Mengajak Anak Ke Bioskop, Apa yang Perlu Diperhatikan?

By Agstried Elisabeth

Saya dan suami saya memiliki hobi yang sama, yaitu menonton film. Dan sejauh pengamatan saya banyak juga para orangtua muda yang satu.. (ehem..) generasi (ehem..) dengan kami yang memiliki hobi menonton film, mengingat penuh sesaknya bioskop di akhir minggu dengan pasangan muda (yang terkadang membawa anaknya).

Setiap kali melihat pasangan muda yang membawa anaknya menonton, saya kerap bertanya pada suami kapan bisa bawa anak nonton. Fyi, anak kami baru berusia 2 tahun. Suami tetap teguh pendirian bahwa belum saatnya kami membawa anak kami menonton bioskop. Entah siapa yang diantara kami yang bekerja bergerak dibidang psikologi perkembangan anak (nyengir malu). Secara teori saya paham mengapa sebaiknya kami tidak membawa anak kami menonton bioskop di usia dini, tapi sebagai orangtua muda, saya juga paham, rasanya tidak sabar memperkenalkan banyak hal kepadanya.

Nah, di artikel kali ini saya ingin berbagi dengan orangtua lain yang juga kerap tergoda dalam mengajak anak menonton di bioskop. Apa saja sih, yang harus diingat dari mengajak anak nonton di bioskop? Apa tipsnya supaya kita tidak salah memilih tontonan untuk anak? Dan bagaimana membuat “menonton di bioskop” tidak menjadi aktivitas negatif?

Hal utama yang perlu diingat adalah: Anak dibawah usia 6 tahun masih kesulitan untuk membedakan apa yang nyata atau tidak nyata. Pada tahapan usia di bawah 6 tahun, anak masih belajar dari pengalaman langsung. Melalui apa yang ditangkap indra mereka. Ini berarti mereka selalu percaya, apa yang mereka lihat itu nyata. Jadi percuma rasanya, ketika anak ketakutan menonton film di bioskop dan kita berbisik sepanjang film, memberi tahu bahwa itu Cuma bohongan. Tidak ada bohongan di kepala anak-anak. Pokoknya, apapun yang mereka lihat itu pasti terjadi. Termasuk jika yang mereka lihat adalah dinosaurus raksasa yang sedang mengunyah mobil dengan orang di dalamnya.

Selanjutnya, ingat juga bahwa Bioskop memberikan hal yang dramatis. Dan semakin dramatis sebuah peristiwa, semakin sulit untuk dilupakan. Kita memang membayar untuk mendapat situasi dramatis saat menonton di bioskop kan? Kita suka suasana gelap, sehingga cahaya film semakin terang. Suara yang keras, dan layar yang sangat besar. Semuanya ini tidak pernah kita jumpai di dunia nyata. Jelas apapun filmnya, terasa lebih dramatis ketika ditonton di bioskop. Akan tetapi bagi anak, pengalaman yang dramatis itu akan sulit dilupakan. Itulah mengapa saya kerap mendapat cerita anak yang terus ketakutan dalam gelap setelah menonton di bioskop, atau anak yang mimpi buruk berhari-hari.

Nah, kemudian hal yang perlu menjadi pertimbangan adalah: apakah anak bisa duduk diam selama durasi film ditayangkan? Daya konsentrasi anak masih sangat terbatas. Anak usai 6 tahun baru bisa berkonsentrasi sekitar 15-20 menit saja dalam mengerjakan tugas dan duduk diam. Itupun jika tanpa distraksi. Nah, kira-kira dengan durasi film 90 menit keatas, bisakah anak kita bekerja sama? Jangan sampai nantinya kita yang cranky karena anak bosan ditengah film, dan memilih mondar-mandir naik tangga di dalam bioskop yang gelap. Hehehe…

Hal lain yang tidak kalah penting sebelum memutuskan mengajak anak menonton di bioskop adalah: apakah ceritanya cocok dengan usianya? Saya pernah menonton film yang berjudul “Logan” di bioskop. Film ini banyak adegan kekerasan, yang saya sebagai orang dewasa saja tidak nyaman menontonnya. Bayangkan betapa sedihnya saya ketika melihat di dalam bioskop ada beberapa orangtua yang membawa anak yang jelas dibawah usia peruntukan film tersebut. Oh, tentu saja di banyak situs review film dan situs bioskop disebutkan bahwa film tersebut untuk dewasa. Jika kita tidak yakin apakah anak kita bisa menonton filmnya atau tidak, kita bisa coba cari review di internet mengenai film tersebut, atau bahkan menonton sendiri terlebih dahulu untuk memastikan memang aman bagi mereka untuk menonton.

Lalu, bagaimana jika kita sudah punya anak abege atau remaja dan sudah menonton banyak film di bioskop? Apa yang bisa kita lakukan untuk membuat “menonton film” menjadi sebuah pengalaman berharga? Ajak mereka diskusi. Kaitkan film dengan situasi di dunia nyata. Contoh, setelah menonton film  Inside out, kita bisa diskusi dengan mereka mengenai perubahan emosi dan peristiwa penting yang mereka ingat yang berkaitan dengan emosi tertentu. Atau bahkan film superhero seperti spider-man pun bisa kita jadikan bahan diskusi. Ajak anak membayangkan jika seusia mereka mendapat kekuatan super, apa saja yang akan mereka lakukan? Dan mengapa? Dengan membuka diskusi seperti ini kita bisa semakin mengenal value mereka dan memasukkan value yang kita inginkan dengan cara yang lebih fun

Jadi, selamat menonton 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>