Senioritas dan Bullying: Dilema dari Masa ke Masa

By Rumah Dandelion

Beberapa waktu lalu, kembali kabar duka berkaitan dengan kekerasan senioritas terjadi. Kali ini terjadi pada mahasiswa sebuah Universitas berbasis agama di Yogyakarta. Terbayang duka dari orangtua anak-anak tersebut. Mereka mengikhlaskan anaknya ikut acara kampus, sebagai awal untuk tahap baru pendidikan anak-anak mereka tapi ternyata anak-anaknya pulang tak bernyawa. Di Indonesia, kejadian siswa atau mahasiswa kehilangan nyawa karena ospek sudah terjadi beberapa kali. Akan tetapi nampaknya sulit sekali menghilangkan tradisi ospek atau perploncoan di Indonesia.

Bahkan beberapa sekolah ternama (secara akademik) juga masih banyak yang terkenal mempertahankan tradisi perploncoan mereka. Sebenarnya, apa yang membuat budaya senioritas yang menjurus ke bullying tetap bertahan untuk dilakukan?

Beberapa mengatakan karena budaya ini sudah berakar, bertahun-tahun sehingga sulit untuk dihilangkan. Beberapa lagi mengatakan budaya ini sulit dihilangkan karena dendam. Sementara itu, saya berpendapat bahwa mengapa budaya plonco bertahan adalah karena kita memang menginginkan itu bertahan.

Apa maksudnya? Tentu saja kita sebagai orangtua tidak ingin anak kita mengalami hal tersebut. Tidak mungkin kita memang menginginkan budaya perploncoan bertahan. Memang kita tidak menginginkan, tetapi kebanyakan dari kita juga tidak mencegah hal tersebut terjadi. Kita jarang bersikap asertif saat hak kita dilanggar. Begitu pula, kita juga jarang mempertanyakan tradisi yang lama ada. Mengevaluasi tradisi adalah hal yang sangat jarang kita dengar. Padahal, ya bisa saja jika kita bertanya: apakah tidak ada cara lain yang lebih efektif atau sama efektifnya tetapi tidak menggunakan kekerasan? Cobalah sebagai orangtua atau guru, kita tantang anak-anak kita yang mempersiapkan tradisi senioritas dengan mempertanyakan hal itu. Atau, kalau anak kita yang akan mengikuti kegiatan perploncoan, minta anak kita untuk asertif. Berani bicara ketika haknya dilanggar. Bicara baik-baik tentunya.

Jujur, saya selalu tertawa sinis ketika mendengar alasan perploncoan menggunakan kekerasan adalah supaya adik kelas menjadi tidak manja dan tahan banting menghadapi masa depan. Itu, adalah kebohongan paling bertahan lama dalam dunia perploncoan. Yang dibutuhkan oleh Negara ini bukanlah pemuda yang tahan dipukul. Yang dibutuhkan Negara ini adalah pemuda yang berani berpendapat. Berani mengatakan salah ketika memang salah, dan berani benar ketika benar. Negara ini juga butuh pemuda yang mampu mengevaluasi dan berpikir kritis dalam menyelesaikan masalah. Bukan pemuda yang selalu menganggap senior pasti benar.

Jadi mari biasakan anak kita untuk bisa mengatakan kebenaran, dan tidak takut mengakui kesalahan. Serta didik anak kita untuk bisa berpikir kritis pada setiap situasi.

Terinspirasi dari: https://www.psychologytoday.com/blog/psychoanalysis-30/201208/hazing-is-just-structured-bullying

Agstried Elisabeth.

Psikolog Rumah Dandelion

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>