Mengajarkan Anak Berpikir Kritis

By Rumah Dandelion

Pernah lihat gambar dibawah ini?

Baby scientific method

Waktu saya pertama kali melihat gambar ini saya tertawa dan berpikir, “ih, ini bener banget!” Secara alamiah manusia sebenarnya memang merupakan makhluk yang memiliki rasa ingin tahu. Dan manusia sudah memiliki kemampuan belajar sejak lahir (Lipsitt, 1969). Akan tetapi, rasa ingin tahu dan kebiasaan berpikir kritis perlu tetap dipupuk sejak kecil karena jika tidak, maka anak-anak akan kehilangan rasa ingin tahu dan semangat belajar yang mereka punya waktu kecil dan mereka cenderung melakukan sesuatu tanpa memikirkan alasannya.

Lalu, mengapa kita perlu menumbuhkan kebiasaan berpikir kritis pada anak? Mengapa anak perlu memikirkan alasan dari tindakannya? Mari luangkan waktu sebentar untuk melihat video di bawah ini.

Video ini berisi tentang seseorang yang melakukan eksperimen sosial terhadap beberapa anak remaja perempuan berusia 12-14 tahun. Si pembuat video menyamar menjadi anak berusia 15 tahun dan mengajak anak-anak perempuan ini bertemu melalui akun media sosial (tentu saja sebenarnya sudah seijin orangtua para remaja ini). Semua anak perempuan ini setuju untuk bertemu dengan orang asing, bahkan ada yang tidak sungkan memberikan alamat rumah pada laki-laki asing yang belum pernah mereka temui sebenarnya.

Ketika seorang anak tidak memiliki kebiasaan memikirkan alasan dari tindakan mereka, mereka cenderung menjadi pengikut, mudah dipengaruhi oleh lingkungan. Dunia tempat kita tinggal sekarang menyediakan banyak sekali informasi yang mudah diakses, masalahnya tidak semua informasi yang tersedia itu benar. Oleh karena itu, kita perlu membekali anak-anak kita dengan kebiasaan untuk mempertanyakan dan memikirkan alasan dibalik semua tindakan.

Lalu bagaimana cara menumbuhkan kebiasaan berpikir kritis pada anak? Berpikir kritis bukanlah kebiasaan dan kemampuan yang bisa muncul secara tiba-tiba. Anak (dan kita) perlu berlatih untuk memikirkan alasan pada hal-hal yang kita temui sehari-hari. Ada beberapa poin yang dapat kita lakukan untuk menumbuhkan berpikir kritis pada anak:

  1. Berikan alasan yang logis pada anak ketika kita meminta dia melakukan sesuatu.
  2. Fasilitasi anak untuk bertanya. Kadang capek ya meladeni pertanyaan anak yang tidak ada habisnya? Tapi ketika kita menjawab: “soalnya udah dari dulu begitu” atau “nanti aja kamu masih kecil jangan tanya-tanya” maka anak akan mulai malas bertanya dan mulai meninggalkan kebiasaan berpikir kritisnya.
  3. Pancing anak untuk mencari jawaban atau solusi alternatif terhadap pertanyaan-pertanyaan mereka. Ketika anak melihat temannya menangis atau berkelahi, coba tanya anak, kira-kira ia akan melakukan apa jika menjadi teman yang menangis?
  4. Ajak anak berandai-andai. Kalau kita punya kebiasaan membaca buku cerita untuk anak, cobalah untuk tidak langsung memberitahukan akhir cerita begitu saja. Tapi coba ajak anak berandai-andai, kira-kira akhirnya si tokoh akan melakukan apa ya? Caranya bagaimana ya?
  5. Libatkan anak pada diskusi-diskusi keluarga. Mempertimbangkan ingin liburan kemana? Coba libatkan anak dalam diskusi. Anak bisa mengusulkan tempat liburan, dan beserta alasan mengapa ia ingin liburan ke tempat tersebut.
  6. Biasakan anak untuk memberi penjelasan terhadap sesuatu. Mengapa ia suka bermain dengan teman tertentu? Mengapa ia suka dengan makanan tertentu? Dengan meminta anak menjelaskan, anak akan terlatih untuk berpikir mengenai alasan.
  7. Ketika anak bercerita, kita dapat bertanya dengan menggunakan metode What, When, Who, Why, How. Dengan demikian, struktur cerita anak akan lebih jelas, dan anak akan terbiasa berpikir lebih runut.
  8. Jangan membatasi berpikir kritis hanya untuk pelajaran sekolah. Berpikir kritis adalah keterampilan untuk hidup. Oleh karena itu, semakin banyak dilatih pada situasi sehari-hari akan membantu anak untuk memiliki kemampuan memecahkan masalah yang lebih baik.

Sumber:

Selamat berpikir kritis

Agstried Elisabeth (Psikolog Rumah Dandelion

https://www.flickr.com/gp/143535668@N08/8Mh0Lc

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>