SOSIAL MEDIA PANUTANKU

By Rumah Dandelion

Generasi milenial dan ponsel pintarnya merupakan dua hal bagaikan amplop dan perangko. Hayo, yang paham peribahasa ini ketahuan sekolahnya dulu angkatan berapa ya!  Merupakan hal yang jamak kita temui bahwa generasi milenial ini merupakan generasi yang gadget savvy, segala sesuai bisa dilakukan melalui perangkat elektroniknya. Termasuk juga bagi remaja untuk menyelesaikan isu perkembangannya, yaitu pembentukan identitas diri.

Sebelum masanya ponsel pintar dan sosial media, cara remaja jaman dulu (atau setidaknya jaman kita, ehm!) pembentukan jati diri dilakukan melalui eksplorasi dan pengalaman langsung di dunia sekitar. Mengikuti berbagai aktivitas ekstra kurikuler, berkumpul bersama teman dengan beragam latar belakang, kesukaan, dan variasi kegiatan, dan lainnya. Melalui pengalaman nyata seperti ini, remaja mendapatkan pemahaman tentang apa yang ia suka dan tidak suka, apa yang ia inginkan dan tidak inginkan, dengan siapa ia nyaman bersosialisasi, dan lainnya, yang pada akhirnya membentuk jati diri seseorang.

Jaman sekarang tentu berbeda lagi. Perkembangan teknologi yang pesat membuat remaja memiliki lebih banyak saluran dan wadah untuk bereksplorasi. Tidak lagi berdasarkan pengalaman pribadi, tapi mudah saja melalui pengalaman orang lain, atau yang disebut juga sebagai vicarious learning oleh Bandura – salah satu tokoh psikologi. Melalui vicarious learning, terutama via sosial media, seorang remaja dapat melihat dampak dari perilaku atau kegiatan yang dilakukan seseorang. Berdasarkan banyaknya likes, komentar positif maupun negatif di akun sosial media seseorang, remaja dapat belajar dan menyimpulkan perilaku yang ditampilkan tersebut baik atau tidak. Hanya saja, yang dimaksud dengan baik disini adalah didukung dan dipuji banyak orang atau tidak. Bila jawabannya ya, mendapat banyak pujian dan dukungan dari pengikut sosial medianya, maka yang dilakukan adalah hal yang baik, sehingga layak untuk dicobakan.

Efek vicarious learning dapat lebih intensif dan lebih berpengaruh ketika dilakukan remaja terhadap tokoh terkenal. Penelitian oleh Brown & Basil (1995) mengemukakan bahwa informasi yang disampaikan oleh tokoh publik mampu mempengaruhi persepsi dan perilaku seseorang terhadap isu tertentu, misalnya tokoh publik yang mengkampanyekan pola hidup sehat lebih mungkin ditiru oleh pengikut atau penggemarnya. Informasi yang ditampilkan di media, terutama oleh tokoh publik, dapat mempengaruhi persepsi seseorang terhadap dunia, dan kemudian berdampak pada sikap, penilaian, dan tindakan yang dilakukan seseorang.

Bayangkan apa yang terjadi ketika banyak remaja, yang masih dalam fase pembentukan jati diri, mengikuti dan mengidolakan tokoh-tokoh publik di saluran sosial media, seperti Instagram – yang disebut selebgram, yang memaparkan pola hidup kurang sehat. Sebut saja misalnya (yang lagi popular beberapa bulan ini) si selebgram @awkarin dan penyanyi rap @young_lex18 yang berkolaborasi menghasilkan sebuah lagu berjudul BAD. Potongan liriknya yang kontroversial adalah Yes, memang gue anak nakal. Seringkali ngomong kasar. Tapi masih batas wajar. Pertanyaan yang muncul dari lagu ini adalah, wajarkah untuk seringkali ngomong kasar?

Perkenalan dulu tentang kedua tokoh ini, bagi pembaca yang belum sempat tahu siapa mereka. @awkarin merupakan selebgram remaja putri yang saat ini duduk di bangku kuliah. Materi foto yang diunggahnya di Instagram menggambarkan kehidupan “bebas tanpa pengawasan orangtua” seorang remaja yang diisi dengan kegiatan clubbing, merokok, mengkonsumsi alkohol, tinggal sendiri tanpa orangtua di kamar kost, dan seringkali berkata kasar di tulisan sosial medianya. @young_lex18 adalah rapper muda Indonesia yang terkenal karena kata-kata kasar dan perilakunya merendahkan orang lain, yang baru-baru ini (awal tahun 2017) terkena masalah karena mencaci maki penonton menggunakan kata-kata kasar ketika sedang berada di atas panggung.

Contoh yang baik? Secara umum mungkin kebanyakan orangtua akan berkata tiddak. Sayangnya, banyak remaja yang mengidolakan dan meniru gaya hidup kedua selebgram ini.  Kok bisa? Menurut teori sosial kognitif dari Albert Bandura, sosial media juga berperan sebagai sumber informasi untuk seseorang membentuk jati diri dan pengembangan kompetensi diri. Sehingga apa yang dilihat dan dikonsumsi seorang remaja di saluran sosial media, dapat mempengaruhi pembentukan jati dirinya, terutama dalam pembentukan nilai dan keyakinan (Morawitz & Mastro, 2008). Remaja mengadopsi nilai dan keyakinan serta peran tertentu dengan mengobservasi pujian (atau hadiah lainnya) dan konsekuensi yang didapat sang tokoh atas perilakunya. Atau seperti yang sebelumnya sudah disebutkan, vicarious learning.

Kembali ke contoh @awkarin dan @young_lex18, meski banyak orang yang mengecam gaya hidup mereka, nyatanya bagi remaja, kedua tokoh tersebut dilihat sebagai idola. Bentuk paling sederhananya, banyak anak remaja yang meniru gaya berpakaian selebgram tersebut. Banyaknya likes, banyaknya pekerjaan dan uang yang didapatkan oleh selebgram tersebut dari saluran sosial medianya, komentar yang positif dan mendukung mereka, membuat remaja akhirnya menyimpulkan adalah baik dan keren untuk meniru gaya hidup seperti yang dicontohkan oleh si selebgram. Berbicara kasar menjadi hal yang lumrah, merokok dan clubbing dan mengkonsumsi alkohol menjadi penanda status sosial “anak keren”, dan perilaku destruktif lainnya.

Sebagai orangtua dan/atau orang dewasa yang memiliki anak/keluarga berusia remaja, apa yang bisa dilakukan untuk membantu remajanya membentuk jati diri yang lebih positif dan konstruktif di era sosial media seperti sekarang?

 

 

Sumber:

Brown, William J., & Basil, Michael, D. 1995. “Media celebrities and public health: Responses to “Magic” Johnson’s HIV disclosure and its impact on AIDS risk and high-risk behaviors”. Journal: Health Communication, vol. 7, issue 4.

Behm-Morawitz, E., & Mastro, D. 2008. “Mean girls? The influence of gender portrayals gender-based attitudes and beliefs in teen movies on emerging adults”. J&MC Quarterly, Vol. 85, No. 1 Spring 2008 131-146

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>