Membesarkan Anak Perempuan yang Tangguh dan Anak Laki-laki yang Lembut

By Rumah Dandelion

Sering kali ketika kita mendengar kata gender identik dengan perbedaan jenis kelamin. Padahal, kedua istilah tersebut adalah dua hal yang berbeda. Jenis kelamin adalah identitas seksual dan bersifat biologis dan terberi, misalnya organ tubuh laki-laki dan perempuan yang berbeda. Sedangkan gender merupakan pembagian peran, fungsi, atau tanggung jawab antara laki-laki atau perempuan yang dipersepsikan atau dianggap pantas oleh masyarakat.

Kita sendiri mempelajari peran tersebut dari kecil, dan sangat mungkin dimulai dari pola asuh orang tua kita. Mungkin terlintas dalam ingatan kita ketika orang tua dulu berkata bahwa anak laki-laki tidak boleh cengeng dan anak perempuan tidak boleh kasar?

Tidak bisa dipungkiri, bahwa sadar ataupun tidak sadar, stereotip gender masih mempengaruhi pola asuh orang tua pada zaman ini. Tuntutan akan peranan laki-laki dan perempuan di masa dewasa menjadi salah satu faktor penyebabnya.

Misalnya saja laki-laki diharapkan akan menjadi kepala atau pemimpin keluarga, maka ia dituntut untuk tampil lebih tangguh dan tidak mudah cengeng. Tidak jarang orang tua cemas dan mulai melarang ketika anak laki-laki mulai terlihat asyik bermain peran melalui permainan boneka atau masak-masakan.

Padahal permainan-permainan tersebut bisa melatih perkembangan kognitif sekaligus juga mengembangkan area emosinya, misalnya dalam hal empati dan keberanian untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan. Pastinya kita ingin dong anak laki-laki kita kelak tumbuh menjadi orang dewasa yang peduli dan peka terhadap keluarga dan lingkungannya kelak.

Sebaliknya perempuan identik dengan sifat yang feminin, maka diharapkan untuk tampil dengan lembut dan manis. Ketika anak perempuan menunjukkan ketertarikan untuk aktivitas fisik seperti memanjat pohon, aktivitas tersebut khas anak laki-laki. Padahal, kegiatan berlari dan memanjat juga diperlukan untuk melatih area motorik dan keseimbangannya.

Untuk dapat berkembang dengan optimal, baik anak laki-laki dan anak perempuan perlu berkembang di segi fisik, sosial, emosi, bahasa, dan kognitif. Ketika orang tua terlalu membatasi aktivitas anak berdasarkan stereotip peranan gendernya, ada resiko bahwa anak tidak mendapat kesempatan untuk berkembang dengan optimal di area-area tersebut, dan pada akhirnya akan beresiko mengalami kesulitan untuk menghadapi tantangan-tantangan di masa dewasanya nanti.

Di dunia yang makin menantang ini, kita perlu membesarkan anak-anak kita untuk menjadi pribadi yang tangguh dan tidak mudah menyerah. Di sisi lain, kita juga berharap mereka tumbuh menjadi pribadi yang peka terhadap dirinya sendiri serta terhadap lingkungannya. Dengan memberikan kesempatan pada anak untuk mengalami berbagai aktivitas tanpa terlalu banyak dibatasi oleh stereotip gender, kita dapat membantu mereka memperlengkapi diri menjadi pribadi dewasa yang siap untuk menghadapi tantangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>