Pendidikan Seks Untuk Balita

By Orissa Anggita

Hah? Apa tidak salah anak balita sudah dikenalkan tentang seks? Apa tidak mendorong anak untuk seks bebas? Mungkin itu pemikiran sebagian orang tua ya. Namun berdasarkan hasil survey yang dilakukan Rumah Dandelion, 46% orang tua kini sudah memahami bahwa pendidikan seks bisa dikenalkan sebelum anak berusia 3 tahun. Sebagian besar orang tua tidak lagi menganggap seks sebagai topik yang tabu, tetapi bagian dari perkembangan diri anak.

Pendidikan seks BUKAN ditujukan untuk mengajak anak agar menjadi aktif secara seksual. Pendidikan seks berarti memberikan info tentang seksualitas berdasarkan fakta ilmu pengetahuan, sehingga punya sikap positif terhadap seksualitas yang sehat, tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, serta dapat bertanggung jawab. Data dari KPAI menunjukkan bahwa jumlah kasus kekerasan seksual pada anak jumlahnya menurun yaitu dari 218 di tahun 2015, 120 di tahun 2016, dan 116 di tahun 2017. Data ini sejalan dengan kampanye Gerakan Nasional Anti Kekerasan Seksual Anak yang dilakukan sejak tahun 2016 (www.kpai.go.id).

Pendidikan Seks sesuai Usia

Seringkali, saat mendengar kata seks, orang tua sudah terlanjur panic dan bingung, overthinking memikirkan bagaimana menjelaskan hubungan suami istri ke anak kecil. Padahal, pengertian pendidikan seks jauh lebih luas dari itu.

0-3 tahun

Anak usia ini secara bertahap mulai mengenal anggota tubuhnya dan ingin tahu tentang tubuhnya termasuk memegang alat kelamin saat mandi / ganti popok.

Pendidikan seks yang bisa diberikan adalah

  • Mengenalkan nama alat kelamin yang benar yaitu penis untuk laki-laki dan vagina untuk perempuan. Anggap saja seperti mengenalkan tangan, kaki, mata, telinga, dll sehingga tidak perlu diganti dengan istilah lain.  
  • Mulai memberi tahu kapan dan dimana boleh menyentuh alat kelamin/ buka baju, agar anak pelan-pelan memahami bahwa tidak di sembarang tempat ia boleh membuka baju/ celana.

3-5 tahun

Ciri tahap perkembangan anak usia ini adalah mulai ingin tahu tentang tubuh orang lain, serta suka bermain pura-pura termasuk dokter-dokteran dan peran menikah ayah-ibu.

Pendidikan seks yang perlu diperkenalkan adalah

  • Tubuhnya berharga, ia berhak untuk mengatakan TIDAK ketika orang lain menyentuhnya dan ia merasa tidak nyaman. Orang tua perlu menghargai dan tidak memaksa anak untuk memeluk/ mau dipeluk, mencium / mau dicium bahkan oleh kerabat keluarga. Hindari kalimat seperti “loh itu kan kakek, kamu ga sayang ma kakek, cium/peluk dong..” Hal ini dapat memberi kesan yang salah bahwa kasih sayang terkait dengan sentuhan fisik dan anak tidak berdaya menolak.  
  • Pembiasaan untuk berganti pakaian/ popok, buang air, dan mandi di tempat tertutup, hindari melakukannya di depan publik.
  • Bedanya laki-laki dan perempuan, dapat dilihat dari kelaminnya (laki-laki punya penis, perempuan punya vagina). Hindari menjelaskan perbedaan laki-laki dan perempuan berdasarkan pakaian yang digunakan, panjang rambut, permainan yang dilakukan, atau profesi yang dilakukan. Hal ini dapat menimbulkan kebingungan pada anak dan sejatinya yang membedakan adalah jenis kelamin.

 

  • Darimana asalnya bayi. Jelaskan dengan bahasa yang sederhana tapi jangan mengada-ada.

 

“Bayi datangnya dari mana?” →  dari rahim mama tempat adik bayinya tumbuh.

“Kok bisa ada disana?” →  sel dari papa dan dari mama disatukan dan tumbuh jadi adik bayi.

“Bagaimana cara selnya disatukan?” → dengan cara khusus yang hanya boleh dilakukan saat orang sudah menikah.

“Papa bisa melahirkan?” → tidak bisa, karena tidak punya rahim dan vagina untuk tempat keluar adik bayi. Itu yang punya hanya ibu-ibu.

Seringnya, anak balita akan puas kok dengan jawaban-jawaban ini karena perkembangan kognitifnya pun masih baru sampai pada level itu. Tidak perlu dijelaskan mendetail jika ia tidak bertanya lebih lanjut.

  • Sentuhan boleh dan tidak boleh. Jelaskan pada anak bahwa bagian dada, kelamin, pantat, dan bibir adalah 4 area paling privat dari tubuhnya dan tidak sembarang orang boleh melihat/ sentuh. Kapan sentuhan pada area tersebut dibolehkan? Saat orang tua / pengasuh bantu memandikan atau membersihkan setelah buang air, atau ketika dokter memeriksa dengan pendampingan orang tua.
  • Apa yang bisa dilakukan anak ketika anak merasa tidak nyaman Ajarkan anak bahwa ia harus katakana TIDAK saat ada orang lain menyentuh area privat, menyuruh buka baju, atau memperlihatkan bagian pribadinya/ foto orang tidak berbusana. Bila itu terjadi, ia harus berteriak minta tolong, lari, dan bilang pada orang tua / orang dewasa lain yang ia percaya.

Pendidikan seks apa yang sudah Bapak/ Ibu berikan pada anak? Yuk mulai edukasi, bisa dari membaca buku, bermain peran, atau bernyanyi. Salah satu lagu yang bisa diajarkan pada anak bisa dilihat disini yaa (https://www.youtube.com/watch?v=oNZZ1ED9vuE)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>