Perang Makan(an)

By Rumah Dandelion

Apa yang terbayang? Adegan di film-film dimana anak/remaja/bahkan orang dewasa bersenang-senang bersuka ria dan bercanda dengan saling melempar makanan? Hmm, kalau di film sih digambarkannya menyenangkan ya. Tapi lain cerita kalau hal ini terjadi di antara orangtua dan anak. Siapa disini yang merasa bahwa waktu makan adalah waktu yang paling stressful? *ngacung 10 jari!!*

Dari awal anak saya mulai makan di usia 6 bulan, pengalaman memberi makan anak selalu menjadi masa yang tidak menyenangkan, bagi saya dan anak. Dari awal, apa pun yang diberikan selalu ditolak – dilepeh – dibuang sambil menangis. Duh, kalau tetangga dengar, dipikir ini anak lagi disiksa kali oleh ibunya. Dan setiap kali anak saya menolak makan, hati otak perasaan semua makin kacau. Kombinasi antara panik ingat perkataan dokter yang selalu bilang porsi makan kurang – BB kurang, panik melihat anak menangis dan menolak semua nanti kalau kelaparan lalu jadi sakit bagaimana, lelah karena semua yang disiapkan pasti ditolak.

Sampai akhirnya ketika anak saya berusia 3 tahunan, pola makannya mulai membaik. Secara menu sih tidak terlalu bervariasi, tapi yang terpenting, sehari masih makan besar 3x dengan kombinasi nasi + lauk + sayur (yang diumpetin) dan kalau masih lapar ya bisa minta tambah sampai 2-3x tapi kalau tidak terlalu lapar, 1 porsi makan saja selesai ia habiskan.

Meski masa susah makan relatif sudah berhasil dilewati, tetap saja saya bertanya-tanya, jadi kemarin-kemarin itu kenapa oh kenapa? Berbagai artikel, forum diskusi komunitas, sampai informasi dari dokter, rata-rata berbicara tentang strategi. Tidak ada penjelasan kenapa, tapi fokus pada apa yang bisa dilakukan untuk mengatasinya. Jujur ketika diberikan berbagai macam strategi justru membuat saya merasa frustrasi, karena tidak ada yang berhasil! Strategi gagal, pertanyaan kenapanya juga tidak terjawab. KZL!

Sekarang ketika anak saya sudah berusia 4.5 tahun dan sudah bisa berkomunikasi lancar, barulah terjawab kenapa. Kenapa? Ternyata, karena kombinasi dari sensitivitas oral – rasa yang terlalu kaya – dan suasana makan yang stressful menambah kesulitan anak saya ketika itu untuk mau buka mulut menerima makanan.

Anak yang memiliki kepekaan sensori yang tinggi, terutama di indra peraba, penciuman, dan pengecap cenderung lebih sulit menerima masukan makanan yang kaya rasa atau yang rasanya kencang (Powell, dalam Packham, 2016).  Anak saya yang sensitif di 3 indra tersebut baru saya sadari di setahun belakangan ini. Indra perabanya yang sangat butuh untuk distimulasi, ia sangat senang menyentuh dan memainkan berbagai macam tekstur dan benda. Kalau lagi pergi jalan-jalan, tangannya itu seperti “gatal” ingin menyentuh semua benda hanya karena ingin tahu rasanya. Indra penciumannya yang juga sangat sensitif, terlihat dari sekarang ini di antara anak, saya, dan suami, anak saya lah yang paling cepat mencium bau-bau yang berbeda, bahkan yang baunya sangat halus. Begitu juga dengan indra pengecapnya, ada merica sedikit saja di makanannya, dia bisa langsung mengenali dan mengatakan makananya terasa pedas. Waktu masih kecil dulu, untuk merangsang nafsu dia makan, saya ikuti semua saran orang. Bikin makanannya gurih dan berbumbu, ditambahin deh segala macam bumbu, yang enak di lidah saya tapi ternyata sepertinya dulu terasa tajam di anak saya. Sekarang ini, makanan favoritnya apa? Makanan sederhana, nasi panas – telur ceplok – sedikit garam – sedikit kecap. Sayur pun tidak mau yang dimasak aneh-aneh, hanya mau kalau dimasak tumis dengan bawang putih. Owalah… jadi maunya yang rasanya sederhana…

Anak-anak pun secara umum kurang bisa mentolerir rasa pahit dibandingkan orang dewasa karena secara biologis rasa pahit itu berkaitan dengan kemampuan bertahan hidup makhluk hidup dimana pahit diasosiasikan denga racun (Dewar, 2013). Tidak heran juga dulu makanan yang mau dimakan anak saya cuma 1, pisang! Karena manis! Buah memang relatif dipilih untuk jadi makanan pertama yang diberikan kepada anak karena mudah dan manis. Karena kebutuhan energinya yang tinggi, adalah wajar kalau anak-anak usia dini itu lebih memilih makanan yang manis dibanding rasa lainnya (Dewar, 2013). Dulu, anak saya mau makan apa pun lainnya, seperti nasi – daging-dagingan – sayur asal dicampur pakai pisang ;). Jadi kalau pembaca disini ada yang anaknya hanya mau makan buah, dan ingin dikenalkan dengan makanan lainnya seperti protein atau karbohidrat, tidak ada salahnya untuk memasangkan makanan baru tersebut dengan buah kesukaannya atau diolah menjadi rasanya manis. Saya sendiri masih menggunakan trik ini sampai sekarang kalau mau mengenalkan makanan baru. Bukan, bukan dengan pisang. Tapi dengan kecap ;))

Setelah mengetahui kenapa anak saya susah makan, sekarang ini terasa lebih mudah mengatasinya, terutama ketika saya mau mengenalkan makanan baru kepadanya. Selain mengikuti rule of thumb tentang pengenalan makanan baru, yaitu berikan makanan baru sebanyak 10 – 15x sebelum menyerah, bagaimana saya menyiapkan makanan untuk anak saya tentu disesuaikan dengan kebutuhanny, yaitu dipasangkan dengan sesuatu yang manis dan tidak terlalu tajam rasa.

Bagaimana dengan anak bapak ibu?

Oleh: Nadya Pramesrani, M.Psi.

Source

Dewar, G. 2013. Cure for a picky eater: Evidence based tips for getthing kids to eat good foods. http://www.parentingscience.com/picky-eaters.html

Dewar, G. 2013. The science of picky eaters: why kids reject food that you like. http://www.parentingscience.com/picky-eaters.html

Packham, A. 2016. The psychology behind your child’s fussy eating. http://projects.huffingtonpost.co.uk/articles/fussy-eaters/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>