Stimulasi Perkembangan Bahasa Pada Bayi

By Orissa Anggita

Seperti yang sudah dibahas pada artikel ini, ada beberapa tahap perkembangan bicara pada bayi. Sebagai orangtua, tentu saja kita ingin anak kita berkembang seoptimal mungkin di segala aspek, termasuk perkembangan bahasanya. Apa yang dapat dilakukan orangtua untuk menstimulasi perkembangan bahasa bayi? Banyak! Stimulasi untuk mendorong keterampilan bahasa bayi itu pada dasarnya sederhana dan tidak butuh banyak perlengkapan.

Senantiasa ajak bayi bicara.  

Semakin sering diajak bicara, semakin banyak yang terekam di otak bayi. Di awal-awal memang seperti bicara satu arah saja, ini yang bisa membuat sebagian orangtua merasa konyol karena bicara dan heboh sendiri sementara bayinya datar-datar saja. Beberapa orangtua juga butuh usaha lebih, karena merasa sulit mengucap kalimat-kalimat spontan secara natural, but that effort will be worth it. Percayalah, walau tampaknya bayi tidak paham apa-apa, sebenarnya mereka belajar. Di tahun pertama hidupnya, bayi bisa butuh beberapa minggu untuk benar-benar paham kata-kata yang didengar setiap hari, seperti nenen, mama, papa, mandi, dan sebagainya. Bayangkan jika jarang diajak bicara, butuh berapa lama ya kira-kira?

 

Apa saja yang dinarasikan? Apa saja, misalnya hal yang dilakukan bayi “Adek lagi lihat apa? Lagi makan ya? Apa itu yang di piring? Itu nasi, yuk sendok nasinya ke mulut. Aaamm… ” atau menarasikan apa yang dilakukan orang lain”Wah papa habis mandi nih dek. Segar deh, mandinya pakai air dingin. Kalau mandi, juga pakai sabun, supaya badannya jadi bersih dan wangi. Sekarang papa mau pakai baju. Masuk dari kepala, terus tangan kanan, tangan kiri. Coba lihat ada gambar apa nih ya di kaos papa?” Mulailah hal-hal yang menjadi rutinitas sehari-hari seperti makan, mandi, ganti baju, sehingga repetisi kata-katanya sering dan lebih cepat ditangkap maknanya. Selain frekuensi ajak bicara, intonasi nada bicara juga penting. Be animated! Gunakan nada, bahasa tubuh, dan ekspresi wajah agar lebih menarik perhatian bayi.

 

Respon omongan bayi

Di samping mengajak bicara bayi, orangtua juga harus bergantian mendengarkan bayi bicara. Cooing (uu..ooo..ah…) is talking. Babbling (ma..ba..da..) is talking. Jabbering (menya menya menya, cabeca beca beca..hajipaw hajipaw) is talking. Celotehan tersebut sama pentingnya dengan kata-kata karena merupakan usaha bayi untuk bicara dan harus direspon. “Kamu lagi ajak ngomong papa ya? Mau cerita apa sih? Senang ya tadi diajak jalan-jalan ke taman?“  Dengan memberi giliran untuk bicara, bayi belajar seni percakapan dan merasa berharga bahwa ’ucapan’nya ditanggapi. Ini akan membuat bayi lebih terdorong untuk terus berkomunikasi.

 

Kenalkan kata secara konkrit dan dalam konteks

Kalau lagi mau ajarkan kata baru, misalnya bola, akan lebih cepat terekam bila turut dikenalkan benda konkritnya dan dalam konteks. Jadi daripada pakai flashcard (kartu bergambar), lebih baik langsung berikan obyek aslinya (bila memungkinkan). Di samping itu, daripada hanya menunjukkan benda”Ini bola. Boooo…laaa…” lebih baik anak diajak main”Adek lagi main apa itu ya? Oh lagi main bola ya. Boooo….laaa…. Iya adek lagi tendang-tendang bola. Bola bentuknya bundar yah, dan bisa buat pantul pantul juga. Boing! Boing! Boing!”  Akan berbeda sekali pemahaman bayi yang hanya pernah melihat gambar bola, dengan bayi yang diberi kesempatan memegang dan bermain langsung dengan bola. Merasakan bentuk dan teskturnya saat dipegang, melihat gerakan bola yang menggelinding dan memantul, itu semua memperkaya pemahaman bayi akan kata bola dan menguatkan ingatannya.

 

Bicara dengan artikulasi yang benar

Bicara dengan bayi, bukan berarti harus ikut menggunakan bahasa bayi. Pernah tidak dengar orang bicara seperti ini kalau lagi menghadapi bayi? ”cayang.. kenyapa nangis? Cini yuk mimik cucu dulu yuk.. bial kenyang, teyus enyak deh bobonya” Walau terkesan lucu dan menggemaskan, hal ini sebenarnya kurang bagus untuk perkembangan bahasa. Gunakan bahasa yang benar layaknya berbicara dengan orang dewasa, hanya temponya diperlambat agar pembeda antar kata lebih jelas.

 

Saat baru belajar bicara, pastinya bayi bicara sepatah-patah (’mi’ untuk ’minum’, ’wa’ untuk ’bola’), memakai satu kata untuk banyak hal (’au’ bisa artinya ’jatuh’, ’lampu’, ’kasur’), dan melakukan generalisasi (semua yang bulat dibilang bola, walau sebenarnya itu kelereng, roda, atau bulan). Bila ini terjadi, orangtua perlu melakukan koreksi. Jadi misal bayi bilang ’wa..wa..’ sambil menunjuk bola, koreksi dengan kata yang benar, ”Adek mau BOLA ya. Yuk kita main lempar-lempar bola.”  Misalnya bayi bilang bola padahal menunjuk roda, koreksi kembali ”Kalau yang ini roda. Rrrrroooo…da.. Mirip ya dek sama bola? Iya sama-sama bulat sih ya soalnya. Kalau bola itu untuk dimainkan, kalau roda, untuk bantu pindahkan sesuatu.”

 

Bacakan buku setiap hari

Buku adalah investasi yang sangat penting. Awalnya mungkin bayi mungkin tidak bisa tenang untuk mendengarkan cerita sampai habis, dan lebih senang membolak-balik halaman buku. Tidak jadi masalah. Orangtua tidak perlu mengikuti alur cerita, sebagai gantinya bermainlah lihat-lihat dan tunjuk-tunjuk gambar.“Si monyet makan apa ini ya? Oh iya! Makan pisang! Pisangnya mana ya? Ayo coba tunjuk..” ”Aku adalah hewan yang bisa terbang, aku punya sayap! Apa ya aku? Iya benar, burung! Mana burungnya?” Penelitian menunjukkan bahwa membacakan buku bersama lebih menambah kosa kata baru anak daripada menonton televisi/ video.

 

Mendengarkan lagu dan bernyanyi bersama

Lagu anak-anak mengajarkan berbagai konsep yang akan memperkaya kosa kata anak, seperti lagu ‘Kepala Pundak Lutut Kaki’ yang mengajarkan anggota-anggota tubuh atau lagu ‘Naik ke Puncak Gunung’ yang menggambarkan gunung itu tinggi dan belajar arah kiri-kanan. Dengan musik dan membuat gerakan mengikuti lagu, membuat bayi lebih cepat mengingat dan menumbuhkan rasa senang.

 

Beri pertanyaan terbuka

Sesekali, beri pertanyaan ke bayi yang jawabannya bukan ya atau tidak, namun berupa pilihan agar ia perlu bicara untuk memberi tahu pilihannya. “Adek mau main bola atau mobil?”, ”mau makan jagung atau nasi?”  Dorong supaya bayi pelan-pelan mau menggunakan kata-kata untuk mengutarakan apa yang ia mau. Begitu pula saat bayi belajar bicara, misal bayi merentangkan tangan minta gendong. Jangan langsung gendong, tahan dulu sambil bilang “Adek mau minta gendong mama? Bilang, mama…..adek minta geeeeennnn….dong! gen…donggg”. Di awal bayi mungkin hanya bisa ikuti kata ‘ong’ snya saja. Pelan-pelan ia akan bisa bilang ‘dong’, ‘endong’, ‘gendong’, ‘mau gendong’, sampai akhirnya kalimat lengkap ‘Adek mau gendong sama mama’.

Jangan ragu untuk menjadi banyak bicara, ketika anak sedang belajar bicara ya.. karena anak belajar banyak dari orang dewasa disekitarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>