Mengatasi Picky Eater

By Rumah Dandelion

Semua orangtua pasti ingin ya anaknya mau makan apa saja yang dihidangkan. Tapi, tidak jarang anak malah pilih-pilih makanan. Ada yang menolak makanan baru, menolak tekstur tertentu (misal tekstur kenyal), atau menolak makanan tertentu (misal, tidak pernah mau makan jagung atau tempe). Bahkan, ada yang menolak semua makanan di kelompok tertentu (seperti menolak semua jenis karbohidrat baik itu nasi, kentang, mie, gandum), yang membuat anak beresiko malnutrisi.

 

Kenapa ya anak bisa jadi picky eater? Pertama-tama, perlu dicek dulu kondisi fisik apakah sedang sakit (sariawan, sakit perut, gigi berlubang, dll). Bila terus berlanjut, bisa jadi karena:

  • Suasana makan tidak menyenangkan
  • Isu sensori, anak sensitif di indera peraba, pengecapan, atau penciumannya sehingga memilih makanan dengan tesktur, rasa, atau bau tertentu.
  • Takut makan, ada trauma misalnya pernah menelan duri atau tersedak
  • Anak lupa makan karena terlalu tertarik main, tampak seakan tidak pernah lapar (infantile anorexia)

 

Apa yang bisa orangtua lakukan untuk mengatasi picky eater? Berikut beberapa tipsnya.

  • Sabarrrr

Ini dulu kuncinya. Jangan marahi anak kalau tidak mau makan/ tidak habis makannya. Fyi, picky eater paling banyak usia 1-3 tahun, memuncak di usia 2 tahun dimana ada yang namanya neophobic stage (anak menolak sesuatu yang tidak familiar baginya).

 

  • Buat suasana makan menyenangkan

Suasana makan yang positif penting lho unyuk membuat anak suka dan mau makan. Bayangkan deh, kalau kita disuruh makaaannnnn terus, padahal belum lapar. Dipaksa coba makanan baru dan harus habis, padahal bagi kita rasanya aneh. Penelitian menunjukkan dampak negatif bila orangtua memaksa anak makan. Ingat kalau makan itu sesuatu yang anak akan dan harus lakukan seumur hidupnya, jadi harus bisa mereka nikmati, sambil mengajarkan kebiasaan makan yang benar. Makan bersama keluarga, serta menyajikan makanan dengan bentuk lucu atau menggunakan peralatan makan yang menarik, bisa membuat anak lebih senang.

 

  • Percaya bahwa anak punya alarm tubuhnya sendiri

Anak perlu belajar konsep lapar dan kenyang. Makan saat lapar, berhenti setelah merasa kenyang (ada pula yang mengajarkan berhenti sebelum kenyang). Nah, agar anak punya regulasi diri untuk tahu kapan dia butuh makan, orangtua perlu mempercayai ucapan anak. Saat anak bilang belum lapar atau sudah kenyang, hindari tanggapan seperti ‘hah baru sedikit udah kenyang?’ ‘masa belum lapar? Kan daritadi belum makan nasi?’ Percaya bahwa anak tidak akan kok membiarkan dirinya kelaparan, makan itu kebutuhan dasar, survival instinct. Ahli gizi Sharon Donovan menyatakan “trust your child’s ability to eat what and how much they need. The best thing parents can do is to be gatekeepers what food comes into the house, let the child decide what she is going to consume, and allow for occasional treat.”

 

  • Hindari memberi camilan saat anak menolak makan

Sebaiknya ada jadwal yang teratur untuk makan, misalnya 3x makan besar (pagi, siang, malam) dan 2x snack. Saat anak menolak makan pagi, jangan diberi makanan pengganti seperti susu atau keju, tunggu hingga jam makan berikutnya. Kalau selalu diberi makanan pengganti, wajar bila sudah kekenyangan duluan saat jam makan. Dari survey yang dilakukan Rumah Dandelion tentang picky eater (total 284 responden), ditemukan bahwa di kelompok orangtua yang merasa anaknya picky eater, sebanyak 47% memberi camilan pengganti  saat anak menolak makan.

 

  • Batasi waktu makan 30 menit

Saya suka melihat orangtua (atau lebih seringnya lagi, para eyang) mengejar-ngejar anak untuk makan. Bisa sampai 1-2 jam sekali makan. Itu rasanya sudah tidak baik untuk semuanya ya. Anaknya juga pasti sudah malas, yang menyuruh makan frustrasi, makanannya pun sudah tidak akan enak karena ngendal atau dingin. Oleh karena itu, sebaiknya batasi waktu makan 30 menit, habis tidak habis. Bila anak fokus, 30 menit itu cukup kok. Bila orangtua konsisten, anak lama-lama akan belajar bahwa memang ada waktunya untuk makan, sehingga tidak berlama-lama.

 

  • Porsi mini

Porsi mini bisa mengurangi rasa cemas anak saat makan. Bila melihat terlalu banyak makanan, anak bisa jadi sudah overwhelmed karena merasa harus menghabiskan semuanya. Lebih baik jika kurang tambah, daripada banyak lalu tidak habis. Untuk anak 3 tahun ke atas, sudah mulai bisa diajak menentukan sendiri porsi makannya.

 

  • Libatkan anak dalam proses persiapan makan

Anak yang terlibat dalam proses persiapan makan lebih tidak pilih-pilih makanan. Hal ini sejalan dengan hasil survey Rumah Dandelion. Pada kelompok orangtua yang merasa anaknya bukan picky eater, 33% melibatkan anak dalam pemilihan menu/bahan atau proses memasak. Sementara di kelompok orangtua yang merasa anaknya picky eater, jumlah yang menjawab demikian sebesar 10%.

 

  • Kenalkan makanan baru 10-15x

Variasi makanan perlu agar indera pengecapan anak terasah dan anak tidak bosan. Namun jangan langsung mengenalkan semua yang baru di satu waktu, tetap perlu ada rasa familiar di hidangan yang disajikan. Saat menyajikan makanan baru, sadari bahwa belum tentu anak mau langsung cicip ya. Anak butuh paparan berulang untuk me’register’ data tentang karakter si makanan baru, ya bentuk, tesktur, rasa, atau baunya. Tetap menawarkan, tetap jangan memaksa. Mungkin awalnya anak hanya melihat, pelan-pelan menyentuh, menyentuh, menjilat, menggigit, kemudian memakannya. Berapa kali percobaan? Menurut Laura Jana, M.D, penulis buku Food Fight, sebaiknya 10-15x! Sementara itu, dari hasil survey Rumah Dandelion, ternyata kebanyakan orangtua agak mudah menyerah ketika memperkenalkan makanan baru pada anak (lihat diagram).

  • Orangtua sebagai model pemakan segala

Preferensi makanan anak ternyata dimulai dari rahim. Jika saat hamil ibu mengonsumsi berbagai macam makanan, lebih mudah bagi anak untuk menerima makanan saat masa MPASI karena anak bisa mengenal rasa melalui ASI. Saat anak mulai makan makanan padat, ortu juga sangat perlu menjadi model. Kalau kita mau anak makan daging, sayur, atau buah, anak pun harus melihat kita menyukai dan menikmati saat memakannya. Be an adventurous eater yourself! Supaya anak juga tidak enggan mencoba makanan baru. Mungkin bagi anak, diminta mencoba pasta atau brokoli sama anehnya dengan kita disuruh coba jeroan, durian, sushi, atau kalajengking goreng. Not everyone dare and willing to eat it.

 

Sharon Donovan menyatakan “A parents response to pickiness can determine how bad the behavior will be and how long it will persist. Don’t let every meal become a battle.”

 

Semangat ya!!

 

Penulis: Orissa Anggita Rinjani, M.Psi, Psi

 

Sumber:

Boquin, M., Donovan, S.M., Lee S., & Smith Simpson, S.  “Mealtime Behaviors and Food Consumption of Perceived Picky and Nonpicky Eaters through Home Use Test” Journal of Food Science Vol 79 Issue 12 November 2014.

 

Cicero, Karen. Picky Eater Strategies.  http://www.parents.com

 

Dewar, Gwen. http://www.parentingscience.com/picky-eaters.html

 

U of I Study Describes Behaviors, Preferences of Picky Eaters. 2015. https://nutrsci.illinois.edu

 

Walker, Kristine. 2015.Picky eating vs Selective Eating Disoder: Why Some Kids Become Food Selective.

http://www.parentherald.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>