Sekolah Bayi, Haruskah?

By Rumah Dandelion

Saat ini program yang ditujukan untuk bayi-bayi semakin banyak, bahkan dari bayi semuda 6 bulan. Sensory class, fun playdate, dan yup, termasuk kelas bayi bermain Rumah Dandelion. Banyak orangtua, dan mungkin Anda juga, yang kemudian bertanya, memangnya harus ya bayi saya diikutkan ke kursus, kelas, sekolah, atau semacamnya itu?

Jawabannya, tidak harus kok! Anak di atas lima tahun saja sebenarnya tidak pernah diharuskan untuk sekolah, apalagi anak balita. Yang harus itu adalah anak mendapat pendidikan dan stimulasi yang sesuai dengan usia dan keunikan perkembangan dirinya. Dan ini tidak melulu melalui sekolah kan.

Kalau begitu, apa dong manfaat ikut ‘sekolah bayi’?

Pertama, orangtua bisa memperoleh ide bermain untuk stimulasi bayi di rumah. Saya percaya bahwa semua orangtua pasti ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya. Namun, tidak semua tahu bagaimana caranya. “Bingung mau ajak main apa” atau “masih uget-uget gitu bisa ya diajak main?” Ini beberapa komen yang pernah saya dengar keluar dari mulut orangtua kalau ditanya apa yang biasanya mereka lakukan di rumah bersama bayi. Padahal, melakukan hal-hal yang tampaknya sederhana (seperti mendengarkan berbagai macam suara benda, mematikan dan menyalakan lampu) sudah bisa menjadi proses belajar bayi. Bahkan banyak stimulasi yang bisa diberikan tanpa alat apapun.

Kedua, bayi secara langsung mendapat pengalaman yang mendukung perkembangannya. Sebagian orangtua sudah punya pengetahuan apa stimulasi yang dibutuhkan bayi, namun terkadang ada hambatan untuk benar-benar melakukannya, antara lain canggung “aneh bicara sama bayi, kayak ngomong sendiri. Lagian apa mereka ngerti?” atau kurangnya dorongan untuk menyiapkan perlengkapannya. Dengan mengikuti program, kebutuhan bayi bisa difasilitasi tanpa orangtua perlu riweh menyiapkan (dan membereskan) apalagi kalau berkaitan sama messy play hehe..

Ketiga, interaksi langsung dan berkualitas saat orangtua dan bayi bermain bersama dapat menguatkan attachment (kelekatan emosional), yang mendukung perkembangan psikososialnya. Menurut Erik Erikson, kebutuhan utama dari bayi baru lahir hingga 1.5 tahun adalah rasa aman, yang dapat berkembang bila ia mendapat perawatan dan pengasuhan yang konsisten. Ketika bayi menangis dan merasa tidak nyaman lalu ada yang datang untuk mencari tahu sebabnya, memberi makan, menggantikan popok, menyelimuti, menggendong, menenangkan, ia mengembangkan rasa percaya bahwa dunia ini adalah tempat yang aman, bahwa ada orang yang bisa diandalkan untuk membantu saat ia butuh, bahwa ia punya kemampuan untuk mempengaruhi keadaan di luar dirinya. Begitu pula bila orangtua mengajak mengobrol dan bermain saat bayi bosan dan membutuhkan rangsangan. Namun sekali lagi, bukan berarti attachment baru bisa terbentuk bila ikut sekolah bayi ya….

Dari pengalaman, tidak jarang orangtua merasa mereka perlu memasukkan anakknya ke kelas atau sekolah bayi agar bisa bersosialisasi dengan teman sebayanya atau biar tidak takutan bertemu dengan orang baru. Bila alasan utamanya ini, sejujurnya kurang tepat sasaran karena hal tersebut belum menjadi kebutuhan bayi. Iya memang bayi bisa menjadi lebih terbiasa bertemu banyak orang, dewasa maupun yang seumuran, serta bisa mulai membangun pertemanan karena pertemuan berulang. Namun kebutuhan batita lebih pada membangun kelekatan dengan pengasuh utama, serta mengembangkan self-esteem bahwa ia bisa melakukan sesuatu secara mandiri dan mempelajari suatu keterampilan baru. Nanti sekitar usia 3 tahun, kebutuhan untuk membangun hubungan sosial dengan teman sebaya akan meningkat, anak akan mulai menunjukkan inisiatif untuk menciptakan situasi bermain. Anak pun akan semakin memperlihatkan hasrat untuk memahami dunianya, banyak bertanya mengapa begini mengapa begitu. Sekolah bayi mungkin lebih bisa memenuhi kebutuhan sosial ayah dan ibunya, untuk saling bertukar cerita dan tips pengasuhan, saling memberi dukungan di kala menghadapi perilaku anak yang tidak selalu positif, atau sekadar untuk keluar rumah dan menjalin interaksi dengan orang dewasa lain.

Bila orangtua tetap merasa perlu dan ingin mengikutsertakan bayi ke suatu program, berikut tipsnya:

  1. Pilih program yang tujuannya sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh bayi dan orangtua sebagai keluarga. Ada program yang menargetkan satu aspek perkembangan tertentu, seperti motorik kasar atau sensori saja, ada pula yang sifatnya lebih menyeluruh meliputi perkembangan motorik kasar, motorik halus, sosial kemandirian, bahasa, dan kognitif.
  2. Pilih program dimana jumlah maksimal pesertanya adalah 12 bayi (plus orangtua/ pengasuhnya). Terlalu banyak wajah baru dapat membuat anak merasa overwhelmed dan tidak nyaman.
  3. Pilih program yang durasi waktunya antara 30-60 menit maksimal. Terlalu lama dapat membuat bayi lelah dan cranky karena stimulasi berlebihan.
  4. Pilih program dimana orangtua memiliki peran aktif saat kegiatan dan dapat berinteraksi dengan bayi melalui cara yang menyenangkan.
  5. Pilih kegiatan yang sesuai waktunya saat bayi paling aktif dan responsif, tidak bentrok dengan jadwal tidur serta makan bayi.
  6. Sesuaikan ekspektasi. Jangan berharap bahwa bayi dapat langsung merasa nyaman dan mau ikut kegiatan dari pertemuan pertama. Beri waktu adaptasi, ini dipengaruhi pula oleh temperamen bayi.
  7. Pertimbangkan faktor seperti jarak dan waktu tempuh dalam memilih program. Seberapa bagus pun programnya, bila orangtua dan bayi datang dalam keadaan tidak mood dan stress karena jalanan macet, tentu tidak akan optimal.
  8. Untuk bayi, dua kegiatan terstruktur per minggu sudah cukup. Don’t overscheduling your baby activities.

 

Jadi, bagaimana dengan Anda?

Penulis: Orissa Anggita Rinjani M.Psi, Psi

 

Referensi:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>