Perkembangan Emosi Balita

By Rumah Dandelion

Sama seperti perkembangan fisik, perkembangan emosional seseorang dimulai sejak sangat dini, sejak masa bayi.

Usia 0 – 2 tahun

Mengenal emosi dasar

  • Emosi dasar adalah emosi yang dimiliki oleh seluruh manusia dan bersifat universal.
  • Di usia 6 bulan, bayi pada umumnya sudah mulai mampu menampilkan emosi dasar seperti bahagia, takut, marah, sedih, kaget, dan jijik dengan jelas.

Pemahaman akan emosi orang lain

  • Kemampuan bayi untuk memahami emosi orang lain mulai berkembang sejak usia 5 bulan. Antara usia 8 – 10 bulan, bayi mulai mampu melakukan social referencing, yaitu mencari informasi emosional yang diekspresikan oleh orang terdekatnya, khususnya ketika menghadapi situasi yang tidak biasa.
  • Nah, emosi yang ditunjukkan oleh orang tua pada saat bayi melakukan social referencing ini memiliki dampak yang cukup signifikan. Misalnya saja, ketika orang tua mengajak bayinya ke kebun binatang, lalu saat melihat binatang buas, orang tua memperlihatkan rasa takut, maka bayi akan belajar dari hal tersebut dan meniru emosi yang dirasakan orang tua.

Munculnya Self-Counscious Emotion

  • Di samping emosi dasar, individu juga mampu merasakan emosi yang sifatnya lebih kompleks seperti malu, perasaan bersalah, iri, dan bangga, yang disebut sebagai self-conscious emotion. Self-conscious emotion adalah hal yang penting karena terkait dengan moral dan norma sosial.
  • Self-conscious emotion mulai muncul pada usia 18 bulan hingga 2 tahun, saat anak mulai menyadari keberadaan dirinya sebagai individu.
  • Orang tua dapat membantu mengembangkan self-conscious emotion dengan memberikan pernyataan di situasi-situasi sosial yang sedang dihadapi anak. Misalnya saja ketika anak berhasil membangun menara dari balok, orang tua dapat mengatakan “wah bangga deh kakak sudah berusaha membangun menara” atau “malu dong kalau kita buka baju di depan umum.”

Kemampuan Meregulasi Emosi

  • Perkembangan regulasi emosi yang baik di masa ini dapat membantu anak untuk memiliki kemampuan kognitif maupun kemampuan sosial yang baik di masa mendatang.
  • Di beberapa bulan pertama, bayi masih memiliki kemampuan yang sangat terbatas untuk mengendalikan emosi, serta sangat tergantung oleh bantuan yang dilakukan oleh orang dewasa untuk menenangkan mereka. Bagaimana orang dewasa di sekitar bayi berespon sangat berpengaruh dan menjadi hal yang ditiru oleh si bayi di kemudian hari. Jadi jika orang tua marah-marah tiap kali bayinya menangis, jangan heran jika sang bayi sudah semakin besar ia menampilkan emosi marah tiap kali ada hal yang dipersepsi negatif.

 

Usia 2- 5 tahun

Mampu menyebutkan emosi

  • Sejak usia dua tahun, anak sudah mulai mampu menyebutkan emosi yang ia rasakan, ataupun emosi yang diperlihatkan oleh orang lain. Misalnya ketika melihat kakaknya menangis, anak dapat mengatakan bahwa kakaknya sedang sedih.
  • Kemampuan tersebut makin berkembang hingga di usia 4 tahun, anak mulai mampu untuk menyebutkan alasan dari emosi yang dirasakan, misalnya saja anak berkata “aku senang karena aku mendapat mainan baru”.
  • Penelitian menunjukkan bahwa ketika orang tua menunjukkan pemahaman akan emosi yang ditunjukkan oleh anak dan mengajarkan berbagai macam emosi, baik ekspresi maupun istilah yang digunakan, maka anak akan memiliki kemampuan yang lebih baik untuk memahami emosi yang ditunjukkan orang lain.

Kemampuan regulasi emosi

  • Di usia 3-4 tahun, anak sudah mulai mampu untuk membuat strategi sederhana untuk meregulasi emosi mereka. Misalnya saja, saat merasa sedih karena ditinggal oleh ibunya sebentar, anak usia 3 tahun sudah mulai dapat mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ibunya akan pulang sebentar lagi, jadi tidak apa-apa.

Self-counscious emotion semakin matang

  • Walaupun sudah mulai memahami berbagai emosi seperti malu atau bangga, pemahaman anak mengenai hal-hal itu masih sangat tergantung dari apa yang dikatakan oleh orang tua.
  • Ketika orang tua mengatakan bahwa mereka merasa bangga saat anak membereskan mainannya, bersifat baik pada orang lain, maka anak akan belajar bahwa hal-hal tersebut merupakan sesuatu yang positif. Contoh lain, ketika di sekolah anak selalu diajarkan bahwa perilaku mengantri adalah hal yang baik, dan menyelak antrian adalah hal yang buruk, maka ketika dirinya menyelak antrian, akan timbul perasaan malu ataupun bersalah dalam diri anak.

Munculnya Perasaan Empati

  • Empati – kemampuan untuk memahami perasaan yang dirasakan oleh orang lain, mulai muncul pada usia pra sekolah. Hanya saja, empati yang dirasakan oleh anak belum sampai dilanjutkan ke perilaku menolong. Misalnya saja, ketika ikut merasa sedih saat melihat temannya menangis, anak di usia ini masih berfokus untuk mengatasi kesedihan yang ia rasakan tersebut, bukannya mengatasi permasalahan yang dialami oleh temannya.
  • Pola asuh orang tua dapat mempengaruhi kemampuan anak dalam mengembangkan empatinya. Ketika anak dibesarkan oleh orang tua yang hangat dan menunjukkan kepekaan terhadap emosi, anak tersebut akan cenderung menunjukkan hal yang sama terhadap orang lain di sekitarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>