Perlukah Skrining Perkembangan?

By Rumah Dandelion

Setiap anak pasti mengalami dan perkembangan dalam hidupnya. Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran-ukuran fisik, seperti tinggi badan, berat badan, dan lingkar kepala. Kalau kita bawa anak ke dokter, biasanya aspek-aspek pertumbuhan yang sifatnya kuantitatif ini yang diukur.

Tidak kalah pentingnya dari pertumbuhan adalah perkembangan, bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dan sifatnya kualitatif, misalnya perkembangan bicara. Dari anak yang tidak mengenal bahasa dan hanya bisa menangis untuk mengomunikasikan segala kebutuhannya, hingga dia lancar bercerita dengan menggunakan kosa kata yang bervariasi dan aturan bahasa yang tepat. Contoh lain di aspek perkembangan kognitif. Dari anak tidak memiliki pengetahuan apa pun tentang berbagai benda yang ia lihat di sekelilingnya, hingga ia bisa memahami nama, fungsi, bentuk, warna, dan atribut lainnya. Perkembangan juga terjadi pada kepekaan inderawi maupun aspek kemampuan gerak (motorik kasar dan halus), sosial emosional, kemandirian, moral, dan kreativitas.

Keterlambatan Perkembangan

Perkembangan tidak selamanya berjalan mulus. Keterlambatan perkembangan adalah ketika anak tidak menunjukkan pencapaian perkembangan sesuai tahapan usianya, atau yang biasa dikenal dengan istilah milestones. Contoh milestones adalah tersenyum sosial di usia 2 bulan, mengangkat kepala di usia 3 bulan, memegang benda kecil dengan ibu jari dan telunjuk di usia 7-10 bulan, dan mengucapkan kata pertama antara 12-15 bulan.

Penyebab keterlambatan perkembangan bisa karena faktor situasional atau bawaan. Contohnya, faktor situasional yang membuat anak terlambat bicara bisa karena kurang stimulasi (jarang diajak bicara; bingung karena orang-orang terdekatnya memakai bahasa berbeda-beda), atau karena faktor bawaan (gangguan fisik pada indera pendengar atau bibir sumbing; gangguan perkembangan seperti mental retardasi atau autisme).

Contoh lain, anak terlambat berjalan bisa karena faktor situasional (anak belum banyak kesempatan berlatih karena lebih sering digendong atau diletakkan di baby walker), atau memang karena faktor bawaan (flat feet, cerebral palsy).

Skrining Perkembangan

Skrining (dari kata screening) adalah upaya penyaringan untuk menentukan apakah ada penyimpangan atau keterlambatan perkembangan. Saat skrining akan dilihat perkembangan anak di berbagai aspek utama. Idealnya nih, skrining dilakukan 3 bulan sekali saat usia anak 0-1 tahun, dan 6 bulan sekali saat anak usia 1-6 tahun. Di tahun pertama hidupnya, beda tiga bulan bisa membuat perbedaan yang berarti sekali lho. Bisa terjadi banyak sekali perkembangan, karena itu disarankan skrining lebih sering.

Skrining juga disarankan berkala hingga 6 tahun, karena bisa saja, anak yang perkembangan awalnya normal namun kemudian mengalami kemunduran. Ada pula gangguan perkembangan yang gejalanya terlihat lebih jelas saat usia 2-3 tahun. Sebaliknya, dapat pula terjadi bahwa anak yang semula mengalami keterlambatan, namun karena mendapat penanganan yang tepat maka kemudian dapat mengejar ketertinggalannya.

Itulah pentingnya skrining. Agar bila memang ada keterlambatan, bisa segera terdeteksi dini sehingga anak dapat mendapatkan penanganan yang tepat untuk optimalisasi tumbuh kembangnya. Semakin cepat penanganan ini didapatkan anak, semakin baik Ada yang hanya butuh stimulasi dari pengasuh, ada yang butuh intervensi lebih formal seperti terapi wicara, terapi okupasi, atau terapi sensori integrasi di klinik tumbuh kembang.

Sebenarnya, orang tua punya kepekaan dalam menilai perkembangan anak, apakah normal atau lebih cepat, atau lebih lambat. Namun, skrining tetap dibutuhkan untuk mendapat data yang obyektif karena 20-25% orang tua tidak tahu bahwa anaknya terganggu perkembangannya, atau tahu namun merasa nantinya akan bisa normal dengan sendirinya, atau sebaliknya orang tua merasa anaknya terlambat berkembang padahal tidak ada masalah.

Saat skrining, anak akan dibandingkan dengan kelompok anak seusianya. Loh? Katanya kita tidak boleh membanding-bandingkan anak dengan anak lain? Oke, coba kita bahas ya. Setiap anak berkembang dengan pace masing-masing. Misal, ada anak yang sudah berjalan menjelang ulang tahunnya yang pertama, anak lain baru berjalan di usia 15 bulan. Menjadi masalah ketika orang tua mulai membandingkan lalu melabel anaknya (atau anak lain) berkembang lebih cepat atau lebih lambat, padahal keduanya masih dalam batasan normal sesuai usianya. Batasan mana yang sesuai usia, mana yang lebih cepat, atau mana yang lebih lambat ini yang seringkali tidak diketahui orang tua, karenanya sebaiknya tidak membanding-bandingkan. Khusus untuk bayi prematur, penilaiannya akan sedikit berbeda dan tidak mengikuti usia lahirnya. Bayi 1 tahun yang terlahir normal dengan yang premature, tentu akan berbeda perkembangannya.

Biar lebih paham, yuk kita bahas dengan contoh yang lebih detail (perhatikan gambar).

Semisal anak sedang dilihat perkembangan motorik halusnya, yang salah satu indikatornya adalah kemampuan mengambil benda dengan ibu jari dan telunjuk (menjumput). Nah waktu sekelompok anak usia 7 bulan diminta untuk melakukannya, 25% berhasil; saat 8 bulan 50% berhasil, saat 9 bulan 75% berhasil, dan saat bulan 10 bulan 100% berhasil. Berarti, usia 7-10 bulan adalah range usia yang menjadi patokan.

Keberhasilan dan kegagalan anak menjumput bisa dianggap normal ataupun tidak normal, tergantung pada usia anak kita. Anggaplah garis merah sebagai garis usia anak kita.

Anak 8 bulan:

Berhasil → oke

Gagal → oke

 

 

Anak 6 bulan:

Berhasil → lebih cepat

Gagal → wajar

 

 

 

Anak 9.5 bulan:

Berhasil → wajar

Gagal → hati-hati, perlu stimulasi intensif

 

 

Anak 11 bulan:

Berhasil → semestinya

Gagal → terlambat

 

 

 

Ini baru untuk satu indikator perilaku di satu aspek perkembangan. Saat skrining, akan dilihat berbagai indikator perilaku untuk berbagai aspek perkembangan, sehingga orang tua juga memiliki pemahaman yang lebih baik tentang anaknya.

Jadi, perlukah skrining perkembangan? Ya! ^^

2 thoughts on “Perlukah Skrining Perkembangan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>