Newly Weds 101

By Nadya Pramesrani

Berpacaran sekian waktu lamanya, mengenal karakteristik pasangan dengan baik dan akhirnya yakin dan memantapkan diri untuk menikah serta menghabiskan waktu sepanjang hidup bersama pasangan. Menikah lalu seperti di dongeng-dongeng jaman dulu, happily ever after. Kalau di dongeng sih diceritakan perjuangan untuk bahagia itu di periode sebelum menikah ya, ketika sudah menikah, dongeng selesai dan katanya happily ever after. Di dunia nyata? Tet tot! Justru perjuangan dan usaha yang sebenarnya baru dimulai setelah pesta pernikahannya selesai.

Cinta bukan hanya “rasa”, melainkan juga mencakup saling pengertian, kerja sama dalam mencapai tujuan bersama, toleransi terhadap kekurangan pasangan dan keluarga besarnya, serta kesabaran untuk mencapai kondisi perkawinan yang diharapkan. Cinta juga melibatkan komitmen untuk selalu menjaga keutuhan perkawinan. (Adriana Ginanjar – Psikolog Perkawinan, 2013)

 

Menikah tidak hanya masalah cinta dan rasa, tapi juga usaha dan komitmen. Sayangnya, banyak pasangan muda zaman sekarang yang melupakan atau bahkan tidak mengetahui tuntutan apa yang akan mereka hadapi ketika sudah menikah. Tidak heran sekarang ini angka perceraian terus meningkat setiap tahunnya (Menurut data dari Badan Pusat Statistik, periode pengumpulan data tahun 2012 – 2015).

Jadi apa saja yang harus dilakukan oleh pasangan baru menikah untuk bisa melalui 1-3 tahun pertama dengan baik? Duvall & Miller dalam teorinya tentang Family Life Cycle mengatakan bahwa pasangan suami istri & keluarga memiliki tahap perkembangan sendiri, dimana tiap tahapnya pasangan memiliki tugas perkembangan yang harus diselesaikan agar bisa mencapai kondisi perkawinan dan keluarga yang sehat serta bahagia.

Untuk pasangan baru menikah (di periode 1-3 tahun awal perkawinan), Duvall & Miller mengemukakan bahwa beberapa tugas perkembangan yang harus diselesaikan oleh pasangan adalah:

  1. Membina hubungan dan menetapkan peran suami – istri

Banyak pasangan yang lupa untuk berdiskusi dan sama-sama membuat kesepakatan tentang bagaimana peran suami dan peran istri yang akan dijalani dalam perkawinan mereka. Suami istri ini masing-masing berasal dari keluarga yang berbeda, sehingga sangat wajar bila masing-masing memiliki pandangan dan harapan yang berbeda tentang peran suami dan istri. Misal suami yang berharap istrinya tidak bekerja dan menjadi ibu rumah tangga penuh, tentu akan berkonflik bila kemudian si istri ingin bekerja. Atau istri yang berharap suaminya juga turut serta dalam mengurus rumah seperti menjaga kebersihan atau memperbaiki kerusakan yang terjadi, tentu akan berkonflik bila si suami ternyata memiliki persepsi bahwa mengurus rumah adalah tanggung jawab istri karena dulu dia melihat pengaturan seperti itu yang terjadi antar kedua orangtuanya. Apa pun peran yang akan dijalankan suami istri, seyogyanya dibicarakan di awal pernikahan dan disepakati bersama agar dapat meminimalisir konflik di kemudian hari.

  1. Menyiapkan dan beradaptasi dengan kehamilan

Hamil adalah hal yang membawa kebahagiaan dan sangat dinantikan. Namun tidak jarang juga ditemui pasangan yang justru berkonflik dan mengalami stress tingkat tinggi ketika istri sedang hamil. Komunikasikan dan diskusi serta sama-sama belajar mempersiapkan diri menjadi orangtua adalah beberapa hal yang dapat dilakukan pasangan dalam beradaptasi dengan kehamilan.

  1. Adaptasi dan menjalin hubungan yang baik dengan keluarga asal pasangan

Menikah dengan pasangan, berarti menikah juga dengan keluarga besarnya. Namun memang masalah dengan keluarga pasangan merupakan masalah klasik yang tak lekang oleh waktu. Tahap paling dasar untuk menghadapinya adalah memahami hal-hal yang terkait dengan keluarga asal pasangan, antara lain nilai yang dianut, pola interaksi dan komunikasi dalam keluarga, pembagian peran dalam perkawinan orangtua, dan penerapan nilai-nilai agama/adat. Keluarga besar dapat ikut berperan dalam menciptakan kebahagiaan perkawinan seperti menjadi tempat bertanya dan mengajarkan kebiasaan positif pada anak-anak, namun bisa juga menjadi sumber stress karena terlalu banyak ikut campur. Karena keluarga besar tidak mudah dijauhi atau dihindari 100%, maka pasangan perlu bijaksana dan kompak dalam menghadapi situasi tersebut.

Perkawinan yang bahagia bukan sesuatu yang datang dengan sendirinya, tapi merupakan hasil dari usaha yang dilakukan terus menerus sepanjang hidup. Selamat membina keluarga bahagia!

 

Sumber:

Ginanjar, A. (2013). Kompromi dua hati: Bersama pasangan menikmati perkawinan bahagia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama

Duvall, L. M. & Miller B. C. (1985). Marriage and Family Development. Il: Harper Collins College Div.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>