Potensi Bakat Saja Tidak Cukup

By Orissa Anggita

Setiap anak punya potensi bakat yang berbeda-beda, ada yang di bidang menyanyi, membuat cerita, menari, olahraga, memecahkan teka-teki, memasak, melukis, berkebun, menjahit, membangun pertemanan, dan sebagainya. Namun agar dapat teraktualisasi dan bisa membuahkan suatu karya, potensi bakat saja tidaklah cukup. Perlu adanya dukungan dari lingkungan, kesempatan, dan ketekunan untuk mengembangkan potensi tersebut. Lalu, apa yang sekiranya dapat dilakukan orangtua untuk membantu mengembangkan potensi bakat anak? Berikut tips-tipsnya. 

Beri Kesempatan

Talent needs an opening to develop. Berikan kesempatan pada anak untuk eksplorasi berbagai hal. Anak laki-laki ikut kelas memasak, mengapa tidak? Anak perempuan ikut kelas futsal, mengapa tidak? Pada usia dini, lebih disarankan untuk memberi beragam pengalaman daripada fokus ke satu bidang. Misalnya dari usia 2 tahun sudah tampak bahwa anak kita suka dan bisa menyanyi dengan baik, bukan berarti sehari-harinya kegiatan hanya diisi dengan bernyanyi dan bermain musik, serta hanya diikutkan kursus menyanyi dan musik saja tanpa diberikan pilihan lain. Tetaplah mengenalkan berbagai macam kegiatan dan stimulasi semua tipe kecerdasan (untuk tahu ada berapa macam tipe kecerdasan, bisa baca artikel Setiap Anak Cerdas ya).

Semakin besar, ketika sudah memasuki usia sekolah, potensi bakat yang dominan biasanya semakin terlihat dan dapat mulai diarahkan secara lebih spesifik dan mendalam. Berikan pengalaman kompetisi maupun non-kompetisi untuk semakin mengasah bakat yang dimiliki anak. Contohnya bila anak punya potensi bakat di bidang menjahit, kita bisa menyedikan alat jahit di rumah untuknya berkreasi. Kita pun bisa mengajaknya ke museum tekstil, ke peragaan busana, dan berkenalan dengan desainer dan penjahit untuk menjadi mentor/ role model bagi anak.

Hargai Usaha dan Proses

Anak yang berbakat di suatu bidang akan belajar dengan lebih cepat dan lebih mudah, punya dorongan internal untuk mencari tahu, mencoba, dan berlatih, serta merasakan keasyikan dan kepuasan saat melakukan apa yang menjadi bakatnya itu. Motivasi internal ini perlu untuk senantiasa dipupuk, agar anak tetap tekun dan berkomitmen untuk menjalani apa yang telah ia mulai meskipun menemui tantangan. Orangtua perlu memberi penekanan pada usaha yang anak lakukan, bukan semata pada hasil. Tekankan bahwa pencapaian bukan hanya bergantung pada bakat yang ia miliki, tetapi juga seberapa besar usaha dan kerja keras yang ia keluarkan. Bila pun menemui kegagalan, itu adalah bagian dari proses belajar, pengenalan dan pengembangan diri.

Mengajak Anak Refleksi

Bakat akan semakin terasah dan teraktualisasi bila anak mengenal dirinya. Ajak anak diskusi seputar apa yang ia sukai dan tidak sukai, apa kelebihan dan kekurangan, apa yang membuat ia lebih semangat berlatih, situasi apa yang membuat ia malas dan bagaimana mengatasinya, apa tujuan yang ingin ia capai dan apa yang bisa dilakukan untuk merealisasikannya.

Bakat yang anak miliki dapat menurun dari orangtua dan sama dengan kakak/adiknya, bisa juga tidak. Hindari membandingkan antar saudara ataupun memaksa anak mengikuti suatu kegiatan karena itu dirasa bagus menurut orangtua. Beri kesempatan anak untuk memilih apa yang ingin ia kembangkan dari dirinya dan bidang apa yang ingin ditekuni, sehingga bukan karena terpaksa ataupun demi ingin menyenangkan orangtua. Dari usia 3-4 tahun anak sudah bisa ditanya kok apakah ia ingin mengikuti kursus tertentu. Bila keinginan itu hadir dari dirinya, anak akan lebih senang menjalaninya. A talent is only worth pursuing if it can also be enjoyed.

Terus amati dan ajak anak refleksi, karena bukan tidak mungkin terjadi perubahan pada minat anak dan ternyata ada bakat terpendam yang anak miliki. Saya pernah berkenalan dengan salah satu anak berbakat di bidang musik, Kafin (Di Atas Rata-rata, sekelompok musisi yang dibentuk oleh Erwin Gutawa-Gita Gutawa). Ia mulai bernyanyi usia 4 tahun, main piano usia 5 tahun. Awalnya ia berkutat di musik pop, kemudian pada satu titik mengenal musik jazz dan langsung ter-hooked. Kini ia pun mendalami musik jazz dan terus mengasah kepiawaiannya.

Semoga kita bisa menjadi orangtua yang senantiasa mendukung dan memfasilitasi bakat anak-anak kita yaa, supaya tidak hanya jadi bakat terpendam tetapi juga bisa berkarya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>