Membangun Kelekatan

By Rumah Dandelion

Tiga bulan pertama merupakan periode kritikal untuk mengembangkan ikatan batin dan kelekatan emosional dengan bayi, yang dapat berdampak jangka panjang pada pembentukan kepribadian dan relasi sosial bayi dengan orangtua maupun teman sebayanya nanti di masa dewasa. Bayi yang kurang memiliki kelekatan dengan orangtua di awal-awal kehidupannya akan lebih sulit membangun kelekatan positif dengan orang lain kelak. Sebaliknya, kelekatan yang baik akan mendukung bayi untuk tumbuh jadi pribadi yang lebih mandiri, berani, dan tidak penuntut. Bayi terlahir dengan serangkaian fitur spesial yang menjadi daya tarik dan mem’program’ siapapun, terutama orangtua, untuk memperhatikan dan mengasihinya: sepasang mata besar dan bulat, tatapan tajam, kulit yang lembut, aroma tubuh yang wangi alami, suaranya yang lucu, dan perilakunya yang menggemaskan. Pasti orangtua seakan tak bosan-bosannya memandangi bayi dan mengamati tingkahnya, bahkan gerakan sederhana pun bisa membuat terpesona. ”Wah lihat ia menguap!” ”Oh lucunya kalau lagi cegukan!”

Yuk kita bahas apa saja yang dapat orangtua lakukan untuk membangun kelekatan dengan bayi, sejak hari kelahirannya?

Inisiasi Menyusui Dini Momen-momen awal setelah kelahiran, saat bayi diletakkan di dada ibu lalu ia mencari payudara dan mulai menyusu meskipun ASI belum keluar, akan menimbulkan kenyamanan dan rasa aman yang luar biasa. Ibu pun akan merasakan dorongan yang sangat besar untuk merawat dan melindungi bayi. Selama kondisi ibu dan bayi sehat, IMD seharusnya dapat dilakukan pasca persalinan normal maupun caesar. Ayah dapat menikmati pula keterikatan kelahiran, dengan mendampingi ibu saat IMD sambil mengelus-elus bayi atau mendendangkan lagu untuknya, serta menggendongnya setelah IMD selesai.

Rooming-in.  Untuk memastikan kelekatan tetap terjalin setelah IMD, mintalah pada tenaga kesehatan untuk berada dalam satu kamar dengan bayi (rooming-in). Hal ini membuat orangtua lebih mudah dan cepat untuk merespon kebutuhan dan tangisan bayi, menenangkannya sebelum tangisannya memuncak. Proses menyusui pun akan lebih mudah. Di samping itu, ibu dengan bayi yang selalu berada di sisinya justru bisa beristirahat dengan lebih tenang, karena tidak perlu bertanya-tanya apa yang sedang dilakukan bayi atau cemas memikirkan bagaimana keadaannya.

Pentingnya sentuhan.  Jika tidak ada masalah medis, orangtua dapat membawa pulang bayi ke rumah di hari ketiga atau keempat setelah lahir. Teruslah membangun kelekatan dengan menyentuh, memandang, menggendong, mengajak bicara, menyanyikan lagu, dan tersenyum kepadanya. Sentuhan adalah cara terbaik untuk menyampaikan perasaan cinta orangtua pada bayi. Dalam gendongan orangtua ia akan merasa aman dan mulai membangun kepercayaan bahwa ibu dan ayah dapat diandalkan untuk menjaganya (baca lebih lanjut manfaat menggedong bayi di sini).

Studi menunjukkan bahwa kurangnya stimulasi sensoris dapat berakibat negatif pada perkembangan sosial-emosional bayi.

Yup, karena sentuhan dan elusan akan memancarkan oksitosin (hormon dengan efek menenangkan) dan prolaktin (penting dalam produksi myelin, pelumas yang memungkinkan gelombang otak mengalir dengan lancar). Maka itu, hambatan dalam perkembangan emosi dapat berdampak pula pada perkembangan intelektual bayi.

Sentuhan juga punya nilai terapis. Kulit adalah organ terbesar dari tubuh manusia dan sangat kaya dengan ujung-ujung saraf. Bayi baru lahir seringkali masih belum sempurna pola pernapasannya, dan belaian akan merangsang bayi untuk bernapas lebih teratur.

Dukungan dan apresiasi. Seiring bertambahnya usia bayi, kemampuan-kemampuannya pun berkembang dan kini ia punya kebutuhan yang berbeda. Ia butuh disemangati dan diberi kepercayaan diri. Bertepuk tanganlah ketika ia membuat mainan berbunyi dengan kibasan tangannya, cium dan peluklah saat ia berhasil berguling dan merayap untuk mendekati orangtua, bersoraklah ketika ia mengeluarkan celotehan pertamanya. Reaksi orangtua yang positif dan heboh akan membuat bayi merasa senang dan bangga pada dirinya sendiri, serta terdorong untuk mengulangi lagi dan mengembangkan keterampilannya.

Nada Positif. Saat berinteraksi dengan bayi, gunakanlah bahasa yang positif dan hindari nada tinggi apalagi berteriak. Walau bayi muda belum mampu memahami kata-kata, ia dapat mengenali nada suara yang ramah atau marah. Ketika ia melakukan tindakan yang orangtua anggap ’nakal’ atau ’salah’, utamakanlah koneksi daripada koreksi. ”Aduh dede, kalau rambut mama dijambak itu sakit dan nanti bisa rontok. Pegang sisir ini aja ya..”

Quality time. Banyak orang tua –terutama ibu kerja- merasa bersalah karena kurang memiliki waktu untuk berinteraksi dengan anak. Padahal yang lebih penting adalah bagaimana mengoptimalkan waktu yang dimiliki untuk membangun kelekatan. Saat bersama bayi, berilah perhatian yang total. Matikan handphone dan laptop, bermain bebas dan mengobrollah dengan bayi –bukan sekedar hadir secara fisik namun pikiran melanglang buana ke pekerjaan atau urusan lain. Lakukan berbagai stimulasi sesuai usia seperti bermain cilukba dan membaca buku. Otak bayi siap berkembang dan mampu untuk belajar, apakah orangtua siap menstimulasinya?

Penulis,
Orissa Anggita Rinjani, M.Psi, Psi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>