Mengembangkan Kemandirian pada Anak

By Rumah Dandelion

Setiap orangtua pasti merasa senang dan bangga ketika anaknya mulai belajar untuk mengerjakan aktivitas sehari-hari seperti makan, minum, mandi atau membereskan tempat tidur sendiri. Tidak dapat dipungkiri, sebagai seseorang yang selalu melihat perkembangan anaknya dari waktu ke waktu, tentulah adanya perubahan dalam diri anak terkait kemandiriannya akan sangat membuat orangtua merasa senang.

Kemandirian memang merupakan hal yang kerap dibahas dalam pada masa perkembangan anak usia dini. Bentuk kemandirian pada anak-anak usia dini memang berkaitan dengan bagaimana anak belajar untuk mulai melakukan aktivitas sehari-hari di rumah (Santrock, 2012). Pada usia 18 bulan sampai 3 tahun, pada umumnya anak mulai mencoba untuk belajar indepeden dan melakukan segala sesuatu tanpa meminta bantuan orangtua.

Dalam tahap perkembangan psikososial menurut Erikson, pada usia 18 bulan sampai 3 tahun, seorang anak belajar untuk mengendalikan lingkungannya sendiri. Perkembangan ini juga ditandai dengan kemampuan anak yang semakin banyak mengetahui berbagai kosa kata. Pada masa ini, anak akan lebih banyak menyampaikan keinginannya akan suatu hal. Di saat bersamaan, ketika segala keinginan anak dapat tercapai, anak akan merasa powerful (Papalia & Feldman, 2012). Untuk itulah, orangtua perlu mencermati kembali bahwa tidak semua keinginan anak dapat terealisasikan. Pada saat ini, orangtua memiliki tanggung jawab untuk memberikan batasan yang tepat terhadap keinginan anak tersebut. Dengan hal ini, anak akan belajar bahwa ada kalanya tidak semua keinginannya harus dipenuhi.

Pada usia ini, seorang anak juga mulai belajar bahwa ia memiliki kemampuan yang sebelumnya belum dapat ia lakukan. Kemampuan itu seperti memakai baju sendiri, mengikat sepatu, bermain boneka dan lainnya. Dalam masa ini, orangtua memang memiliki peran untuk memberikan kesempatan pada anak dalam eksplorasi berbagai kemampuan yang dimiliki mereka. Terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan orangtua dalam mengembangkan kemadirian anak, diantaranya yaitu:

  1. Memberikan rutinisitas sehari-hari pada anak. Cara ini dilakukan agar anak belajar untuk memiliki tanggung jawab terhadap aktivitas sehari-hari. Aktivitas tersebut dapat berupa membereskan selimut setelah tidur, sikat gigi di pagi hari atau membereskan mainan sehabis dimainkan.
  2. Ketika anak belajar hal baru, maka biarkan ia mecoba hal tersebut terlebih dahulu barulah orangtua memberikan bantuan. Sebagai contoh: ketika anak belajar memakai baju sendiri, biarkan ia melakukannya di satu sisi terlebih dahulu. Ketika orangtua melihat ia mulai kesulitan, barulan orangtua membantu anak.
  3. Memberikan tantangan pada anak. Cara ini dilakukan untuk menstimulasi anak dengan hal baru. Sebagai contoh: anak diminta untuk menaruh buku di rak buku atau menuang sereal kesukaannya sendiri ke dalam mangkuk.
  4. Mendukung ide dan kreativitas anak. Ketika anak memiliki ide akan suatu hal, orangtua diharapkan untuk mendukung ide tersebut dan tidak langsung menolak atau memarahinya. Bila orangtua terlalu membatasi ide anak, akan membuat anak merasa malu dan selalu tergantung pada orang lain. Sebagai contoh: ketika anak-anak terlihat suka menggambar atau mencoret-coret, orangtua dapat memberikan ruang dan peralatan yang sesuai dengan minat anak tersebut.
  5. Memberikan kesempatan bagi anak untuk memilih. Ketika anak diberikan kesempatan dalam memilih suatu hal, maka anak akan belajar untuk membuat keputusan dalam hidupnya. Hal ini akan sangat berguna ketika ia dewasa kelak. Hal kecil yang dapat dilakukan orangtua yaitu seperti memberi kesempatan anak untuk memilih baju yang ingin dipakainya atau sarapan yang ingin ia makan hari ini.

Dari beberapa kiat-kiat yang telah dijelaskan tersebut, pada dasarnya orangtua tetap memiliki kewajiban untuk memberikan contoh yang baik bagi anak dalam hal kemandirian. Ketika anak melihat orangtua melakukan sesuatu, tentulah ia akan belajar untuk mengikutinya. Orangtua perlu mengingat bahwa anak merupakan peniru yang paling ulung, untuk itu selalu berikan contoh terbaik bagi anak kita.

Ditulis oleh Tiza Meidrina

Referensi:

Papalia, D.E. & Feldman, R.D. (2012). Experience human development. New York: McGraw-Hill Companies, Inc

Santrock, J.W. (2012). Educational psychology fifth edition. New York: McGraw-Hill Companies, Inc

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>