Resolusi Pengasuhan di Tahun Baru

By Orissa Anggita

Pergantian tahun identik dengan membuat resolusi, rencana-rencana perbaikan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Ketika sudah menjadi orangtua, resolusi pengasuhan pun biasanya turut dibuat seperti:

  • Lebih sering bermain dengan anak
  • Diet teknologi
  • Lebih banyak waktu bermain outdoor
  • Membagi tugas rumah tangga dan urusan anak yang lebih merata dengan pasangan
  • Family road trip
  • Lebih konsisten menerapkan disiplin positif
  • Mengurangi makan junk food
  • Mengajarkan anak keterampilan hidup praktis

Nah masalahnya, seringkali semangat resolusi hanya berkobar di awal tahun. Selang beberapa bulan, atau minggu, atau bahkan masih dalam hitungan hari.. sudah terlupakan dengan segala kesibukan sehari-hari.  Apa yang kira-kira bisa dilakukan orangtua agar bisa menjalankan dan mempertahankan resolusi pengasuhan tahun baru? Yuk coba belajar menggunakan prinsip SMART.

 

Spesific

Resolusi pengasuhan yang mau dijalankan sebaiknya dibuat spesifik, jangan mengawang-awang. Misalnya, resolusi “menjadi orangtua yang lebih bahagia”. Kalau itu masih abstrak banget, akan sulit menentukan langkah realisasinya karena terlalu umum dan apa yang buat bahagia sebagai orangtua bisa berbeda-beda. Lebih efektif jika kita menulis: mengatur waktu agar bisa lebih seimbang antara me time, couple time, dan play time sama anak. Hindari tujuan yang sangat umum, misalnya “mau lebih sehat”. Pecah ke dalam tujuan-tujuan yang lebih spesifik seperti lebih banyak main outdoor, mengurangi makan junk food, dan ikut kursus futsal/basket.

Measurable

Resolusi kita sebaiknya terukur, agar bisa dievalusi sejauh atau sedekat apa kita sama apa yang ingin dicapai. Terkait sama contoh sebelumnya, lebih seimbang antara me time-couple-playtime itu apa ukurannya? Oh bisa dibuat seperti ini mungkin: me time minimal 30 menit per hari, couple time minimal 3 jam per minggu, bermain sama anak tanpa gadget minimal 30 menit per hari. Setelah menentukan ukurannya, penting juga untuk memonitor (bisa pakai apps, catatan harian, atay visual chart). Akan kelihatan deh, seberapa yang benar-benar dilakukan. Memonitor ini penting agar kita lebih sadar akan proses perubahan yang sedang dijalani, dan meningkatkan peluang keberhasilannya karena ada feedback yang kita dapat secara berkala.

Attainable

Resolusi yang dibuat harus ‘cukup mudah’ untuk dijalani, memungkinkan untuk dicapai. Memang sih orang harus punya mimpi besar, tapi harus realistis juga. Bertahaplah, jangan langsung yang terlalu muluk. Misal kita buat resolusi: no more junk food at all! padahal kondisi saat ini makan junk food setiap hari, itu akan jadi tidak realistis. Atau resolusi mau berbagai tugas pengasuhan dengan pasangan, langsung menetapkan ayah yang bagian rutinitas malam (bantu anak ganti baju, sikat gigi, bacakan buku, dan menemani tidur) sementara selama ini sama sekali belum pernah melakukannya, yang ada bisa-bisa semua nangis. Ketika resolusi dirasa terlalu sulit, justru akan menjadikan kita malas untuk memulai karena terhalang pemikiran “duh ga mungkin bisa deh”. Jadi perlahan-lahan saja. Misal, di awal resolusinya adalah hanya boleh beli junk food tiga hari sekali, lalu meningkat jadi seminggu sekali, 2 minggu sekali, baru 1 bulan sekali. Terkait pembagian peran pengasuhan, bisa dibagi dulu, selama seminggu pertama ayah yang bertugas membacakan buku, lainnya masih ibu. Kemudian di minggu kedua ayah mulai melakukan dua tugas, dan seterusnya.

Relevant

Sebagai orangtua, keinginan kita pasti banyak sekali ya. Namun agar resolusi bisa berjalan dan bertahan, pilih hal-hal yang menjadi prioritas. Keep in mind that too much too soon will not bring any good. Yang ada nanti malah rasa bersalah dan frustrasi. Fokus pada hal yang paling relevan dan dirasa berdampak paling besar terhadap keluarga.  Merencakan road trip seru sih, tapi kalau sebenarnya keluarga kita tipe yang kurang suka jalan-jalan (lebih menikmati waktu dengan main board game atau nonton), dan ada anggota keluarga yang mudah mabuk kalau perjalanan panjang, mungkin ini tidak akan jadi resolusi yang relevan. Lebih baik mungkin menetapkan resolusi: belajar teknik kelola emosi seperti I-message dan butterfly hug agar lebih sabar saat menghadapi anak tantrum, atau membatasi screen time menjadi 1.5 jam per hari untuk anak kita yang berusia 3 tahun.

Time-bound

Resolusi akan lebih bisa tercapai kalau ada kerangka waktunya, supaya tidak tertunda-tunda terus. Time-bound ini penting untuk menentukan langkah-langkah kongkrit yang harus dilakukan. Misalnya kalau mau buat family road trip Mei 2018, berarti kan dalam waktu 4 bulan, kita harus siapkan budget (menabung sekian per bulan), siapkan itinerary, dan segala persiapan lainnya.

Jadi, apa saja nih resolusi bapak/ibu di tahun 2018 ini? Coba ya dibuat dengan prinsip SMART ini. Oia, yang namanya resolusi, sangat bisa ya untuk diubah. Kalau setelah 1-2 bulan merasa “kok ga ada yang bisa jalan ya?” coba dievaluasi kesulitannya dimana. Apakah kurang spesifik, tidak terukur, atau memang karena tidak realistis, atau apa?

Dalam membuat resolusi pengasuhan, idealnya bukan hanya resolusi ayau atau ibu saja, tetapi resolusi bersama. Duduk berembuk, dan sebisa mungkin libatkan anak dalam prosesnya. Kalau perlu, dengan significant other lain yang juga turut mengasuh anak seperti asisten rumah tangga atau eyang. Semakin banyak yang tahu apa yang mau dicapai, bisa saling mendukung. Di saat mulai melenceng dari tujuan, bisa saling mengingatkan dan menguatkan. Yakin bahwa perubahan ini bisa dilakukan, walau di awal tampaknya sulit sekali. Memulai sesuatu yang baru atau mengubah dari kebiasaan lama itu memang tidak mudah, tetapi yakinlah kita punya kontrol dan kemampuan untuk melakukannya.

Semangat ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>