Salah Kaprah “Follow the Child”

By Orissa Anggita

Dengan menggaungnya Montessori, ungkapan Follow the Child juga jadi semakin sering terdengar. Apa sebenarnya artinya? Artinya adalah mengamati anak dan memfasilitasi kegiatan berdasarkan minat dan kemampuan yang teramati.

Pernah tidak sih, kita sudah siapkan perlengkapan main gunting-gunting dan tempel-tempel untuk membuat suatu prakarya seperti topeng hewan, eh ternyata sama sekali tidak dilirik oleh anak. Anak malah lebih memilih main tuang-tuang air saja. Atau dia mau main gunting dan tempel, namun bukan mengikuti pola yang sudah disiapkan. Orangtua yang menganut prinsip follow the child akan menghormati ketertarikan anak dan tidak memaksa. Mereka percaya bahwa pemaksaan tidak akan berbuah positif untuk siapapun. Anaknya malah bisa cemberut, orangtuanya juga bisa frustrasi. Mereka akan coba mengenalkan dan mengajak, mungkin mencontohkan, tetapi jika anak tetap tidak mau, maka tidak jadi suatu masalah. Saat anak siap dan menunjukkan ketertarikan, baru deh dimaksimalkan.

Situasi lain, misalnya kita sedang mengajak anak bermain dengan kartu hewan. Anak diminta menunjuk gambar hewan tertentu sesuai instruksi  “yang mana singa?” , “kalau gajah?”. Untuk anak yang ternyata sudah mengenal semua nama hewan dan punya kemampuan bahasa yang baik, bisa ditingkatkan dengan mendeskripsikan ciri-cirinya. “hewan mana yang suka bergelantungan di pohon dan makan pisang?” Kalau ternyata anak belum mengenal nama-nama hewan yang ada di kartu, kegiatan disesuaikan menjadi pengenalan nama-nama saja, bukan bermain tunjuk-menunjuk. With ‘follow the child’ principle kept in mind, we don’t force every child to learn the same way or at the same pace.   

Nah tapi beberapa waktu belakangan ini, dalam beberapa kali kesempatan saya melihat adanya kecenderungan salah kaprah tentang follow the child. Contohnya ketika anak mengambil barang yang sedang dipegang anak lain atau anak belum sabar menunggu giliran lalu menyerobot antrian, tidak ditegur atau ditahan melainkan dibiarkan saja. Bila diingatkan untuk menegur atau membantu menahan anak, responnya adalah “Saya suka merasa ga enak atau bersalah mbak kalau melarang anak. Kan katanya harus mengikuti anak” atau “Anak saya mau pegang bolanya sekarang kenapa tidak boleh? Kan kita harus follow the child?” padahal saat itu situasinya adalah pengajar sedang memberi contoh apa yang harus dilakukan dan meminta anak berbaris untuk melakukan kegiatan secara bergantian.

Follow the child itu bukan berarti membiarkan anak mereka berbuat semaunya. Anak tetap memerlukan batasan dan aturan, yang menjadi panduan mereka dalam berperilaku dan pada akhirnya akan membentuk karakter.

Kita harus memberi kesempatan anak memilih kegiatan apa yang mereka lakukan? Ya.

Kita harus menghargai kalau anak menolak mencoba mainan baru yang kita berikan? Ya.

Kita harus menahan diri untuk tidak memaksa anak langsung mau membaur di tempat baru? Ya.

Kita harus membiarkan anak saat mengangkat kaki ke atas meja saat sedang makan? Tidak.

Kita harus mendukung anak saat memonopoli suatu mainan di tempat umum? Tidak.

Kita harus membolehkan anak untuk membanting piring atas nama eksplorasi? Tidak.

Struktur dan aturan bukan hanya memudahkan pengasuhan, tapi juga esensial bagi perkembangan anak. Manfaat aturan:

  • Memberi panduan bagi anak akan apa yang diharapkan dari mereka, sehingga nantinya lebih mampu beradaptasi di situasi sosial.
  • Membantu anak mengetahui apa yang terjadi, sehingga kemampuan prediksi dan logika berpikirnya pun berkembang. “Oh kalau saya lempar barang, barangnya akan diambil dan saya ga bisa main lagi. Oh kalau saya bicaranya teriak-teriak, mama ga akan kasih apa yang saya mau. Oh kalau saya makannya tidak habis, saya tidak boleh makan snack.”
  • Mengurangi power struggle. Ketika kita konsisten dengan aturan yang dibuat dan menjalankan konsekuensinya saat anak mengikuti ataupun melanggar aturan, anak akan tunduk dan menerima itu sebagai bagian dari keseharian. Drama-drama seperti anak menolak mandi, tidak mau bereskan mainan, rebutan mainan, dan sejenisnya dapat diminimalisir. If the rules are clear, they will be less eager to test the boundaries.
  • Mengurangi kecemasan anak. Meskipun anak suka bertingkah seakan mereka mau memegang kendali, terlalu banyak keleluasaan juga menakutkan bagi mereka. Mereka tetap membutuhkan orang dewasa to be in charge yang bisa mengarahkan mereka kapan bisa eksplorasi secara bebas dan kapan harus menahan diri.

So dear parents, please do follow your child, yet don’t forget to set some boundaries.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>