REMAJA PINTAR DALAM BERSOSIAL MEDIA

By Rumah Dandelion

Penelitian yang dilakukan oleh lembaga UNICEF bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia serta Universitas Harvard Amerika Serikat berjudul “Keamanan Penggunaan Media Digital pada Anak dan Remaja di Indonesia” mencatat bahwa pengguna internet dari kalangan anak-anak serta remaja, berusia 10 hingga 19 tahun, diperkirakan mencapai 30 juta. Dengan total responden 400 anak, didapatkan hasil bahwa 79.5% merupakan pengguna internet.

Tingginya angka pengguna internet dari kalangan anak dan remaja sayangnya tidak diimbangi juga dengan tingginya kesadaran pengguna untuk bijak dalam bersosial media. Terlepas dari keuntungan yang didapat dari penggunaan sosial media (kesempatan berinteraksi dengan orang lain, membuat lingkungan pertemanan baru, bertukar foto dan ide, akses informasi), remaja juga rentan terhadap risiko negatif yang ada. Minimnya pendampingan dari orangtua membuat anak dan remaja mendapatkan pengalaman yang buruk dari sosial media.

Salah satu risiko terbesar dari penggunaan sosial media pada anak dan remaja adalah cyberbullying, yaitu penggunaan sosial media secara sengaja untuk menyampaikan informasi yang salah, mempermalukan, atau bertindak agresif secara verbal kepada orang lain. Untuk di Indonesia sendiri, cyberbullying terjadi secara dominan di Instagram, Facebook, dan Twitter. Tidak adanya tatap muka, interaksi langsung, atau bahkan penggunaan identitas palsu di sosial media membuat anak dan remaja merasa “bebas dan aman” untuk mengatakan apa saja kepada orang lain, bahkan kepada orang yang tidak ia kenal. Identitas maya yang dipakai di sosial media membuat anak dan remaja tidak memiliki perasaan kontrol atas tulisannya karena tidak akan ada konsekuensi langsung yang ia dapat dari lingkungan. Sayangnya, cyberbullying juga terjadi di lingkungan pertemanan sendiri atau bahkan dengan orang terdekat, seperti pacar dan mantan pacar.

Salah satu teman saya, yang memiliki anak perempuan usia remaja (SMA ketika itu) bertanya tentang apa yang harus dilakukan. Putrinya mengadukan bahwa setelah ia putus hubungan dengan pacarnya, sebagai bentuk ekspresi sakit hati, si mantan pacar meneror putrinya di sosial media dengan mengatakan hal-hal yang bersifat seksual dan menyebarkan foto-foto mereka berdua disertai tulisan (caption) yang bersifat seksual juga. Di satu sisi, sang orangtua rasanya ingin memberikan pelajaran kepada si mantan pacar. Namun di sisi lain, mereka lebih khawatir dengan dampak yang diterima oleh putrinya, dimana ia menjadi rendah diri, menyalahkan diri karena telah mau berpacaran dengan si mantan, dan malu untuk datang ke sekolah.

Sayangnya, hal ini tidak terjadi pada 1-2 orang. Di Instagram saja kita lihat banyak sekali selebritis yang saling menjatuhkan dan membuka aib mantan pasangannya kepada masyarakat umum. Hal ini kemudian justru membuat orang yang tidak pernah menjadi korban atau penonton merasa bahwa cyberbullying adalah hal yang biasa dan normal dilakukan di masa sekarang. Padahal penelitian membuktikan bahwa umpan balik yang diterima seseorang di sosial media berdampak pada kesejahteraan mental dan kepercayaan diri. Umpan balik yang positif terhadap profil dan materi yang diunggah dapat meningkatkan kepercayaan diri dan kesejahteraan mental remaja, sedangkan umpan balik negatif dapat menurunkan kepercayaan diri dan kesejahteraan mental sehingga meningkatkan risiko remaja mengalami depresi (Valkenburg, Peter, Schouten, 2006).

Dapat disimpulkan bahwa orangtua penting untuk menjalani fungsi kontrol dan pendampingan kepada remaja dalam menggunakan sosial media. Pahami platform yang digunakan oleh remajanya, serta kenali faktor-faktor resiko yang dapat terjadi. Jalin hubungan yang hangat dan komunikasi positif dengan remaja agar remaja percaya dan terbuka untuk menceritakan aktivitas sosialnya kepada orangtua. Tanamkan nilai-nilai penggunaan sosial media yang bijak dan benar kepada remaja dan lengkapi pengetahuan orangtua agar memiliki pemahaman terhadap teknologi yang sejajar dengan kemampuan anaknya.

 

Sumber

http://tekno.kompas.com/read/2014/02/19/1623250/Hasil.Survei.Pemakaian.Internet.Remaja.Indonesia

Valkenburg, P., Peter, J., & Schouten, A. 2006. Friend Networking Sites and Their Relationship to Adolescents’ Well-Being and Social Self-Esteem. CyberPsychology & Behavior: Volume 9, issue 5, October 2006.

http://pediatrics.aappublications.org/content/pediatrics/127/4/800.full.pdf

 

Foto

https://cdns.klimg.com/merdeka.com/i/w/news/2013/06/14/205142/670×335/5-korban-bunuh-diri-akibat-cyberbullying-sisi-hitam-jejaring-sosial.jpg

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>