Parents, Apa itu Tantrum?

By Rumah Dandelion

Parents, pernahkan mengalami waktu dimana anak teriak-teriak begitu kencang, menangis atau bahkan memukul-mukul benda di sekitarnya? Mungkin sebagian dari orangtua ketika membaca pertanyaan ini langsung mengangguk setuju. Keadaan ini bisa terjadi dimana saja, mungkin di rumah, supermarket, mal atau bahkan di kendaraan. Tidak dapat dipungkiri bahwa anak usia batita sering kali membuat orangtua bingung dan frustasi dengan tingkah laku anak yang secara tiba-tiba teriak-teriak atau menangis tidak berhenti. Untuk itu, pada artikel ini kita akan membahas mengenai tingkah laku yang kerap anak tunjukkan tersebut.

Pada dasarnya, tantrum dapat didefinisikan sebagai ledakan emosi pada anak yang diekpresikan melalui tangisan, teriakan, atau bahkan memukul dalam jangka waktu yang cukup lama (Green, Whitney & Potegal, 2011). Berdasarkan live chat  Rumah Dandelion, banyak orangtua yang mengeluhkan bahwa terkadang tantrum ini juga diikuti dengan berbagai gerakan seperti berguling-guling di lantai, tengkurap sambil menangis, membating atau bahkan menendang. Tantrum umum terjadi pada anak usia 18-36 bulan.  Pada anak usia tersebut, tantrum dianggap normal dikarenakan anak belum dapat mengekspresikan dan mengontrol emosi yang dialaminya dengan cara yang baik. Kematangan emosi anak juga menjadi salah satu penyebabnya.

Banyak hal yang dapat memicu seorang anak mengalami tantrum, dari hasil live chat Rumah Dandelion, orangtua mengatakan bahwa anak-anaknya tantrum dikarenakan anak tidak bisa mengerjakan sesuatu, ada keinginan yang tidak terpenuhi, tidak mau berbagi barang miliknya pada orang lain, kelelahan dan alasan lainnya. Hal tersebut sejalan dengan yang disampaikan oleh Watson, Watson & Gebhardt (2010), bahwa anak dapat tantrum diantaranya dapat dikarenakan ia tidak mampu memainkan mainan yang disukai, meminta perhatian dari orang tua atau menginginkan benda tertentu di toko. Dalam penelitiannya, juga ditambahkan bahwa tantrum pada anak umum terjadi saat anak sedang berada di tempat umum, namun bukan berarti tidak dapat terjadi di tempat lain yang sedang anak datangi.

Salah satu hal lainnya yang memengaruhi mengapa anak usia batita kerap mengalami tantrum yaitu dikarenakan perkembangan bahasa anak yang belum sempurna. Ketidakmampuan anak dalam menyampaikan keinginannya turut memengaruhi tantrum pada anak. Umumnya, seiring usia anak bertambah dan kemampuan bahasanya pun berkembang, hal itu akan memengaruhi frekuensi tantrum yang ditampilkan anak. Meskipun demikian, Watson, Watson & Gebhardt (2010), mengingatkan bila anak menemukan bahwa tantrum merupakan cara paling efektif bagi mereka untuk selalu mendapatkan hal yang mereka inginkan, bukan tidak mungkin tantrum tetap menjadi masalah yang signifikan dihadapi oleh orangtua. Oleh karena itu, Rumah Dandelion memberikan beberapa tips bagi orangtua untuk menghadapi anak yang tantrum dan juga turut membantu anak dalam meregulasi emosi mereka. Berikut beberapa tipsnya:

  • Buat aturan di rumah. Aturan yang dibuat harus konkrit dan benar-benar bisa dijalani. Sebagai contoh, setiap hari hanya boleh bermain gadget selama satu jam saja.
  • Memberikan aturan kepada anak secara konsisten, baik dari ibu atau ayahnya. Sebagai contoh, ketika pergi jalan-jalan ke supermarket katakan dari awal bahwa anak boleh membeli 2-3 snack saja dan ibu serta ayah harus menerapkan hal ini. Lakukan aturan ini di setiap kesempatan ketika pergi ke supermarket.
  • Ketika tantrum muncul, orangtua tidak boleh panik. Orangtua jangan sampai tertular emosi negatif yang sedag dialami anak. Usahakan agar orangtua tetap tenang dan menemani anak.
  • Membuat transisi dari satu kegiatan ke kegiatan lain. Ada kalanya, anak tidak mau pindah dari satu kegiatan dan bila kegiatan tersebut berakhir bisa membuat anak memunculkan tantrum. Oleh karena itu, buatlah transisi yang bagi anak seperti “10 menit lagi main gadgetnya sudah yah Dek, habis itu adek mandi dulu.”
  • Mengajarkan cara coping skills  yang tepat. Terkadang anak mengalami tantrum karena ia tidak mampu melakukan sesuatu, misalnya ketika bermain balok. Oleh karena itu, coba jelaskan pada anak untuk mengatakan pada orangtua, contohnya “Adek susah kerjain yang ini”. Dengan hal itu, orangtua dapat membantu anak untuk menyelesaikan tingkat kesulitan tertentu dan memberikan kesempatan pada anak untuk menyelesaikan sisanya.

Nah Parents cara-cara diatas merupakan tips yang dapat diterapkan ketika anak mengalami tantrum atau untuk mencegah tantrum. Semoga artikel ini dapat membantu yah parents ☺

Oleh: Tiza Meidrina dan Tim Rumah Dandelion

Referensi:

Green, J. A., Whitney, P. G., & Potegal, M. (2011). Screaming, yelling, whining, and crying: Categorical and intensity differences in vocal expressions of anger and sadness in children’s tantrums. Emotion, 11(5), 1124-1133. Retrieved from http://search.proquest.com/docview/874185296?accountid=17242

Watson, T.S, Watson, T & Gebhardt, S (2010). Temper tantrums: guidelines for parents and  teachers. National Association of School Psychologists, S4H33–3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>