Mengenalkan dual bahasa sejak dini, ya atau tidak ?

By Rumah Dandelion

Selama di Kelas Bayi Bermain, banyak sekali yang bertanya “Boleh ngga sih untuk mengajarkan dual bahasa sejak dini?” atau “Kapan sih mengajarkan dual bahasa yang paling tepat?” Nah selama pengalaman saya sebagai seorang Ibu, untuk mengajarkan dual bahasa dirasa paling enak saat anak saya sudah fasih membuat kalimat dengan bahasa utama di rumah, misalnya saat anak saya dapat berbicara jelas melalui setiap kata yang ia ucapkan, pembendaharaan kata yang cukup kaya, dan ia tahu bagaimana menyampaikan keinginannya dengan mudah. Jadi saya termasuk orang yang memilih untuk mengasah bahasa utama yang dipakai di rumah kepada anak terlebih dulu, baru mengajarkan bahasa kedua. Tapi kepikiran juga sih, bagaimana kalau saya tinggal di sebuah negara yang basisnya tidak dengan bahasa Indonesia (bahasa Ibu)? Contohnya adalah salah satu sepupu saya yang melahirkan dan membesarkan anaknya di negeri singa. Selama ia mengasuh anaknya, ternyata si anak memilih untuk menggunakan bahasa lokal sebagai bahasa utama daripada bahasa Indonesia.

 

Penasaran dengan hal ini, saya pun mencoba mencari tahu mengenai membesarkan anak dengan dual bahasa. Akhirnya menemukan salah satu jurnal yang dibuat oleh Krista Byers-Heinlein dan Casey-Lew Williams  di tahun 2013 yang berjudul Billingualism in the Early Years: What the Science Says. Menarik sekali ternyata hasilnya. Kedua peneliti ini mempelajari mengenai kemampuan bahasa anak dari beberapa sudut pandang, baik dari segi psikologi klinis anak, pendidikan, atau pun dari teori perkembangan anak. Ada beberapa hal yang mereka temukan dalam penelitian itu bahwa setiap anak dilahirkan mampu untuk mempelajari bahasa, termasuk bahasa yang dipakai pada lingkungan mereka tinggal dengan mudah. Jadi sangat mungkin sekali untuk mengajarkan anak lebih dari satu bahasa. Sejalan dengan hal ini, Nemeth, K.N. (2012) dalam bukunya juga melihat bahwa anak sejak lahir memiliki kemampuan untuk mempelajari dua bahasa dan dengan mempelajari dua bahasa tidak menyebabkan keterlambatan dan kebingungan.

 

Melihat penelitian yang ditemukan ternyata tidak sejalan dengan apa yang dirasakan oleh para orang tua pada umumnya. Sering sekali isu mengajarkan dua bahasa dianggap membuat kemampuan bahasa anak menjadi terhambat. Keterlambatan memang dapat terjadi jika cara orang tua menerapkan dual bahasa dengan tidak benar. Perlu ditekankan bahwa untuk mengajarkan dual bahasa ini setidaknya orang yang mengasuh anak tersebut benar-benar dapat menguasai kedua bahasa yang diajarkan dan yang terpenting kedua bahasa yang diajarkan harus sering kali di-ekspose ke anak.

 

Berikut merupakan hal-hal yang dapat dilakukan orang tua jika ingin mengajarkan dual bahasa kepada anak sejak dini:

  1. Teknik satu orang-satu bahasa

Anak dapat diajarkan untuk menggunakan bahasa tertentu dengan orang tertentu. Hal ini dapat mengurangi kebingungan dan mengurangi frustasi anak dalam mempelajari bahasa. Konsistensi diperlukan dalam hal ini sehingga membantu anak terus berlatih dengan beberapa bahasa. Misalnya, menggunakan bahasa Indonesia dengan Ibu dan selalu menggunakan bahasa Inggris dengan Bapak. Penting diingat bahwa saat mengenalkan dua bahasa berbeda, Ibu dan Bapak harus benar-benar menguasai bahasa tersebut (tidak setengah-setengah). Karena menurut Krista Byers-Heinlein dan Casey-Lew Williams, dual bahasa menjadi sangat tidak realistis jika orang tua menginginkan anak mampu menggunakan dual bahasa tetapi di dalam keluarga tidak ada yang fasih dalam penggunaan bahasa kedua.

  1. Perbanyak kualitas dan kuantitas bahasa yang diajarkan

Sedari kecil anak mempelajari bahasa, baik satu bahasa maupun dua bahasa, melalui indera pendengaran dan juga interaksi dengan orang lain. Semakin sering mendengar bahasa itu maka semakin sering anak mengenali kata-kata tertentu. Kemampuan ini diperkuat pula melalui aktivitas dengan penggunaan bahasa yang ia pelajari. Maka dari itu, anak harus lebih sering diajak aktif untuk mendengar bagaimana cara mengucapkan kata, bagaimana merangkai kata-kata tersebut dalam kalimat, ataupun bagaimana ejaan yang benar. Bagi para orang tua,  disarankan untuk menghindari mengajarkan bahasa melalui televisi khususnya tayangan yang minim dengan bahasa (percakapan). Terlebih lagi, menurut Barbara Zurer Pearson (2008), untuk mengajarkan bahasa kedua kepada anak, orang tua perlu memberikannya secara aktif minimal 20% dari jam ia bangun. Misalnya anak beraktivitas selama 14 jam dalam sehari, maka ia perlu mendapatkan pengenalan bahasa kedua secara intensif kurang lebih selama tiga jam. Ini pun perlu memperkenalkannya dengan aktif, bukan melalui screen time atau video.

  1. Cari teman sepermainan yang memiliki bahasa yang sama

Jika sebuah keluarga tinggal di tempat yang mayoritas bukan bahasa Ibu, maka orang tua perlu mencari teman sepermainan yang memiliki bahasa Ibu yang sama. Contohnya ketika anak tumbuh dan besar di negeri yang menggunakan bahasa Inggris (bahasa Indonesia menjadi bahasa minoritas), maka untuk melatih anak bisa berbicara bahasa Indonesia diperlukan konsistensi berlatih bahasa Indonesia dengan salah satu orang tua dan juga anak diajak berlatih menggunakan bahasa Indonesia dengan teman sepermainan yang menggunakan bahasa Indonesia pula. Hal ini dikarenakan dalam mempelajari bahasa menjadi lebih terasah jika aktif dipakai. Sama saja saat orang dewasa harus tinggal di sebuah desa yang memiliki bahasa yang asing, pasti lama-kelamaan dapat berkomunikasi dengan bahasa setempat karena terus mendengar dan berlatih terus menerus menggunakan bahasa setempat. Practice makes perfect, right?

 

Walaupun beberapa orang tua ingin sekali melihat anak mereka dapat fasih dengan berbagai bahasa, perlu dilihat pula dengan kemampuan perkembangan anak yang lain seperti perkembangan emosi anak, perkembangan sosial, serta bagaimana perkembangan kognitif mereka. Hal ini harus sejalan dan seimbang sesuai dengan tahapan usianya. Orang tua dapat menunda untuk mengenalkan dual bahasa kepada anak jika dirasa anak terganggu dalam perkembangannya. Menurut Krista Byers-Heinlein dan Casey-Lew Williams, bahasa merupakan hal yang dapat dipelajari kapan pun termasuk jika anak sudah besar nanti. Maka jangan pernah paksakan anak belajar lebih dari satu bahasa jika mereka tidak nyaman dengan menggunakan bahasa tersebut ataupun ternyata di dalam keluarga kemampuan bahasa mereka juga sangat minim pada bahasa kedua yang diajarkan.

 

Jadi, bagaimana pilihan Ibu dan Bapak? Kapan sekiranya ingin mengajarkan dual bahasa kepada Anak?

 

Sumber:

 

Nemeth, K. N. (2012). Many Languages, Building Connections: Supporting Infants and Toddlers Who are Dual Language Learner. NC: Gryphon.

Genesee, Fred. (2007). A short Guide to Raising Children Billingually. McGill University.http://www.psych.mcgill.ca/perpg/fac/genesee/A%20Short%20Guide%20to%20Raising%20Children%20Bilingually.pdf.

Pearson, Barbara Zurer. (2008). Raising a Bilingual Child. US: Diversified Publishing.

Heinlein, Krista Byers & William, Casey Lew. (2013). Billingualism in the Early Years: What the Science Says. http://www.learninglandscapes.ca/images/documents/ll-no13/byers-heinlein.pdf

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>