Pramuka, seni yang hilang

By Rumah Dandelion

Ketika saya SD, ada sebuah kegiatan ekstrakurikuler wajib yang saya ikuti setiap hari Jumat dan Sabtu, kegiatan tersebut adalah pramuka. Saya ingat ketika itu, untuk anak kelas 1 sampai 3 SD disebutnya Pramuka Siaga. Sementara itu kelas 4 sampai 6 disebut penggalang. Yang menarik adalah, dalam 1 regu, yang terdiri dari 6-7 orang, biasanya terdiri dari campuran kelas. Jadi untuk 1 regu siaga, terdiri dari 6-7 siswa campuran dari kelas 1-3. Biasanya ketua regunya adalah anak kelas 3. Begitu pula untuk regu penggalang. Dalam 1 regu terdiri dari 6-7 siswa dari kelas 4-6. Saat itu, saya tidak mengingat ada senioritas terjadi.

Saya akui, dulu saya tidak menikmati sama sekali kegiatan ini, karena saat itu saya merasa kegiatan pramuka sudah ketinggalan jaman (saat ada ekstra kurikuler cheerleader atau modern dance, mengapa saya harus ikut pramuka?) dan tidak ada gunanya (kapan saya harus membuat sandi rumput dalam kehidupan sehari-hari?). Ternyata saya sangat salah.

Setelah saya SMA, pramuka menjadi semakin tidak populer. Tidak ada ekstra kurikuler pramuka di sekolah. Dan anak-anak SD jaman sekarang pun nyaris tidak ada yang ikut kegiatan ini. Ketika akhirnya saya menjadi psikolog sekolah, dan melihat kebutuhan anak-anak sekarang, saya cukup terkejut karena sebagian besar kebutuhan anak-anak itu dapat diselesaikan dengan kegiatan pramuka. Apa saja contohnya?

  1. Anak terikat dengan layar/gadget nya?

Pramuka punya jalan keluar yang luar biasa. Mereka punya perjusami atau persami. Perkemahan jumat-sabtu-minggu atau perkemahan sabtu-minggu. Hanya berkemah di sekolah, tetapi dengan berbagai kegiatan dan permainan yang menyenangkan anak lupa untuk menonton tv atau menengok tabletnya.

  1. Anak malas bergerak dan hanya duduk di rumah?

Dengan kegiatan melacak jejak dan memecahkan sandi anak dengan sukarela menyusuri jalan-jalan mengikuti petunjuk untuk menemukan pos-pos yang tepat. Selain anak bergerak, mereka mengenal lingkungannya, dan meningkatkan kemampuan memecahkan masalah lewat sandi-sandi yang diberikan.

  1. Anak sulit bekerja dalam tim?

Dalam pramuka, semua tentang tim. Meskipun ada 1 orang yang bisa menyelesaikan semua tantangan, tapi timnya tidak, maka ia tidak bisa dibilang berhasil. Selain itu, kelompok yang berbeda usia membuat anak belajar berkomunikasi dengan berbagai rentang usia. Membuat mereka lebih fleksibel dalam situasi sosial.

Jika disekolah anak bapak/ibu ada kegiatan pramuka dan dibimbing dengan cukup baik oleh para gurunya ada baiknya jika bapak ibu mempertimbangkan anak-anak untuk mengikuti kegiatan ini. Sebuah kegiatan dengan seni yang mulai hilang oleh tuntutan akademik yang semakin tinggi.

 

Agstried Elisabeth, M.Psi.

Sumber: https://www.psychologytoday.com/blog/do-the-right-thing/201008/should-all-boys-become-boy-scouts

http://www.tandfonline.com/doi/abs/10.1080/08919402.1914.10532696?journalCode=vzps20

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>