Ngga Boleh, Itu Punyaku! (Balita Posesif)

By Orissa Anggita

Siapa disini yang punya anak toddler? Setujukah dengan poster di atas? Anak toddler memang bisa jadi ‘posesif’ ya. Posesif sama mamanya, posesif sama rumahnya, posesif sama mainan-mainannya. Kalau lagi main bersama anak seumuran, familiar deh celotehan macam “Ga boleh! Ini kan punya Aku!!” Tapi terus giliran anak lihat mainan punya temannya yang dia suka, langsung deh lupa sama apa yang sedang dimainkan dan minta (atau langsung rebut?) mainan temannya. Lalu giliran temannya ganti yang lain, lah, dia ikutan mau itu juga. Hahaha…Klasik!

Kalau lagi playdate sesama toddler, memang harus expect akan ada episode rebut-rebutan atau dorong-dorongan demi mainan. Yah namanya juga toddler, completely normal. Selain ke orangtua atau pengasuhnya, mereka mulai punya attachment ke barang-barang. Ayo siapa yang anaknya kemana-mana harus bawa boneka atau guling atau bando kesayangan? Kemampuan untuk bangun kelekatan ini bagian dari tahap perkembangan emosi yang sehat kok, jadi jangan buru-buru dianggap sesuatu yang buruk. Apa lagi ya yang buat batita sulit sharing? Hmmm…Mereka masih egosentris, belum bisa lihat sudut pandang dan kebutuhan orang lain. Tahap perkembangannya memang seperti itu, yang mereka pahami cuma apa yang mereka mau. Mereka mungkin mulai paham konsep kepemilikan, tapi belum cukup matang untuk bedakan ada barang miliknya, milik orang lain, dan milik publik yang bisa dipakai sama-sama. Mereka juga lagi masa-masanya ingin menunjukkan ke’aku’annya dan suka mengetes batasan (“apa yang akan terjadi kalau aku begini ya?”).

So adjust your expectation. Berharap toddler buat sharing itu kayak kita berharap mereka bisa baca buku atau tulis namanya sendiri. Bukannya tidak mungkin sama sekali sih, tapi akan susaahhhh. Sharing itu bukan tugas yang sederhana. Untuk bisa sharing, anak harus punya sense of self dan paham kepemilikan, anak harus lebih dulu merasa kalau apa yang mereka butuhkan sudah terpenuhi dan baru bisa pikirkan tentang kebutuhan orang lain, anak harus mengerti arti bergiliran dan kenal waktu (“baru sebentar atau sudah lama ya aku pakai ini?”), dan juga anak mesti mengembangkan kesabaran dan kontrol diri untuk mau belajar menunggu dan tidak asal rebut.

Buat toddler, kita bisa expect mereka bermain paralel, ada di ruang yang sama dan mungkin sebelahan, tapi masing-masing sibuk sendiri. Sharing butuh empati, yang mulai muncul di usia 3-4 tahun dan semakin berkembang di usia 5-6 tahun. Sebelum itu, anak cenderung berbagi karena memang dikondisikan begitu oleh orang dewasa.

Lalu, kalau memang toddler belum bisa sharing, mesti tetap diajarkan kah? Oh pastinya! Seperti segala hal lain, kalau kita mau mereka jadi anak yang ……. (isi sendiri) tentu harus mulai diajarkan sedari kecil dan konsisten.

Jangan paksa anak buat sharing kalau memang dia belum mau. Tanya dulu “Nak, temennya boleh ga pinjem mobil-mobilan kamu?” kalau dia jawab “ga boleh” ya hargai itu. Jangan direspon “ih kok kamu pelit sih”. Bilang aja “oh kamu belum mau pinjemin ya. Nanti kalau udah mau bilang ya, seru juga loh main sama-sama.” Kalau dipaksa, anak bisa berpikir bahwa kebutuhan dan keinginan dia tidak sepenting anak lain. Itu malah nantinya bisa jadi buat anak merasa tidak secure dan kesal. Beri waktu sampai dia merasa siap untuk meminjamkan. Sebaliknya, misal anak kita mau pinjem punya temannya, ajarkan untuk minta ijin dulu. “Ini bukan punya kamu, jadi harus tanya dulu. Kalau ternyata ga boleh dipinjem, ga boleh marah ya. Tadi juga kan kamu belum mau kasih pinjem dan ga dipaksa kan?” So they know it works both ways. Kalau sudah dikasih pinjam oleh temannya, kita sebagai orangtua harus coba kasih pengertian juga agar anak tidak lantas memonopoli dan menganggap barang teman sebagai hak miliknya dia. Begitu pula di tempat publik, ajarkan bahwa ada aturan sosial yang harus dia ikuti. “Ini bukan punya kamu ya, jadi harus gantian. Kalau mau pakai lagi, nanti bisa setelah kakak ini main..oke?” Yup, jadi anak yang lebih besar bukan berarti harus selalu mengalah loh. 

Biar lebih smooth, ada baiknya sebelum playdate, yang jadi tuan rumah lakukan persiapan. Ajak anak memilih mainan mana yang mau disimpan biar tidak dipegang-pegang temannya, dan mana yang boleh dipakai sama-sama. Kalau anak sudah tenang karena tahu barang kesayangannya ‘aman’, hopefully dia lebih bisa santai untuk sharing. Bisa juga kita minta anak yang mau datang ke rumah untuk bawa mainannya sendiri. Anak kecil suka tergoda kalau lihat mainan baru dan yang bukan punya dia. Kalau saling tergoda, bisa jadi lebih gampang untuk dorong mereka buat sharing. Teknik lain, bisa juga pakai timer. Saat bunyi, itu tandanya mesti bergantian mainan, supaya tiap anak punya kesempatan coba main macam-macam mainan. Siapkan juga mainan yang  bisa dipakai sama-sama (lego atau masak-masakan), walau tidak menjamin juga kalau kepingannya banyak terus mereka tidak akan rebutan sama sekali.

Playdate itu bisa jadi ajang observasi buat ortu dan arena belajar buat anak. Kita bisa liat apa anak kita itu seringnya jadi tukang rebut, jadi korban, atau mau berbagi? Anak perlu bimbingn untuk belajar sharing. Belajar bahwa kalau mereka jadi tukang rebut, lama-lama tidak ada yang mau main sama mereka. Belajar kalau mereka tidak mau mainan mereka pindah tangan terus, maka perlu belajar bilang ‘ga’ atau ‘nanti dulu’. Belajar kompromi, kerja sama, belajar kalau sharing itu bisa buat waktu bermain bisa jadi lebih menyenangkan (daripada berantem terus malah tidak bisa main sama sekali kan?). Tapi misal masih rebutan juga, orangtua bisa ambil mainannya dan simpan sementara.

Supaya lebih terbiasa sharing, anak juga mesti lihat dari orang-orang sekitarnya. Orangtua harus jadi panutan (selalu ini sih ya). Kalau kita punya makanan, tawarkan ke anak. Kalau anak mau pakai kacamata kita, kasih tapi minta dia untuk ijin dulu. Kasih penjelasan kalau kita lagi sharing makanan dan mau kasih pinjam barang kepunyaan, karena ingin buat sesuatu yang baik dan menyenangkan orang lain. Mainlah exchange game. Tanya ke anak apa kita boleh pinjam mainan dia, dan sebagai gantinya dia juga boleh pinjam atau mainkan barang kepunyaan kita (fair enough right?). Bagi dia, bisa jadi krincingan itu sama berharganya dengan hp atau cincin kita.

Berikan pemahaman ke anak tentang kepemilikan, mana yang punya dia, punya mama papa, punya public, dan apa artinya itu. Ini yang kadang orangtua suka lupa, termasuk saya. Contoh pengalaman dengan anak saya, pas mau rearrange tempat simpan boneka atau mainannya dia, suka tidak bilang sama Ara (berasa punya saya sendiri soalnya), atau kalau mau pakai laptop suami, saya main ambil terus tidak ijin (karena berpikir pasti boleh). Alhasil Ara (yang ternyata sangat observer), protes “Itu tempatnya ga disini mama, itu kan punya Ara” atau “itu kan punya papa, mama ga boleh pakai”. Kena batunya deh saya. Mungkin anak saya bingung karena di satu sisi saya meminta dia untuk selalu ijin atau bilang dulu kalau mau ambil barang orang, tapi saya sendiri tidak. Anak balita memang masih sulit melihat bahwa aturan tidak selalu hitam putih, dan memang belum saatnya sih. Jadi kita sebagai orangtua yang lagi-lagi mesti aware apa yang kita ajarkan pada anak, and make sure they see that their parents do it too.

Kesimpulannya, jangan langsung paksa anak buat sharing, tapi kondisikan situasi dan pupuk karakter anak jadi anak yang suka berbagi. Because sharing is caring.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>