Saat Anak Melakukan Kesalahan

By Orissa Anggita

Berbuat salah adalah bagian dari hidup, setuju? Kesalahan dan kegagalan adalah pengalaman hidup yang berharga, untuk orang dewasa maupun anak-anak. We learn from our mistakes. Belajar mengatasi perasaan negatif seperti malu, frustrasi, dan rasa bersalah, serta memikirkan solusi untuk memperbaiki kesalahan, adalah keterampilan yang penting agar kita bisa menjadi individu yang tangguh dan pantang menyerah. Dan layaknya keterampilan lain, hal ini tidak berkembang dengan sendirinya.

Bagaimana orangtua seharusnya menyikapi kesalahan anak? Berikut tipsnya.

Kenali apa yang menyebabkan kesalahan itu terjadi

Saat anak salah, coba perhatikan dulu ada apa di balik kesalahan itu. Penyebab kesalahan yang berbeda akan membutuhkan respon yang berbeda. Ingatkan diri kita supaya jangan langsung reaktif, heboh atau lebay saat anak salah.

Bisa jadi anak memang belum tahu bahwa apa yang ia lakukan itu salah, karena pengalaman dan kemampuan berpikirnya yang masih terbatas. Jadi cek dulu, apa kita sudah pernah kasih penjelasan atau mengajarkan sebelumnya? Jangan berharap anak langsung tahu sendiri apa yang harus dilakukan. Misalnya mencoret-coret tembok karena menurutnya itu indah, atau memasukkan ayam piaraan yang kehujanan ke rice cooker karena baginya itu akan bisa menghangatkan (saya masih selalu tertawa sendiri kalau ingat cerita nyata dari teman saya ini, untung rice cooker-nya tidak tercolok). Untuk hal-hal seperti ini, kita perlu memberikan penjelasan pada mereka mengapa itu salah.

“Dek, kalau coret-coret di kertas aja ya. Ini kertasnya bisa diambil disini. Warna warni memang indah ya, tapi tembok di rumah bukan untuk diwarnai.”

“Nak, kamu ingin menghangatkan ayam ya. Rice cooker ini untuk makanan yang sudah dimasak, bukan untuk ayam hidup. Coba, kalau kamu habis mandi, apa yang dilakukan untuk keringkan badan? Jadi kira-kira untuk bantu si ayam, kamu bisa apa?”

 

Mungkin anak sudah diajarkan, tetapi lupa karena belum jadi bagian dari kebiasaan sehari-hari. Wajar ya, kita pun sebagai orang dewasa masih ada kesalahan berulang yang dilakukan, iya tidak? Saya sih masih suka lupa meletakkan barang di tempatnya atau lupa agar tidak gigit kuku saat cemas. Jadi perlu apa? Yup, reminder. “Harus bilang apa hayo kalau sudah dikasih sesuatu?”, “Supaya tidak tumpah bagaimana cara bawa piringngnya? Pakai dua tangan ya” , “Sudah cek daftar apa yang harus dibawa ke sekolah? Jangan sampai ada yang tertinggal.”

Kesalahan juga bisa karena faktor situasional, misalnya salah lirik saat perform di ajang kompetisi menyanyi yang diikuti karena gugup. Bila kesalahan atau kegagalan yang terjadi memang karena faktor situasional, maka yang perlu dilakukan orangtua adalah menyiapkan mental anak untuk menjadi seorang pejuang. Seperti apa caranya? Baca tips berikutnya ya.

Salah itu Biasa

Orangtua dan anak perlu memahami bahwa salah itu biasa dan bagian dari proses belajar. Carol Dweck Ph.D, seorang profesor di bidang psikologi yang mendalami tentang resiliensi (kemampuan seseorang untuk menghadapi tantangan dan bangkit saat mengalami kegagalan) mengatakan bahwa anak akan lebih resilien bila dididik dengan growth mindset, bahwa kecerdasan dan keterampilan bukanlah sesuatu yang permanen melainkan bisa dikembangkan, dan bahwa usaha seseorang memiliki peran dalam pencapaian keberhasilan. Tentunya orangtua harus punya mindset ini dulu, baru bisa membantu anak memilikinya. Caranya?

  • Puji anak akan usahanya (“mama bangga tadi kamu sudah berani coba kerjakan puzzlenya”, “papa salut melihat usaha kamu tiap hari berlatih gerakan tarian untuk lomba”) daripada performanya semata (“keren banget anak mama tadi main gitarnya”, “kamu pintar deh semua soal Matematiknya bisa dijawab dengan benar”). Dari penelitian, terlihat bahwa anak yang sering dipuji karena usahanya akan lebih bertahan saat menghadapi tekanan, sementara yang dipuji karena kecerdasannya lebih mudah kecewa bila menemui hal sulit, bahkan cenderung menghindari tantangan.
  • Buat anak yakin bahwa salah dan gagal itu biasa, take out the fear of failure. Anak mungkin berpikir bahwa kita tidak akan sayang lagi bila ia berbuat salah. Tanamkan pada anak bahwa kita tidak berharap kesempurnaan, tapi kita berharap ia mau mencoba. Ingatkan anak akan pengalaman sebelumnya mengatasi kegagalan. “Ingat dulu waktu pertama kali berenang? Kamu masih harus pakai pelampung dan pernah tersedak air kolam waktu coba lepas pelampung. Tapi sekarang kamu sudah lancar berenang sendiri, kok bisa? Apa yang kamu lakukan?” Pengalaman berhasil memunculkan rasa percaya diri.
  • Setelah rasa sakit dan sedih mulai memudar, ajak anak diskusi mengapa kesalahan atau kegagalan itu bisa terjadi dan apa yang bisa dilakukan ke depannya. “Tadi lupa lirik karena gugup ya? Bagaimana supaya bisa lebih tenang sebelum tampil? Misal tetap gugup dan lupa lagi, apa yang bisa dilakukan?” Antisipasi akan masalah yang mungkin muncul dan alternatif solusi yang bisa dilakukan akan membuat anak lebih resilien.

 

Biarkan anak menerima konsekuensi

Bila anak memang melakukan kesalahan yang bukan karena faktor situasional, anak perlu belajar untuk bertanggung jawab atas perilakunya, meski itu artinya menerima konsekuensi yang tidak menyenangkan. Tidak perlu selalu diselamatkan, tidak perlu selalu ditolerir, tidak perlu selalu dikasihani. Kadang orangtua tidak tega melihat anaknya kesulitan dan melindungi dengan mengambil alih. Namun pada situasi tertentu, “tega itu perlu”. Anak harus tahu sebab akibat dari perbuatannya, agar ke depannya lebih berhati-hati.

Baru saja beberapa hari lalu saya mendapat cerita dari teman yang seorang konselor sekolah. Ada anak SMP diskors karena beberapa kali dengan sengaja mencari gara-gara (seperti mendorong lawannya saat tanding basket) yang berujung perkelahian. Orangtua anak ini protes dan tidak terima karena menurut anaknya, itu hanya bercanda. Padahal dari rekaman cctv tampak bahwa yang didorong tidak menganggap itu bercanda dan sudah memberi peringatan. Walau saya tidak pro pada hukuman skorsing, yang saya sesali adalah sikap orangtuanya yang tampak menyepelekan dan tidak mengakui anaknya juga bersalah.

Dalam memberi konsekuensi, sebaiknya yang relevan dengan kesalahan. Anak menumpahkan makanan karena membawa tidak hati-hati, konsekuensinya adalah membereskan. Anak lupa bawa tugas karena tidak mengecek barang bawaan, konsekuensinya menanggung teguran dari guru atau rasa malu karena tidak mengumpulkan sementara teman lainnya semua sudah. Pulang terlambat dari sekolah tanpa beri kabar, konsekuensi pengurangan waktu di keesokan hari/ akhir pekan (tergantung kesepakatan). Ini yang membedakan konsekuensi dengan hukuman “tidak jadi pergi ke bioskop karena rebutan mainan sama adik” atau “handphone disita karena mengambil uang di dompet mama tanpa ijin”.

Bantu anak memperbaiki kesalahan

Dulu, saya selalu meminta anak untuk langsung minta maaf saat ia berbuat salah. Tetapi kok sepertinya anak jadi menggampangkan ya? Minta maaf saja, beres deh sudah. Maaf yang terlalu sering digunakan juga jadi bisa kehilangan maknanya. Setelah mengikuti suatu seminar parenting, saya belajar bahwa daripada menuntut anak untuk minta maaf, lebih baik kita bantu anak untuk perbaiki kesalahan dulu. Ketika anak sedang dimusuhi temannya karena tidak sengaja menghilangkan barang, kita bantu apa yang bisa dilakukan misalnya mencari gantinya atau kalau tidak ada, setidaknya melakukan suatu usaha. Maaf seringkali lebih mudah untuk diterima, dan diucapkan, bila sudah diberi waktu untuk memproses kejadian dan ada tindakan yang coba dilakukan untuk memperbaiki.

 

Referensi:

Baker, Jed. 2008. No more meltdowns: Positive strategies for managing and preventing out-of-control behavior. USA: Future Horizons, Inc.

https://www.mindsetworks.com/science/

http://www.parents.com/kids/development/behavioral/when-kids-make-mistakes/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>