Mengenalkan Anak pada Duka

By Rumah Dandelion

Dalam menjalani kehidupan tentulah tidak semua hal berjalan seperti yang kita inginkan. Terkadang ada hal-hal yang terjadi di luar dugaan dan keinginan seseorang. Tidak terkecuali pada hal-hal yang melibatkan emosi kesedihan atau perasaan kehilangan. Dalam kehidupan, kita mengenal konsep duka sebagai suatu perasaan susah dan sedih hati. Keadaan ini dapat terjadi kapan saja dan dikarenakan oleh berbagai hal. Seperti kehilangan kerabat terdekat, perang, kehilangan benda kesayangan, putus pekerjaan dan lainnya. Namun, apakah parents menyadari bahwa duka tidak hanya dapat terjadi pada orang dewasa? Terkadang anak-anak juga dihadapkan dengan keadaan ini, seperti halnya ketika ada kerabat yang meninggal, teman yang sakit atau sesederhana ketika binatang peliharaan anak mati. Lantas, bagaimana orangtua mengenalkan anak pada duka?

Kubler-ross (1969, dalam Olasinde, 2012), menjelaskan bahwa dalam menghadapi kehilangan terdapat lima tahap yang dihadapi oleh seseorang. Pertama, denial yaitu ketika seseorang menolak akan kehilangan dari orang lain. Kedua, anger yaitu ketika seseorang marah dan terus bertanya “mengapa harus saya yang mengalaminya?”.Ketiga, bargaining atau menawar yaitu kondisi pengandaian seperti “andaikan saya menemaninya pergi kemarin, pasti kejadiannya tidak akan seperti ini.” Selanjutnya, depression yaitu tahap ketika seseorang merasa tidak bergairah dalam menjalani kehidupan, bentuknya dapat dengan menangis, mengurung diri atau mengisolasi diri. Tahap terakhir adalah acceptance merupakan tahap ketika seseorang menerima dan dapat berdamai dengan  keadaan yang dialaminya. Namun, tahap ini dapat berbeda antara satu individu dengan individu lainnya. Pada anak-anak, tahap ini berjalan dengan proses yang berbeda. Pada anak-anak mereka hanya mengerti sebagian dari konsep duka dan kehilangan. Papalia dan Feldman (2012) menjelaskan bahwa pemahaman anak usia 5-7 tahun mengenai konsep ini dapat terepresentasi dengan dua hal yaitu, universal (semua hal yang ada di dunia ini akan mati) dan nonfunctional (segala fungsi kehidupan berkahir ketika kematian itu datang). Pada anak usia preschool  mereka menganggap bahwa sesutau yang mati, tidak akan tumbuh kembali dan tidak akan bertambah tua.

Beberapa orang mungkin kerap berpikir bahwa dunia anak adalah bermain. Anak tidak mengalami perasaan duka seperti yang dirasakan oleh orang dewasa. Menurut Tremblay dan Israel (1998), pada dasarnya anak juga mengalami duka, hanya saja ekspresi duka anak berbeda dengan orang dewasa. Hal ini terlihat dari perilaku yang ditunjukkan oleh anak. Dalam kegiatan sehari-hari, anak bisa saja tetap terlihat bermain seperti biasanya, meskipun ia juga mengalami kebingungan akan keadaan yang dialaminya.

Kemampuan anak yang belum begitu berkembang dalam mengidentifikasi emosinya juga menjadi hal yang kerap membuat anak tidak dapat mengekspresikan perasaannya. Osterweis, Solomon & Green (1984, dalam Tremblay & Israel, 1998), menjelaskan bahwa hal ini dapat turut membuat anak mengalami masalah somatis dan distress. Dampak psikologis pada anak dapat pula berpengaruh pada akademis anak di sekolah. Menurut Quinn-Lee (2009), anak yang kesulitan dalam mengekpresikan perasaan duka yang dialaminya dapat berdampak pada kesulitan dalam penyesuaian di sekolah. Kesulitan tersebut dapat berupa school phobia, underachievement, masalah kedisiplinan ataupun kesulitan belajar. Hal ini tentunya bila dibiarkan akan berdampak pula pada kehidupan sosial anak. Untuk itu, orangtua memiliki peran yang penting dalam melakukan pendekatan pada anak dalam menghadapi duka. Berikut merupakan beberapa cara yang dapat dilakukan orangtua:

  • Tenangkan anak dan berbicaralah pada anak dengan lemah lembut. Jelaskan pada anak mengenai apa yang terjadi dengan penjelasan yang dapat dipahami anak.
  • Bantu anak untuk berbicara mengenai apa yang ia rasakan. Bisa sambil mengajak anak untuk bermain bersama dan bercerita.
  • Berikan kenyamanan pada anak berupa kehadiran fisik orangtua, seperti pelukan dan rangkulan. Hal ini dapat membuat anak merasa nyaman dan aman bahwa disekitarnya akan selalu ada orang yang menemaninya.
  • Tetap ajak anak melakukan kegiatan sehari-hari. Rutinitas yang anak lakukan dapat membuat perhatiannya akan suatu hal teralihkan. Hal itu perlahan dapat membuat anak menerima dan berdamai dengan keadaan.

Parents, semoga kiat-kiat tersebut dapat membantu dalam mengenalkan anak pada duka ☺

Oleh:

Referensi:

Papalia, D.E. & Feldman, R.D. (2012). Experience human development. New York: McGraw-Hill Companies, Inc

Quinn-Lee, L. (2009). School social work with grieving children in the twin cities (Order No. 3387297). Available from ProQuest Dissertations & Theses Global. (304932092). Retrieved from http://search.proquest.com/docview/304932092?accountid=17242

Tremblay, G.C & Israel, A.C (1998). Children’s adjustment to parental death. Clinical Psychology:  science and practice. 424-438

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>