Mengenal Metode Montessori

By Rumah Dandelion

Bagi sebagian orangtua, mungkin tidak asing lagi mendengar kata Montessori. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak sekolah menawarkan metode montessori sebagai kurikulum yang digunakannya. Tidak hanya itu, berbagai macam workshop, peralatan atau buku tentang montessori juga dapat dengan mudah ditemui di berbagai tempat. Lantas, sudahkah parents mengetahui apa itu metode montessori? Pada artikel ini, Rumah Dandelion akan membahas lebih dalam mengenai metode Montessori. Yuk kita cari tahu lebih lanjut.

Mengenal lebih dekat mengenai metode montessori tidak akan terlepas dari sejarah pencetus metode ini yaitu, Maria Montessori. Ia merupakan seorang doktor yang berasal dari Italia. Metode ini dicetuskannya pertama kali, setelah ia melakukan pengamatan terhadap anak-anak berkebutuhan khusus di desa tempat tinggalnya. Melalui metode Montessori, anak-anak berkebutuhan khusus belajar dengan menggunakan alat-alat sederhana yang dapat secara langsung digenggam dan diamati bentuk fisiknya oleh mereka. Setelah melakukan pengamatan berkala pada anak-anak tersebut, Maria Montessori menemukan bahwa terdapat perubahan yang signifikan pada perkembangan anak-anak yang diajarkannya dalam berbagai aspek tumbuh kembang (Danner dan Fowler, 2015).

Pada awal metode ini dikembangkan oleh Maria Montessori, ia memiliki keyakinan bahwa setiap anak memiliki kebebasan untuk memilih pembelajaran yang mereka sukai. Metode Montessori memiliki tujuan utama yaitu memberikan pengalaman yang menyenangkan pada anak dalam proses belajar dengan kebebasan anak untuk memilih apa yang disukainya. Selain itu, metode ini juga berusaha untuk menyiapkan anak-anak yang tangguh dan siap menghadapi keadaan di masa depannya (Wolf, 1995).  

Lalu, apa yang membedakan metode montessori dengan metode lainnya? Salah satu hal yang menjadi pembeda metode montessori yaitu peran guru di kelas. Bila pada metode lain, guru yang berperan untuk memilihkan kegiatan tertentu bagi anak, namun berbeda dengan metode montessori. Pada setting kelas montessori, guru berperan menjadi fasilitator pada kegiatan belajar anak. Anak bebas memilih kegiatan yang ia sukai sesuai dengan ketertarikannya (Lillard, 2013).

Hal ini dipercayai oleh Maria Montessori akan mengembangkan bakat alami anak sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik tanpa paksaan dari orang dewasa.  

Hal yang kerap menjadi pertanyaan parents adalah “lantas bagaimana cara anak belajar bila ia diberikan kebebasan untuk memilih apa yang ia sukai?” Sejak metode ini dikembangkan, Maria Montessori percaya bahwa anak-anak memiliki apa yang disebut dengan absorbent mind, yang dapat dipahami bahwa otak anak bekerja seperti spons. Mereka menyerap informasi dengan mudah dari lingkungannya. Maria Montessori juga menambahkan bahwa setiap anak memiliki sensitive period tersendiri. Sensitive Period tersebut dapat diartikan sebagai suatu tahap perkembangan ketika anak dapat dengan mudah menerima dan mempelajari kemampuan tertentu. Hal ini juga yang menjadi dasar dari pemikiran bahwa orang dewasa tidak dapat memaksakan seorang anak untuk dapat membaca, menulis ataupun menguasai kemampuan lainnya ketika anak belum berada pada sensitive period tersebut.  

Pada metode montessori, terdapat lima aspek yang diajarkan pada anak melalui materialnya yaitu, practical life, sensorial, bahasa, matematika dan budaya. Pada setiap aspek tersebut, terdapat material-material tersendiri yang digunakan. Material-material tersebut dirancang dengan memenuhi syarat diantaranya, material harus menarik bagi anak, melibatkan pendekatan multisensori, berurutan dari prinsip sederhana ke kompleks dan self-correcting. Metode montessori berusaha memulai pembelajaran dari hal yang paling dasar dan dekat dengan kehidupan anak yaitu practical life. Metode montessori meyakini, bila anak telah mampu mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan kesehariannya seperti, menuang air, menarik restleting, membuka botol, maka akan lebih mudah bagi anak untuk mempelajari hal yang lebih rumit. Secara bertahap, anak pun akan dikenalkan dengan material yang berkaitan dengan sensori, bahasa, matematika dan dilanjutkan dengan budaya. Salah satu hal yang ditulis oleh Maria Montessori bahwa ketika anak mempelajari berbagai aspek tadi sedari kecil, anak akan mengembangkan kepribadiannya, beradaptasi dengan lingkungannya, percaya diri dan bertanggung jawab akan dirinya dan masyarakat dunia.

Hal lain yang perlu parents  ketahui mengenai metode montessori yaitu setting kelas yang terdiri dari rentang usia anak yang berbeda.

Keyakinan Maria Montessori akan setting kelas tersebut didasari bahwa rentang usia yang berbeda pada satu kelas akan menghasilkan respon pembelajaran yang beragam. Setiap anak pun akan mendapatkan pengalaman yang lebih kaya dengan setting kelas yang ada. anak-anak yang lebih dewasa akan belajar mengambil peran dan tanggung jawab untuk membantu anak-anak yang lebih kecil. Sebaliknya, anak-anak yang lebih kecil dapat belajar melalui proses observasi dan imitasi terhadap anak-anak yang lebih dewasa. Meskipun demikian, di beberapa sekolah dengan metode montessori di  Indonesia, tetap terdapat pemisahan kelas untuk rentang usia tertentu.

Berdasarkan penjelasan singkat mengenai metode montessori di atas, dapat kita pahami bahwa metode montessori terus berkembang melalui filosofi yang mengakar kuat  dari metode ini. Terlepas dari berbagai material dan prestis sekolah montessori yang berkembang di Indonesia, hal yang menjadi dasar adalah metode ini mengikuti perkembangan alami anak tanpa memaksakan ketertarikan tertentu pada anak. Sehingga anak pun berkembang sesuai dengan bakat alami yang mereka dan tetap memiliki ruang untuk menjadi diri mereka sendiri. Oleh karena itu, sudah menjadi tugas kita sebagai orangtua untuk dapat menghargai perkembangan anak dan terus berusaha menyediakan lingkungan terbaik bagi anak untuk belajar dan berkembang. Sebagaimana yang Maria Montessori katakan tentang anak-anak “Teach me to teach myself”. Anak-anak berusaha untuk mengeksplorasi kemandiriannya dan mempercayai bahwa diri mereka bisa melakukan suatu hal.

Nah parents, itu tadi penjelasan singkat mengenai metode montessori. Semoga artikel ini bisa memberikan gambaran dan menjawab pertanyaan parents tentang metode montessori yah..

Referensi:

Danner, N., & Fowler, S. (2015). Montessori and non-Montessori early childhood teachers’ attitudes towards inclusion and access. Journal of Montessori Research, 1(1), 28-41

Lillard, A. S. (2013). Playful learning and Montessori education. American journal of play, 5(2), 157

Wolf, A.D. (1995). a parents guide to the montessori classroom. Hollidaysburg: Penn-Mont Academy.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>