Parents, Apa itu Sensori Integrasi?

By Rumah Dandelion

Parents, pernahkan mendengar istilah sensori integrasi? Mungkin belakangan ini, istilah tersebut cukup umum didengar oleh masyarakat modern. Namun apakah parents, masih kerap bertanya-tanya tentang apa itu sensori integrasi dan kaitannya dengan tumbuh kembang anak? Pada artikel ini, Rumah Dandelion akan mengulas mengenai apa itu sensori integrasi, yuk kita simak.

Bila mendengar kata sensori, mungkin yang terlintas di pikiran kita berkaitan dengan proses penyerapan informasi yang terdapat di sekitar. Lalu, istilah integrasi sering kita kaitkan dengan penggabungan berbagai hal sehingga saling berkesinambungan. Berkenaan dengan dua istilah tersebut, Buchner, Fortuna dan Lindsay (2014), mendefinisikan bahwa sensori integrasi merupakan suatu proses ketika seseorang memperoleh informasi dari lingkungannya dengan melibatkan dan menggunakan indera yang terdapat dalam tubuh seseorang. Informasi yang didapat tersebut, kemudian akan digunakan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari dan memberi respon dengan tepat.

Telah disebutkan sebelumnya bahwa informasi yang kita dapatkan berasal dari indera yang terdapat dalam tubuh kita. Sejak lama kita mengetahui bahwa indera yang berbeda akan menghasilkan informasi yang berbeda pula. Bila sejak kecil, kita mengetahui bahwa terdapat lima indera dalam tubuh kita yaitu, indera penciuman, peraba, pendengaran, pengecapan dan penglihatan, namun penelitian terbaru menjelaskan bahwa terdapat dua indera lain yang berpengaruh dalam pemrosesan informasi dalam tubuh. Dua indera tersebut yaitu, indera vestibular dan proprioseptif. Indera vestibular merupakan indera internal yang bertugas untuk mengatur keseimbangan ketika tubuh bergerak. Sedangkan indera proprioseptif merupakan indera internal yang bertugas untuk memberikan pesan mengenai posisi tubuh dan gerakan yang dilakukan oleh seseorang (Proske & Gandevia, 2012).

Pada dasarnya, semua indera yang terdapat dalam tubuh kita turut berperan ketika kita melakukan suatu aktivitas. Sebagai contoh, ketika seseorang menyetir mobil, berbagai indera turut bekerja. Sebut saja, indera penglihatan untuk menentukan arah, pendengaran untuk mengenali bunyi klakson mobil, indera proprioseptif untuk mengetahui ruang mobil dan indera lainnya. Sehingga,  kerja setiap indera tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Namun memang, dalam aktivitas tertentu akan ada indera yang berperan lebih dominan dari yang lain. Meskipun demikian, setiap sistem indera saling bekerja sama untuk memberikan informasi pada diri kita.

Sama halnya dengan aktivitas sehari-hari pada orang dewasa, anak-anak juga menggunakan inderanya dalam melakukan aktivitas mereka. Hal tersebut juga terjadi pada proses belajar anak. Penelitian yang dilakukan oleh Thelen (2011), menemukan bahwa anak-anak yang belajar suatu bahasa baru dengan menggunakan pengenalan visual dan auditori, akan lebih mudah dalam pemahaman bahasa, dibandingkan anak-anak yang hanya belajar dengan menggunakan pengenalan visual. Tidak hanya itu, metode montessori yang pertama kali dikenalkan oleh Maria Montessori, juga menekankan pentingnya pembelajaran dengan melibatkan indera-indera yang ada pada tubuh kita.

Rumah Dandelion selalu menekankan bahwa ketika anak-anak dapat mengintegrasikan indera-indera yang terdapat dalam tubuhnya, maka mereka akan merasa nyaman dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Hal tersebut, tentulah akan berpengaruh dalam proses belajar anak sehingga respon yang dikeluarkan anak pun akan tepat. Meski demikian, terdapat anak-anak yang memiliki isu sensori dalam diri tubuh mereka. Isu sensori tersebut dapat berkaitan dengan pemrosesan beberapa indera yang ada dalam tubuh anak, sehingga menyebabkan mereka tidak nyaman dengan lingkungannya dan memengaruhi proses belajar. Respon yang ditunjukkan anak dapat beragam, seperti menangis, menolak, tidak bisa diam dan respon lainnya ketika mendapat stimulasi tertentu.

Terdapat tiga pola pada isu sensori yang dialami anak, yaitu hiposensitif, hipersensitif dan sensation seeking (Texas Departement of Family and Protective Service). Pada anak dengan pola hiposensitif, mereka akan kesulitan dalam mengenali pesan sensori tertentu. Kebalikan dari hiposensitif, anak dengan pola hipersensitif akan bereaksi secara berlebihan terhadap pesan sensori tertentu. Sedangkan pada anak sensation seeking,  mereka justru akan mencari pesan sensori tertentu, hanya saja caranya yang terkadang tidak tepat.

Orangtua harus mencermati terlebih dahulu, apakah isu sensori yang dialami anak telah menganggu aktivitas anak sehari-hari, atau hanya sekedar penolakan biasa. Sebagai contoh, bisa saja anak menolak ikut messy play, karena ia baru pertama kali dikenalkan dengan permainan tersebut. Melihat keadaan tersebut, orangtua dapat memberikan stimulasi dengan mengenalkan messy play pada anak. Salah satunya, dapat dengan orangtua bermain messy play terlebih dahulu, sehingga anak dapat mengobservasi bahwa permainan tersebut menyenangkan dan tidak berbahaya. Namun, bila orangtua menemukan bahwa isu sensori yang dialami anak telah menganggu aktivitas sehari-hari anak, seperti tidak mau makan, tidak menangis ketika terjatuh cukup keras, kerap membantingkan tubuh ke lantai, menjedukkan kepala dan keadaan lainnya yang membahayakan, hal ini tentu perlu dikonsultasikan kepada pihak yang berpengalaman dalam bidang tumbuh kembang anak.

Berdasarkan ulasan diatas, dapat kita pahami pentingnya sensori integrasi dalam diri manusia, baik bagi orang dewasa maupun anak-anak. Semakin kaya informasi dari indera-indera, maka akan semakin banyak koneksi yang ada di otak dan meningkatkan pemahaman serta proses belajar seseorang. Oleh karena itu, orangtua dapat mulai mengenalkan pada anak berbagai stimulasi yang melibatkan berbagai macam indera yang sesuai dengan usia mereka. Bermain lari-larian di taman, loncat-loncat di atas kasur, mengenalkan kata dengan lagu dan gerakan merupakan contoh kegiatan sederhana yang melibatkan berbagai indera untuk stimulasi anak usia batita. Semoga ulasan di atas dapat memberikan gambaran pada parents mengenai pentingnya sensori integrasi yah.

Oleh, Tiza Meidrina, S.Psi dan Tim Rumah Dandelion

Referensi:

Buchner, T., Fortuna, J., & Lindsay, N. (2014). Sensory Integration Interventions used by Pediatric  Occupational Therapists for Children Diagnosed with Autism Spectrum Disorder: A Systematic Review.

Proske, U., & Gandevia, S. C. (2012). The proprioceptive senses: their roles in signaling body shape, body position and movement, and muscle force. Physiological reviews, 92(4), 1651-1697.

Texas Departement of Family and Protective Service. Strategies for Caring for Children with Sensory Integration Issues. Retrieved from extensiononline.tamu.edu/online_course_material

Thelen, A. Multisensory experiences and their impact on memory performance. Maîtrise: Univ. Genève, 2011

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>