Menyiapkan Jadi Kakak

By Orissa Anggita

Bagi orangtua, kelahiran anak tentu jadi momen yang menyenangkan dan dinanti-nanti. Namun buat anak yang lebih tua dan akan jadi kakak, ini bisa jadi suatu perubahan yang membingungkan. Di satu sisi mereka mungkin mengagumi dan menyayangi adiknya, serta takjub mengamati proses dari adik di perut sampai benar-benar bisa mereka lihat. Di sisi lain, mungkin juga ada saat-saat mereka merasa cemburu atau kesal. Bagaimanapun juga, kehadiran adik membuat perubahan besar dalam dinamika keluarga. Rutinitas jadi berbeda, perhatian dan waktu untuk bermain dengan mereka menjadi berkurang.

Kecemburuan kakak ke adik baru rasanya tidak mungkin dielakkan sama sekali, bahkan jika sang kakak sendiri yang meminta pada orangtua untuk punya adik. Meski demikian, kecemburuan ini bisa diminimalisasi. Apa saja yang bisa dilakukan orangtua untuk menyiapkan kakak menyambut kelahiran adik?

Selama Masa Hamil

Persiapan pertama, beri tahu kakak kalau ibu sedang hamil dan dia akan menjadi kakak. “Nanti semakin lama adik akan semakin besar, dan perut mama akan semakin besar. Terus lahir deh. Dulu kakak juga di perut mama loh..”  Kapan sebaiknya kakak dikasih tau? Kurang lebih memasuki trisemester dua, di saat resiko keguguran sudah menurun. Saat ini pun perubahan tubuh ibu sudah mulai terlihat, jadi anak lebih mudah paham, dan menunggunya pun tidak terlalu lama sampai adik lahir. Apalagi kalau kakaknya masih usia toddler / preschooler, dikasih tahu mau punya adik bisa-bisa dipikir saat itu juga (atau besok). Anak saya (3.5 tahun) pernah komentar “Kenapa sih ma adik ga lahir-lahir? Kan di dalam ga ada mainan. Adik boleh kok pinjem mainan Ara..”

Persiapan kedua, baca-baca buku cerita seputar kelahiran adik, agar mulai terbayang situasinya. Ceritakanlah kalau adik nanti lahir, belum bisa langsung diajak main. Adik mungkin berisik, karena adik baru bisa menangis. Adik belum bisa makan minum, baru bisa minum susu dari payudara ibu atau dari botol. Beri pengertian, “nanti kakak ajarin yaaa.. dulu kakak juga begitu, apa-apa nangis, belum bisa ngomong, belum bisa makan sendiri, belum bisa jalan.. tapi lama-lama bisa. Nah nanti bantuin mama papa ajarin adik yah”  Beri pemahaman pula bahwa karena adik baru bisa sedikit, jadi masih akan butuh banyak bantuan orang dewasa dan akan sering digendong.

Persiapan lain yang dapat dilakukan orangtua:

  • Ajak kakak memilih nama adik.
  • Ajak kakak berbicara dan memegang perut ibu untuk merasakan gerakan adik, serta ajak kakak ke dokter agar lebih terasa nyata bahwa mudah mencerna bahwa adik benar-benar ada.
  • Ajak kakak memilih baju, mainan, dan barang-barang miliknya yang bisa dan boleh dipakai adik.
  • Bila kakak selama ini tidur bersama orangtua dan nantinya akan diminta untuk tidur di kamar sendiri, lebih baik pemisahan kamar dilakukan sebelum adik lahir agar tidak terkesan terusir karena kehadiran adik.

 

Setelah Lahir

Atur waktu kenalan dengan adik

Saat pertama kali mempertemukan kakak dengan adik, sebaiknya ciptakan situasi yang netral misalnya adik sedang tidur di boks bayi, bukan sedang menyusu atau digendong ibu. Hal ini untuk memperlihatkan ke kakak bahwa kehadiran adik bukan ancaman terhadap kedekatan dirinya dengan ayah ibu. Terutama, bagi anak yang belum disapih pada saat adiknya lahir.

Buat Kakak Senang

Biasanya di momen kelahiran, orang-orang lebih fokus untuk memberi hadiah bagi bayi yang baru lahir. Kado hal yang sangat konkrit dan sangat terlihat jelas terutama untuk anak usia dini. Ia bisa dengan jelas membandingkan adik dapat banyak kado sedangkan ia tidak. Ada baiknya juga kakak diberi satu atau dua kado, ucapan selamat atas peran barunya sebagai kakak.

Libatkan kakak dalam pengasuhan adik

Pada saat orangtua menggantikan popok atau memandikan, biarkan kakak ikut melihat dan membantu. Misalnya dengan meminta tolong kakak untuk ambilkan baju, popok, minyak telon, atau tissue. Bila orangtua sedang melakukan massage untuk bayi, beri kesempatan kakak ikut memijat, ajarkan caranya agar bisa mengatur kekuatan dan tidak menyakiti adik. Bila orangtua sedang mau ke kamar mandi, minta tolong kakak untuk menjaga dan memberi tahu missal adik menangis (pastikan kakak juga sudah cukup besar untuk ditinggal sendiri tanpa pengawasan dan adik di boks terpisah). Bila adik menangis, ajak kakak menghibur misalnya dengan membacakan buku atau bernyanyi. Semakin terlibat kakak dalam pengasuhan adik, ia semakin merasa dipercaya dan tidak diabaikan.

Pertahankan rutinitas sebisa mungkin

Sebisa mungkin, rutinitas kakak tidak terlalu banyak berubah agar ia lebih cepat beradaptasi dengan kelahiran adik. Misalnya rutinitas berangkat sekolah atau waktu membaca bersama dengan ibu setiap malam. Sebagian anak ketika adik baru lahir, bisa terjadi regresi (perkembangannya tampak mundur, misal yang tadinya sudah tidak ngompol atau sudah berhenti mengemut jari jadi seperti itu lagi, atau yang tadinya sudah mandiri tiba-tiba jadi mau nempel terus lagi ke ibu atau menjadi sangat menuntut butuh ini itu). Semakin sedikit rutinitas yang berubah akan membuat anak menjadi lebih nyaman dan meminimalisasi masalah perilaku.

Kakak sudah besar ya!

“Kamu kan sudah jadi kakak, makan sendiri ya. Mama suapin adik, karena adik kan masih kecil. Malu ah sama adik kalau kakak juga masih disuapin.” Orangtua perlu berhati-hati agar tidak mengeluarkan ucapan seperti ini, yang dapat menjadi bumerang karena kakak merasa kehadiran adik menjadi beban dan tuntutan berlebih padanya. Lebih baik katakan “kakak sudah 4 tahun. Anak 4 tahun itu sudah cukup besar untuk makan sendiri. Ayo coba latihan ya.” Dengan demikian, terlepas dari apakah ia punya adik atau tidak, memang akan diminta untuk lebih mandiri.

Tumbuhkan rasa bangga sebagai kakak dan rasa sayang ke adik

Kalau adik melakukan sesuatu yang lucu, orangtua dapat mengatakan “hihihi siapa dulu dong kakaknya”. Kalau kakak bersikap manis, misal saat adik bangun dia menyapa “hai adek..ini kakak!!” berilah pujian “wah kakak baik sekali…sayang adik ya”. Ajak pula kakak untuk menyanyikan lagu-lagu tema keluarga yang menyatakan semua saling sayang dan bahwa kasih sayang mama papa tidak terbatas, cukup untuk semuanya.

Quality time

Tetap sediakan waktu main sama kakak, waktu adiknya sedang tidur maupun sedang bangun. Hal ini agar kakak tidak berpikir bahwa orangtuanya baru mau main dengannya saat adik tidur, namun semua dapat main bersama-sama. Sementara itu, perlu juga quality time sama kakak berdua (kakak dengan ayah atau dengan ibu) serta bertiga (kakak ayah ibu, tanpa adik). Bayi baru lahir akan tenang bila kebutuhan dasarnya terpenuhi (menyusu dan tidur). Di masa-masa awal, lebih penting untuk mempertahankan kelekatan dan membantu kakak yang sedang mengalamani salah satu perubahan terbesar dalam hidupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>