Post-Partum Depression: Do’s & Don’ts

By Nadya Pramesrani

Hidup dengan kondisi depresi bukanlah hal yang mudah. Energi negatif dari seseorang yang mengalami depresi secara tidak disadari dapat “menular” kepada orang-orang yang ada di sekitarnya. Begitu juga di kasus Post-Partum Depression (PPD) bahwa bila ibu (ayah juga bisa, seperti yang ada di artikel Post-Partum Depression: Bisakah dialami oleh para ayah?) mengalami PPD maka akan berdampak pula pada kualitas hidup pasangan dan anaknya. Penanganan sejak dini menjadi kunci utama untuk meminimalisir dampak negatif yang berkelanjutan.

Sebelum mendiagnosa diri sendiri/pasangan mengalami PPD, ada baiknya Anda mengetahui  terlebih dahulu perbedaan antara PPD dengan baby blues (silakan baca artikel “Mengenal Lebih Dekat tentang Post Partum Depression”). Bila Anda tidak yakin, Anda selalu bisa meminta bantuan orang lain yang lebih paham atau tenaga professional untuk membantu menegakkan diagnosa.

Pada dasarnya penanganan untuk seseorang yang mengalami PPD bisa dilakukan dengan 2 cara, yaitu penanganan secara medis dengan mengkonsumsi obat tertentu dan penanganan secara psikologis, dengan melakukan. Konsumsi obat tidak melulu menjadi kondisi mutlak, dokter dan psikiater yang akan membantu melakukan pemeriksaan dalam menentukan intensitas keparahan depresi yang dialami, untuk dijadikan dasar perlu/tidaknya konsumsi obat.

Meminta bantuan dan datang ke tenaga professional (dokter, psikiater, ataupun psikolog) untuk mengatasi PPD bukanlah hal yang mudah. Biasanya ada pertentangan batin yang terjadi antara merasa malu atau merasa gagal karena tidak bisa menjadi orangtua yang baik, ataupun pikiran-pikiran lainnya yang membuat seseorang enggan datang ke tenaga professional.

Mengakui dan menyadari bahwa diri sendiri (atau pasangan) membutuhkan bantuan karena mengalami PPD sudah merupakan satu langkah yang baik dalam mencapai kondisi pemulihan. Apa langkah berikutnya yang bisa dilakukan secara mandiri untuk mengatasi PPD? Beberapa adalah seperti di bawah ini:

  1. Keluar rumah, bahkan bila hanya untuk berjemur di pagi hari selama 5 menit atau bahkan mungkin olah raga ringan seperti jalan kaki atau jogging memutari blok atau komplek rumah. Sinar matahari dan interaksi dengan dunia luar menjadi kunci penting untuk memutus lingkaran depresi seseorang.
  2. Tidur yang cukup, setiap ada kesempatan untuk tidur, tidurlah. Bantu (mungkin pada awalnya bahkan perlu dipaksa) diri untuk mendapatkan jumlah tidur yang cukup dan berkualitas. Ketika seseorang memiliki bayi baru lahir tentu hal ini memang menjadi tantangan sendiri, oleh karena itu adanya bantuan dari orang lain merupakan hal penting. Berikan kesempatan untuk ibu yang mengalami PPD bisa “menyelesaikan hutang tidurnya” di pagi/siang hari.
  3. Minta bantuan, baik untuk mengurus rumah maupun untuk membantu mengurus anak. Dengan adanya bantuan untuk mengurus rumah dan anak, ibu jadi lebih memiliki kesempatan untuk beristirahat secara fisik dan mental. Tidak perlu paksakan diri sendiri harus bisa melakukan semuanya sendiri. Akan ada waktunya nanti bisa kok J
  4. Makan sehat, hindari makanan cepat saji dan instan, perbanyak buah dan serat, seimbangkan menu dengan makanan yang sehat dan lezat. Asupan nutrisi yang tepat membantu ibu yang mengalami PPD dalam meregulasi dirinya.
  5. Kelompok dukungan (support group), karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang akan selalu membutuhkan interaksi dengan orang lain. Libatkan diri Anda dalam kelompok sosial yang dapat memberikan dukungan, baik secara emosional maupun strategi penanganan PPD dari penderita PPD lainnya yang telah berhasil pulih. Support group yang ideal adalah kelompok yang dapat membuat Anda merasa nyaman untuk bercerita konflik batin dari kondisi PPD yang dialami tanpa adanya penilaian negatif dari orang lain, juga kelompok yang dapat memberikan Anda semangat dan harapan serta “tools” atau strategi baru yang dapat dicobakan untuk membantu Anda pulih. Kadang kita terjebak dengan kelompok dukungan yang “hanya” memberi kesempatan melampiaskan emosi, tanpa mendapat strategi cara mengendalikan situasi yang tepat.

Bila dalam 3 bulan intensitas PPD yang dialami belum juga mengalami perubahan/penurunan, segera datang ke tenaga professional untuk dibantu dibuatkan rencana pemulihan yang lebih tepat sasaran ya. Happy parenting! It’s okay to breakdown and cry, because parents are also human 🙂

 

Sumber:

http://www.webmd.com/depression/postpartum-depression/default.htm

Lieber A. (2017). Postpartum Depression: A guide common depression after childbirth. https://www.psycom.net/depression.central.post-partum.html

Smith, M. & Segal, J. (2017). Postpartum depression and baby blues: Symptoms, treatment, and support for depressed new moms. https://www.helpguide.org/articles/depression/postpartum-depression-and-the-baby-blues.htm

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>