“PEMBERONTAKAN” REMAJA: APAKAH NORMAL TERJADI?

By Rumah Dandelion

Dari satu generasi ke generasi berikutnya, periode remaja dikenal sebagai masa dimana seoarang anak akan menjadi “bermasalah” karena melakukan kegiatan atau tindakan yang diketahui berbahaya atau merugikan oleh orang dewasa, terutama orangtuanya. Kebut-kebutan di jalan raya, membolos sekolah, mengkonsumsi alkohol dan zat adiktif, dan perilaku negatif lainnya. Semua perilaku tersebut bila ingin diberikan satu label nama, biasanya disebut dengan perilaku pemberontakan. Kenapa berontak? Karena orang dewasa berargumen bahwa sudah diberitahu bahayanya, tapi kok masih juga dilakukan. Padahal sudah besar, bukan anak kecil, yang sudah bisa berpikir secara mandiri.

Penelitian yang dilakukan oleh Todd-Yurgelun (2004) di Harvard University menemukan bahwa terdapat perbedaan struktur otak antara remaja dengan orang dewasa, yang membuat remaja menampilkan perilaku memberontak. Hasil pemindaian terhadap otak remaja ditemukan bahwa perbedaan struktur otak tersebut yang menyebabkan remaja menampilkan perilaku impulsif (perilaku segera tanpa pertimbangan lebih lanjut atas konsekuensi yang mungkin terjadi), penilaian buruk, dan kecemasan sosial. Sehingga dapat disimpulkan bahwa (sebagian) dari perilaku pemberentokan di remaja disebabkan oleh kondisi biologis, bukan pada karakter yang keras kepala.

Satu hal yang seringkali membuat orangtua frustrasi menghadapi anak remajanya adalah kondisi remaja yang sulit diajak komunikasi karena seperti tidak bisa paham dengan apa yang sudah disampaikan oleh orangtua. Salah satu keluhan yang sering saya dengar dari para orangtua ketika datang konseling ke saya adalah “Saya bingung musti bicara bagaimana lagi mba. Ngomong baik-baik, ngomong marah-marah, minta tolong orang lain, semua hasilnya sama. Anak saya kok ga bisa paham yah bahwa apa yang dilakukannya itu salah?”

Todd-Yurgelun (2004) dari hasil penelitiannya mengatakan bahwa hanya karena orangtua sudah memaparkan informasi dan argumen yang logis kepada anak remajanya, bukan berarti mereka dapat mempersepsikannya (pemberian makna dan pemahaman) dengan cara yang sama dengan pola pikir orangtua. Kondisi otak yang berbeda, bahwa frontal cortex (otak bagian depan, yang berfungsi untuk melakukan proses kognitif dan pengambilan keputusan) remaja masih dalam tahap perkembangan, membuat remaja belum bisa berpikir seperti cara orang dewasa (atau orangtua) berpikir.

Dampaknya apa? Seperti yang sering kita lihat, karena otak depan yang belum berkembang dengan sempurna, remaja belum bisa berpikir dan mengambil keputusan seperti orang dewasa. Perilakunya masih impulsif dan berorientasi pada kondisi sekarang dan saat ini, sehingga seringkali tindakan dan perilaku yang dipilihnya terlihat berbahaya, ceroboh, dan tidak bertanggung jawab.

Sebenarnya, apa tujuan yang ingin dicapai oleh remaja dengan membuat keputusan-keputusan yang salah tersebut? Secara perkembangan, ternyata itu adalah salah satu cara remaja mengembangkan kemampuannya dalam menalar informasi dan membuat keputusan yang matang. Sama seperti anak bayi yang belajar berjalan melalui proses uji coba, kadang bisa jalan kadang jatuh hingga akhirnya lancar berjalan, pengalaman uji coba ini juga yang sedang terjadi di remaja.

Penelitian oleh B.J. Casey dari Cornell University menemukan bahwa remaja selalu mengalami konflik internal ketika melakukan pengambilan keputusan. Konflik antara mengikuti pemikiran logis yang diberikan oleh otak depan dan mengikuti dorongan impulsifnya (yang juga disebabkan oleh kondisi otak tertentu, terutama bagian otak yang berfungsi mengatur emosi, amygdala). Akhirnya, meski remaja mampu mengidentifikasi hal logis positif apa yang harus ia lakukan, seringkali  pada saat berada di situasi langsung, dorongan impulsifnya yang akan menang karena memberikan efek menyenangkan yang lebih besar dan lebih langsung dibandingkan dari konsekuensi logis yang ada. Hal ini yang kemudian membuat remaja seringkali salah dalam mengambil keputusan.

Jadi apa yang bisa dilakukan orangtua untuk membantu remaja menjalani masa remajanya dengan aman dan selamat, serta menjaga “kewarasan”orang dewasa?

Memiliki pola pikir bahwa remaja memang sedang mengembangkan kemampuan berpikirnya menjadi permulaan yang baik. Persepsi bahwa “sudah besar, sudah bisa berpikir dan bertanggung jawab” terhadap remaja hanya akan memunculkan ekspektansi tinggi bagi orangtua, yang kemudian akan membuat orangtua merasa kecewa ketika harapannya tidak terjadi dan bisa mengarah pada pembentukan hubungan orangtua – anak remaja yang negatif.

Berikan batasan dan pilihan dilengkapi dengan konsekuensi yang akan didapat oleh remaja. Berikan kesempatan untuk remaja belajar dari pengalaman dan kesalahannya. Seringkali ditemui orangtua yang kemudian “menyelamatkan” remajana dari konsekuensi negatif yang mereka munculkan terhadap dirinya sendiri. Seperti, remaja yang seringkali kelupaan menyelesaikan tugas rumah dari sekolah atau ke sekolah dengan tidak membawa kelengkapan yang dibutuhkan. Demi menghindari konsekuensi negatif dari sekolah, tidak sedikit orangtua yang akhirnya mengirimkan kelengkapan yang dibutuhkan tersebut.

Regulasi emosi dan tingkat kelelahan orang dewasa agar bisa tetap logis dan tenang ketika sedang berkomunikasi dengan anak remajanya. Posisikan diri sebagai pendengar terlebih dahulu, tidak melulu harus menjadi pihak yang lebih tahu. Seringkali keterbukaan dari orangtua menjadi langkah pembuka yang baik untuk membantu remaja mau terus terbuka dan menjadikan orangtua sebagai sumber informasi yang terpercaya. Dengan demikian orangtua bisa meminimalisir kemungkinan anak remaja mencari informasi yang salah atau terpengaruh oleh pihak-pihak lain yang tidak bertanggung jawab.

Terakhir dan paling penting, jaga kualitas hubungan orangtua, antara ayah dan ibu, suami dan istri, agar tantangan menghadapi remaja bisa dihadapi dengan kompak, satu suara, dan saling mendukung satu sama lain. Hubungan negatif yang ada antar suami-istri menjadikan permasalahan yang dialami oleh remajanya justru menjadi tambahan permasalahan dalam keluarga yang harus diselesaikan bersama.

 

Sumber

http://www.apa.org/monitor/apr07/teenage.aspx

https://www.sciencenewsforstudents.org/article/teenage-brain

Rosso, I.M., Young, A.D., Femia, L.A. & Yurgelun-Todd, D.A. (2004). Cognitive and emotional components of frontal lobe functioning in childhood and adolescence. Annals of the New York Academy of Sciences, 1021, 355-362.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>