ParenTeam!

By Rumah Dandelion

Halo calon orangtua! Sudah berjalan berapa minggu kehamilannya? Semakin dekat dengan waktu perkiraan kelahiran rasanya bukan makin tenang tapi kok malah makin cemas ya? Di satu sisi makin cemas apakah semua hal yang perlu dipersiapkan sudah siap atau belum. Sedangkan di sisi lain tidak sabar ingin cepat-cepat bertemu dengan sang buah hati. Apa saja sih yang perlu dipersiapkan calon orangtua? Selain perlengkapan bayi, tentu saja calon orangtua harus menyiapkan diri dengan ilmu dan informasi seputar parenting. Salah satu aspek penting untuk menjalani parenting yang sukses adalah kekompakan dengan pasangan atau Rumah Dandelion menyebutnya dengan ParenTeam!

Sebagai suami-istri, calon orangtua juga harus memiliki kesamaan visi misi tentang nantinya mau membina keluarga yang seperti apa. Nilai-nilai pengasuhan apa yang mau diajarkan ke anak serta bagaimana cara mengajarkannya. Banyak orangtua yang tidak mendiskusikan hal ini di awal kehamilan, tapi justru memilih ah lihat nanti aja enaknya gimana. Memang ada hal-hal tertentu yang bisa dibahas nanti, tapi tidak ada salahnya juga untuk membahas dan membuat kesepakatan dari sekarang. Kenapa harus sekarang? Justru sekarang adalah saat yang tepat, di saat calon orangtua masih bisa berdiskusi dengan leluasa tanpa terganggu tangisan anak bayi, tanpa rasa lelah karena kurang tidur akibat si bayi yang senangnya mengajak main di malam hari, dan tanpa beban ekstra lainnya.

Apa saja yang perlu didiskusikan? Sebelum bayi lahir setidaknya ada tiga (3) topik besar yang sebaiknya sudah ada kesepakatan antar calon orangtua ini.

1. Peran ibu dan bapak yang ingin dijalani

Masing-masing pihak, si suami dan si istri besar dari dua keluarga yang berbeda dan memiliki kebiasaannya masing-masing. Umumnya, tiap orang memiliki pandangan tentang bagaimana peran ibu bapak yang ingin dijalani dengan belajar dari orangtuanya masing-masing. Karena si suami dan istri memiliki orangtua yang berbeda, jadi wajar saja bila masing-masing memiliki pandangan yang berbeda. Nah, hal inilah yang perlu didiskusikan dan disepakati. Misalnya si suami inginnya si istri menjadi ibu rumah tangga yang bertanggung jawab penuh atas pengasuhan anak tanpa bantuan orang lain yang non keluarga. Sedangkan si istri, ingin mengurus anak dan berkarya sebagai pribadi sehingga akan membutuhkan bantuan orang lain seperti orangtua, tante, atau babysitter. Masalah peran-peran seperti inilah yang perlu didiskusikan.

2. Bagaimana mengatasi konflik yang akan muncul

Ketika nanti bayi lahir, tantangan baru akan muncul. Umumnya tantangan akan datang dari keluarga besar (seperti banyaknya saran dan anjuran dari orangtua tentang mengasuh anak yang mungkin berbeda dengan pola pengasuhan yang ingin diterapkan oleh si orangtua baru), masalah antar suami istri (misal istri yang merasa suaminya kurang membantu dalam mengurus bayi  atau suami yang merasa terlalu banyak dikritik istri setiap kali mengurus bayi), dan tantangan di lingkungan sosial seperti pertemanan dan pekerjaan (misal kesulitan mengatur waktu antara ingin berkumpul bersama teman-teman tapi waktu ketemu yang seringkali berbenturan dengan waktu tidur bayi). Ketika masalah sudah muncul, dengan banyakna hal yang harus dipikirkan seringkali orangtua baru kesulitan untuk menyelesaikan tantangan-tantangan tersebut dengan kepala jernih. Oleh karena itu tidak ada salahnya didiskusikan dari sekarang. Misalnya, kalau nanti si nenek keukeuh nyuruh cucunya di kasi susu formula aja biar gendut gimana? Padahal kita maunya anak nanti ASI eksklusif.

3. Pembagian tugas mengurus bayi

Bayi baru lahir kebutuhannya tidak banyak. Sehari-hari hanya butuh ganti popok, menyusu, disendawakan, tidur, dan diajak bermain. Sedikit kan? Iya! Tapi siklusnya sangat pendek, dalam artian 24 jam bisa tidak berhenti gitu terus. Menyenangkan, tapi di sisi lain juga sangat melelahkan. Ditambah lagi dengan bayi baru yang belum terbentuk dengan baik waktu biologisnya sehingga bisa terjaga semalaman sedangkan orangtua butuh untuk tidur dan beristirahat agar siap beraktivitas esok harinya. Semua ini bisa diatasi dengan kerja sama dan kesepakatan antar ibu-bapak. Misal, kalau malam hari anak bangun, yang menyusui ibu dan yang menyendawakan adalah bapak. Atau kalau bapak bekerja dan ibu di rumah, ketika bapak pulang, tolong pegang bayi dulu sementara ibu punya waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga atau sekedar bebersih diri. Yang penting ada pengaturan yang disepakati berdua!

Semua orangtua pasti ingin anaknya bahagia. Dan kebahagiaan anak, terutama sekali datang dari kebahagiaan orangtuanya. Karena ketika bapak ibu bahagia, emosi dan nuansa bahagia ini pun akan sangat mudah dirasakan oleh anak. Begitu juga ketika bapak dan ibu sedang merasa tertekan. Anak, bahkan bayi baru lahir pun, peka sekali dalam merasakan emosi tersebut dan juga ikut merasa tertekan yang seringkali diekspresikan dalam bentuk kerewelan bayi.

So, team up parent-to-be! And create your own ParenTeam!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>