Menumbuhkan Empati Sejak Dini

By Nadya Pramesrani

Sekarang ini, menumbuhkan empati sejak dini, bahkan kepada anak-anak usia TK sudah menjadi kebutuhan utama. Terlebih lagi ketika sekarang ini banyak sekali kita temui kasus-kasus bullying bahkan di anak usia Sekolah Dasar. Bullying dapat terjadi salah satunya juga karena ketidakmampuan anak berempati terhadap temannya.

Empati adalah kemampuan seseorang untuk berespon terhadap permasalahan dan situasi orang lain dengan tepat. Dengan berempati, maka seseorang akan mampu mengenali emosi diri dan meregulasi emosi tersebut, memahami emosi orang lain, melihat permasalahan dari sudut pandang orang lain, serta memiliki keinginan untuk membantu.

Empati adalah kemampuan yang dimiliki seseorang sejak bayi, namun Hoffman (2005) mengemukakan bahwa sama seperti kemampuan kognitif dan psikososial anak yang mengalami perkembangan seiring bertambahnya usia, kemampuan anak untuk berempati juga memiliki tahapan perkembangannya sendiri.  Dalam teorinya, Hoffman mengemukakan bahwa perkembangan empati terjadi dalam 5 tahap, yaitu:

  1. Newborn Reactive Cry

Pada tahap ini, bayi baru lahir sudah mampu bereaksi atas emosi yang dimunculkan oleh bayi atau orang lain di sekitarnya. Meski belum mampu secara mandiri meregulasi emosi atas distress yang dialami, bayi sudah mampu menunjukkan distress sebagai bentuk reaksinya terhadap lingkungan. Pernahkan Anda menemui kondisi “tangisan yang menular”? Ketika sekumpulan bayi dikumpulkan dalam ruangan yang sama, dan ada 1 bayi yang menangis, maka bayi lain juga akan terpicu untuk ikutan menangis? Reaksi ikutan menangis tersebut yang menggambarkan kemampuan bayi berempati di tahap pertama ini.

  1. Egocentric Empathy

Anak mulai memasuki tahap ini di usia 1 tahun hingga usia 2 tahun. Di tahap ini, kemampuan empati yang ditunjukkan anak sebatas pada kemampuannya mengenali distress atau ketidaknyamanan yang dialami diri sendiri dan adanya usaha aktif untuk meregulasi diri atau mencari ketenangan. Meski distress dialami anak karena melihat anak lain yang sedang menangis, di tahap keinginan untuk membantu belum dimunculkan anak. Ia masih berpusat pada dirinya sendiri, bahwa ketika ia merasa tidak nyaman, ia bisa melakukan sesuatu untuk mengurangi rasa tidak nyaman tersebut.

  1. Half-Egocentric Empathy

Tahap perkembangan empati ini biasanya mulai dimasuki anak usia 2 tahun. Anak mulai mengenali distress yang dialami diri sendiri dan orang lain, serta muncul keinginan untuk membantu. Namun, kemampuan empati yang melihat permasalahan dari sudut pandang orang lain belum mampu dilakukan oleh anak usia 2 tahun. Akibatnya apa? Ketika ia berusaha membantu anak lain, maka bantuan yang diberikan akan disesuaikan dengan kebiasaan dirinya sendiri. Misal ketika si A melihat si B menangis, A anak akan memberikan mainan kesayangannya kepada B atau mengajak B yang menangis ke ibu si A, karena yang A ketahui, mainan kesayangan dan ibunya adalah 2 hal yang dapat menenangkan dia ketika memangis. A belum bisa melihat dari sudut pandang orang lain bahwa ketika B menangis seharusnya B diajak ke ibunya sendiri. Yang menjadi kunci penting di tahap ini adalah meski anak belum mampu melihat dari sudut pandang orang lain, keinginan untuk membantu sudah dimunculkan.

  1. Veridical Empathy

Di akhir usia 2 tahun atau usia 3 tahun, biasanya anak mulai memasuki tahap ini. Bahwa ia mulai bisa mengenali emosi diri sendiri, emosi orang lain, memiliki keinginan untuk membantu dan bantuan yang diberikan disesuaikan dengan kebutuhan temannya. Anak tidak lagi berdasarkan pada kebiasaannya, namun sudah mulai bisa melakukan percobaan trial and error ketika membantu teman. Anak mulai bisa menunjukkan perilaku alternatif dalam membantu teman, bahwa ketika bantuan pertamanya tidak berhasil dalam menenangkan, maka ia akan mencoba memberikan bantuan bentuk lain yang ia bisa. Hal ini disebut Hoffman sebagai corrective feedback, yang bahkan sampai seseorang dewasa masih dimanfaatkan dalam berempati.

  1. Empathy Beyond Situation

Perkembangan kemampuan empati anak akan semakin meluas tidak hanya kepada temannya secara individu tapi juga kepada lingkungan dan komunitas secara umum. Bahkan anak juga mulai mengembangkan kemampuan “membaca” emosi orang lain terlepas dari reaksi langsung yang ditampilkan. Misal anak mulai mampu berempati kepada temannya yang sedang sakit diopname di rumah sakit, meski secara tampilan fisik temannya masih tersenyum.

Perkembangan kemampuan empati pada anak perlu difasilitasi dan dikembangkan oleh orangtua dan guru dan lingkungan sekolah terutama melalui contoh dan pengalaman. Tanamkan nilai-nilai empati dan kepedulian sosial melalui permainan, cerita, dan diskusi orangtua-anak. Orangtua menjadi contoh bagi anak dan berikan pengalaman serta penguatan positif (reward dan reinforcement) atas perilaku anak yang menunjukkan empati dan kepedulian sosial.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>