Setiap Anak Cerdas

By Orissa Anggita

Albert Einstein pernah berkata “If you judge a fish by its ability to climb a tree, it will live its whole life believing that it is stupid.”

Ide Einstein bahwa pada dasarnya setiap individu punya kemampuan dan kelebihan yang berbeda-beda sejalan dengan pemikiran Howard Gardner, pencetus teori kecerdasan majemuk. Menurutnya, setiap anak cerdas, tinggal kacamata mana yang mau kita pakai untuk melihat. Mana yang lebih cerdas? Anak yang dapat mengalahkan siapapun yang menantangnya main catur, atau anak yang piawai menghibur teman-temannya dengan kisah petualangan, atau anak yang mampu mengatur pembagian peran saat bermain drama bersama teman? Sejatinya, semua anak ini cerdas.

Namun seringkali, di masyarakat kita pandangan tentang anak cerdas adalah anak yang pintar dalam hal akademis, selalu ranking di kelas, pintar calistung, dan ingat banyak fakta-fakta yang diajarkan di pelajaran sekolah. Padahal, ketika anak itu dihadapkan pada situasi lain, misalnya menentukan apakah tumbuhan tertentu aman dimakan atau tidak, belum tentu ia bisa menjawabnya. Kalau sudah demikian, apakah bisa dibilang anak itu cerdas? Bila entah bagaimana anak terjebak di hutan, hal ini dapat menjadi masalah hidup atau mati. Oke, mungkin contoh saya ini ekstrim sekali yaa.. tapi sebagai orangtua, kita perlu menghargai kelebihan yang anak kita miliki dan meyakini bahwa anak kita cerdas.

Sejak tes IQ diciptakan hampir seratus tahun lalu, banyak orang cenderung melihat kecerdasan sebagai sesuatu yang tunggal dan dibawa sejak lahir. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa pandangan ini keliru. Howard Gardner dan rekan-rekannya di Harvard menunjukkan bahwa ada banyak jenis kecerdasan yang tidak bisa diukur oleh tes IQ standar. Gardner mendefinisikan kecerdasan sebagai kemampuan untuk memecahkan masalah dan menciptakan produk yang punya nilai budaya.

Ada apa saja tipe kecerdasan menurut Howard Gardner? Yuk kita kenali lebih lanjut.

Kecerdasan Bahasa

Kecerdasan bahasa atau liguistik adalah kemampuan menggunakan kata-kata ecara efektif. Dalam kehidupan sehari-hari, kecerdasan ini bermanfaat untuk berbicara, mendengarkan, membaca apa pun mulai dari rambu lalu-lintas sampai novel, serta menulis apa pun mulai dari pesan WA, caption di sosial media, sampai menulis laporan atau puisi. Anak yang punya kecerdasan bahasa biasanya suka mengarang cerita, menikmati membaca buku dan dibacakan cerita, suka bermain dengan bunyi bahasa (misal mencari kata-kata berima atau menyanyi lagu balonku dengan semua huruf vokalnya diganti o), suka bermain permainan kata seperti scrabble, serta punya kosa kata yang luas untuk anak seusianya. Mereka mudah mengingat informasi dan mudah belajar bahasa asing. Profesi yang sangat mengandalkan kecerdasan bahasa seperti orator, pembawa acara, penulis cerita, jurnalis, penerjemah, pengacara, dan politisi.

Kecerdasan Logika Matematika

Kecerdasan ini melibatkan keterampilan mengolah angka, menggunakan logika, dan berpikir sistematis. Anak-anak yang punya kelebihan dalam kecerdasan ini suka menemukan pola dan menyusun dalam kategori, penuh rasa ingin tahu sehingga terus-menerus bertanya dan ingin tahu sebab akibat dari berbagai peristiwa. Mereka biasanya mampu menghitung dengan cepat di luar kepala dan menikmati mengutak-atik komputer atau permainan teka-teki yang menggunakan strategi. Mereka senang bila dapat menjelaskan masalah secara logis dan bisa merancang eksperimen untuk menguji hal-hal yang tidak dimengerti. Di samping kecerdasan bahasa, ini adalah kecerdasan yang seringkali dikaitkan dengan ‘cerdas dalam bersekolah’. Profesi yang dominan di kecerdasan ini seperti ilmuwan, programmer, akuntan, atau ahli matematika.

Kecerdasan Visual Spasial

Ini adalah kecerdasan gambar dan visualisasi, bagaimana membentuk gambar di dalam kepala dan menciptakannya dalam bentuk dua atau tiga dimensi. Anak-anak yang punya kecerdasan visual punya kesadaran ruang yang tinggi dan bisa peka terhadap perubahan desain interior, senang bermain puzzle, maze, atau balok/lego, suka mencoret-coret, mudah dalam membaca peta atau grafik, menonjol di dalam kelas seni, dapat memberikan gambaran visual yang detail ketika memikirkan sesuatu, senang melihat film atau foto, serta lebih banyak memahami lewat gambar daripada kata-kata, mudah mengenali bentuk, wajah, dan warna. Pekerjaan yang membutuhkan kecerdasan ini seperti arsitek, pemahat, pelukis, perancang kota, dan pilot.

Kecerdasan Kinestetik

Kecerdasan kinestetik berkaitan dengan kecerdasan seluruh tubuh (yang dibutuhkan oleh atlet, penari, aktor) maupun kecerdasan tangan (yang dibutuhkan montir, penjahit, tukang kayu, ahli bedah, koki). Anak-anak yang punya kecerdasan kinestetik tidak canggung dalam bergerak dan punya koordinasi motorik yang baik, namun memang cenderung sulit tenang ketika duduk. Mereka memproses informasi melalui sensasi tubuh, belajar paling baik dengan bergerak dan menyentuh, mengingat apa yang dialami daripada yang dilihat atau didengar, serta suka memanipulasi obyek dan membongkar pasang benda. Mereka suka terlibat dalam kegiatan fisik seperti berenang dan bersepeda, menikmati berlari, memanjat, melompat, berayun, dan berputar-putar.

Kecerdasan Musikal

Kecerdasan musical melibatkan kemampuan menyanyikan lagu, mengingat melodi musik, punya kepekaan akan irama, atau sekedar menikmati musik. Karir yang membutuhkan kecerdasan musik bukan hanya penyanyi, pemain musik, atau komposer, tetapi profesi terapis musik atau tukang stem piano pun butuh. Anak-anak dengan kecerdasan musik yang sangat berkembang sering bernyanyi, bersenandung, atau bersiul seorang diri. Mainkan sebuah lagu dan mereka akan mulai menggerak-gerakkan tubuh mengikuti irama. Mereka mudah belajar melalui lagu atau dengan diiringi musik sebagai latar belakangnya. Mereka mengerti nuansa dan emosi yang terkandung di musik. Mereka pun cenderung lebih peka pada suara-suara nonverbal di lingkungan, seperti suara jangkrik atau dering bel di kejauhan.

Kecerdasan Interpersonal

Kecerdasan ini mencakup banyak hal, mulai dari kemampuan ‘membaca orang’ (menilai orang lain dalam waktu singkat), kemampuan berteman dan membangun jejaring, kemampuan berempati pada orang lain, sampai kemampuan memanipulasi sekelompok orang untuk mencapai tujuan tertentu. Anak dengan kecerdasan interpersonal yang tinggi punya banyak teman, aktif dalam kegiatan kelompok, berperan sebagai penangah, menikmati mengajar, dan tampak punya bakat pemimpin. Begitu banyak aspek kehidupan kita yang melibatkan interaksi dengan orang lain, maka dari itu kecerdasan ini mungkin sebenarnya lebih penting bagi keberhasilan dalam hidup, daripada kemampuan membaca buku atau memecahkan problem matematika.

Kecerdasan Intrapersonal

Kecerdasan ini berkaitan dengan bagaimana seseorang memahami diri sendiri, termasuk mengetahui apa kekuatan dan kelemahan kita, apa yang kita suka dan tidak sukai, apa yang bisa membuat kita senang, marah, sedih, apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi bad mood. Anak dengan kecerdasan intrapersonal yang baik tahu siapa diri mereka, bisa menentukan target yang sesuai dengan kemampuan, membuat rencana untuk mewujudkan apa yang mereka inginkan. Mereka menunjukkan kemandirian dan ketekunan, serta mampu belajar dari kesalahan.  Mereka mampu mengungkapkan dan menyalurkan perasaan dan pemikiran mereka, serta tertarik dengan pertanyaan tentang makna hidup.

Kecerdasan Naturalis

Kecerdasan ini melibatkan kemampuan mengenali bentuk-bentuk alam di sekitar kita, baik binatang, tumbuhan, cuaca, tata surya, ataupun bentuk permukaan bumi. Anak-anak yang cerdas naturalis adalah pencinta alam, mereka lebih suka berada di ruang terbuka, suka berkebun, dapat memelihara hewan peliharaan dengan baik, menyukai fenomena alam, dan menunjukkan kepedulian pada lingkungan. Mereka mungkin ingin menjadi dokter hewan, ahli tanaman, petani, atau aktivis lingkungan.

 

Sebagai pengingat, setiap orang sebenarnya mempunyai kedelapan kecerdasan ini dan setiap hari menggunakannya dengan kombinasi yang berbeda-beda. Misalnya anak yang main bola, ia akan menggunakan kecerdasan kinestetiknya untuk berlari dan mengolah bola, kecerdasan spasial untuk memvisualisasikan posisi bola setelah lawan menendangnya, dan kecerdasan interpersonal untuk bisa bekerja sama dengan teman satu tim. Membaca novel pun, yang sepertinya sangat dominan menggunakan kecerdasan bahasa, sebenarnya juga butuh kecerdasan lain seperti kecerdasan visual spasial (untuk membayangkan suatu adegan) dan kecerdasan intrapersonal (untuk mengaitkan dengan pengalaman pribadi).

Bagaimana dengan anak-anak kita? Apakah sudah terlihat sangat dominan, atau sebaliknya sangat lemah, di kecerdasan tertentu? Atau semua kecerdasan berada pada level tengah-tengah? Atau masih belum bisa mengenali tipe kecerdasan apa yang anak miliki? Bila masih belum terlalu jelas, coba amati lebih dalam ketika sedang bermain sama anak. Apa yang paling anak senang lakukan dan bisa bertahan lama melakukan suatu kegiatan? Apa yang paling sering anak ceritakan atau minta dari orangtua? Orangtua juga perlu mengajak anak berkegiatan yang bisa menstimulasi setiap jenis kecerdasan tersebut. Karena bagaimana kita bisa tahu anak kita cerdas di bidang musik bila tidak pernah diajak bermain irama dan mendengarkan lagu? Atau cerdas di bidang naturalis bila tidak pernah ada kesempatan bersentuhan dengan alam? Setuju?

 

Selamat bermain ya!

Referensi:

Armstrong, Thomas. 2005. Setiap Anak Cerdas: Panduan Membantu Anak Belajar dengan Memanfaatkan Multiple Intelligence-nya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Gunawan, Adi. 2005. Born to be a Genius. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>