatu. Sebentar lagi coba yuk tidur sendiri!”. Lakukan afirmasi ini lebih sering sehingga anak siap untuk tidur secara mandiri.

 

  • Persiapkan melalui rutinitas tidur

 

Rutinitas sebelum tidur akan mempermudah orang tua untuk menentukan jam tidur anak di malam hari. Biasakan orang tua mengajak anak masuk ke dalam kamarnya pada jam tertentu dan lakukan rutinitas sebelum tidur seperti membaca buku, mendongeng, atau aktivitas bercerita lain. Hal ini membantu orang tua saat memperkenalkan rutinitas baru lainnya, yakni tidur sendiri.

 

  • Mengajak anak membuat tempat tidur yang nyaman

 

Dalam menciptakan ruang tidur yang nyaman, orang tua dapat libatkan anak untuk membentuk ruangan yang nyaman untuk dirinya. Seperti menghias tembok, menentukan lampu tidur, atau memilih boneka/mainan sebagai teman tidurnya. Dengan begitu, ia tidak merasa takut jika ia berada di kamarnya. Selalu pastikan kepada anak bahwa kita (orang tua) selalu ada untuk mereka di kamar sebelah sehingga anak tetap merasa aman walaupun kamarnya terpisah.

 

  • Lakukan dengan konsisten

 

Perubahan pasti membuat setiap orang, baik orang dewasa maupun anak, merasa tidak nyaman. Walaupun orang tua sudah melakukan persiapan dan lainnya, ada kemungkinan anak dapat menangis saat harus tidur sendiri. Meskipun demikian, pastikan bahwa anak tetap tidur pada tempat tidurnya. Saat ia menangis, orang tua dapat dampingi pada tempat tidurnya dan menenangkan bahwa orang tua tidak jauh dari kamarnya. Di pagi hari, orang tua dapat memuji setiap keberhasilan yang dilakukannya, seperti “Wah, kamu hebat ya ada kemajuan loh saat tidur sendiri. Semalam nangisnya cuman sepuluh menit, padahal di awal kamu menangis hingga tiga puluh menit. Kita coba pelan-pelan lagi yaaa

Mengubah dan membentuk kebiasaan baru memerlukan waktu, tidak secepat membalikkan tangan. Maka dari itu, orang tua perlu dengan cermat saat membentuk strategi melatih anak tidur sendiri. Komunikasikanlah dengan pasangan sehingga keputusan itu dapat dilakukan bersama sebagai orang tua. Berikan waktu kepada anak untuk beradaptasi dengan perubahan sehingga ia merasa nyaman dengan transisi yang terjadi. Selamat mencoba!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>