Mengenal Lebih Dekat tentang Post Partum Depression

By Rumah Dandelion

Menjadi orangtua pastilah merupakan impian bagi setiap pasangan yang telah menikah. Ketika pasangan telah dikaruniai buah hati, hal ini merupakan suatu tahapan dan pengalaman yang pastinya tidak ternilai harganya. Meskipun demikian, kehadiran sang buah hati di tengah-tengah keluarga terkadang tidak selalu menjadi masa yang indah dan menyenangkan bagi setiap pasangan. Mungkin sebagian orangtua bertanya, mengapa bisa demikian? Dalam artikel ini, Rumah Dandelion akan membahas mengenai suatu kondisi yang kerap dialami ibu yang baru melahirkan yaitu, post partum depression.

Mungkin mendengar istilah post partum depression bukanlah sesuatu yang umum di telinga orangtua. Namun sebenarnya, post partum depression merujuk pada suatu kondisi yang dialami oleh orangtua yang baru saja melahirkan dan dikarakteristikan dengan perubahan kondisi fisik, psikologis, biologis dan emosi seseorang. Hal ini juga mengakibatkan adanya adaptasi secara personal maupun interpersonal pada diri orangtua (Rai, Pathak & Sharma, 2015). Gejala dari kondisi ini yaitu, perasaan bersalah yang berlebihan, tidak bisa merasakan senang dan kelelahan yang berlebihan.  Meskipun kondisi ini umum terjadi pada wanita, namun menariknya sebagian kecil populasi pria juga mengalami hal tersebut.

Pada ibu yang baru melahirkan terdapat kondisi lain yang sering disebut dengan baby blues. Kondisi ini ditandai dengan ketidakstabilan emosi, mudah marah, mudah menangis, cepat marah, gangguan tidur dan gangguan nafsu makan. Kondisi ini, hanya terjadi dalam jangka waktu yang singkat dan dapat diatasi dengan sendirinya. Namun, bila kondisi ini tidak tertangani secara baik dapat berlanjut dengan post partum depression.

Sebagai salah satu gejala dari post partum depression yaitu, hilangnya keinginan untuk bersosialisasi, tim Rumah Dandelion mengadakan survey untuk mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh ibu untuk kembali dapat bersosialisasi dengan lingkungannya. Berdasarkan hasil dari 255 responden, 66% membutuhkan waktu 0-3 bulan untuk kembali dapat bersosialisasi kembali. Sedangkan 34% sisanya membutuhkan waktu lebih dari 4 bulan untuk dapat kembali bersosialisasi dengan lingkungan sosialnya.

Sebenarnya, apa yang membuat adanya perbedaan dari tiap-tiap individu dalam hal adaptasi setelah melahirkan yah parents? Menurut Leigh dan Milgrom (2008), terdapat tiga hal besar yang dapat memengaruhi kondisi ini. Pertama, prenatal stressor yaitu kecemasan yang terjadi saat atau sebelum kehamilan. Kedua, personal resources  yaitu keadaan personal yang ada dalam diri seorang individu seperti rendahnya self esteem, pola pikir yang negatif dan minimnya social support. Terakhir predisposing factors  seperti penghasilan rendah, pendidikan rendah, adanya sejarah depresi dan usia menikah yang terlalu muda. Post partum depression merupakan suatu kondisi yang penting untuk ditangani segera. Hal ini dikarenakan dampak yang dapat terjadi dari kondisi ini baik pada ibu maupun anak. Leigh dan Milgrom (2008), menyebutkan dampak dari kondisi ini diantaranya kedekatan emosional  antara ibu dan anak yang berkurang, ketidakmampuan ibu dalam merawat diri sendiri dan terganggunya well-being ibu sehingga memengaruhi keadaan bayi.

Oleh karena itu, penting bagi orangtua, calon orangtua atau lingkungan sosial untuk memberikan perhatian pada kondisi ini bagi ibu yang baru melahirkan. Cara paling ampuh untuk mencegah hal ini yaitu, pemberian dukungan sosial bagi ibu. Hal ini sangat penting untuk dapat menjaga kondisi fisik dan emosional ibu. Selain itu, cara sederhana seperti melakukan aktivitas fisik berupa bernapas dalam-dalam, meditasi dan menutup mata sejenak, dapat turut menurunkan tingkat kecemasan. Cara lain seperti tetap menjaga asupan nutrisi yang dibutuhkan ibu dan beristirahat sejenak setelah mengurus anak dapat juga menjadi rekomendasi bagi ibu yang mengalami gejala baby blues ataupun postpartum depression.

Nah Parents, itulah ulasan singkat mengenai postpartum depression. Bagaimana pun anak merupakan malaikat kecil yang Tuhan anugrahkan di keluarga kita. Oleh karena itulah, sudah menjadi tanggung jawab kita untuk dapat menjaga titipan Tuhan tersebut dengan sebaik-baiknya dan selalu memberikan dukungan terbaik bagi pasangan ☺

Oleh: Tiza Meidrina dan Tim Rumah Dandelion

Referensi :

Leigh, B., & Milgrom, J. (2008). Risk factors for antenatal depression, postnatal depression and parenting stress. BMC Psychiatry, 8, 24. http://doi.org/10.1186/1471-244X-8-24

Rai, S., Pathak, A., & Sharma, I. (2015). Postpartum psychiatric disorders: Early diagnosis and  management. Indian Journal of Psychiatry, 57(Suppl 2), S216–S221. http://doi.org/10.4103/0019-5545.161481

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>