Memahami Bacaan dengan Metode STORY GRAMMAR MARKER

By Rumah Dandelion

Di artikel Tips Mengembangkan Kemampuan Pemahaman Bacaan, telah dibahas pentingnya dan apa yang bisa dilakukan orangtua untuk membantu anak mengerti isi bacaan. Kali ini, saya mau share satu metode yang disebut story grammar marker, yang saya pelajari saat mengikuti workshop “Targeting the 5 Pillars of Reading for Dyslexia Remediation”. Menurut saya, metode ini sangat aplikatif dan menarik serta bisa diajarkan pada semua anak, bukan hanya yang terdiagnosa disleksia.

 

Metode ini dikembangkan oleh Maryellen Rooney Moreau, seorang sarjana pendidikan dan terapis linguistik. Penelitian telah membuktikan bahwa metode ini bisa meningkatkan kemampuan pemahaman bacaan dan juga ekspresi lisan anak (Moreau & LaFontaine, 2010; Park dkk, 2013).

 

Setiap cerita pasti memiliki komponen-komponen di dalamnya. Story grammar marker mengajarkan komponen-komponen ini dengan menggunakan simbol-simbol. Simbol ini bisa hanya digambar, tapi para pendidik suka membuatkan boneka seperti gambar berikut. Menarik sekali ya! Jadi sambil diskusi tentang isi cerita, anak bisa sambil memegang boneka ini untuk membantu proses berpikirnya.

Waduh, kok tampaknya susah ya? Tenang..semua ada tahapannya, kita tidak perlu langsung mengenalkan semua komponen kok ke anak. Sebaiknya memang disesuaikan dengan usia serta kemampuan bahasa dan kognitifnya.

 

Dimulai dari yang paling sederhana hanya mengandung 2 komponen cerita, seperti

“Cita sedang main sepeda di taman.”

 

Perlahan makin kompleks:

“Cita sedang piknik di taman. Ia bermain jungkat-jungkit, kejar-kejaran dengan temannya, lalu memakan bekalnya.”

 

“Cita pergi ke taman. Saat selesai bermain dan ingin pulang, ia melihat ban sepedanya bocor. Ia pun bingung bagaimana caranya pulang. Akhirnya ia menelepon mamanya untuk menjemput.”

 

Sampai pada cerita yang mengandung semua komponen secara lengkap.

“Cita sedang bermain di taman bersama teman-temannya. Saat ingin pulang, ia melihat ban sepedanya kempes. Ia pun merasa bingung, dan mulai memikirkan cara agar bisa pulang. Jika berjalan kaki sambil menggiring sepedanya, terlalu jauh. Ia pun mengelilingi taman mencari apakah ada tukang pompa ban. Ternyata tidak ada. Ada temannya menawari memberi tumpangan pulang dengan mobil, tapi ia tidak enak karena rumahnya tak searah. Akhirnya Cita menelepon mamanya minta jemput. Mama pun datang menjemput dan Cita merasa lega. Ia berjanji pada diri sendiri, lain kali akan lebih hati-hati dan memeriksa lebih dulu ban sepedanya sebelum pergi.

Tidak semua cerita alurnya lurus seperti itu, bisa berulang juga. Sepertinya sudah mau sampai akhir cerita, eh muncul tokoh baru dan ada kejadian-kejadian baru lagi.

 

Saat membacakan buku cerita pada anak, orangtua bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang membuat anak berpikir lebih dalam tentang isi ceritanya. “Kenapa Cita bingung?” “Oh karena bannya kempes ya…” “Lalu apa dong yang ia lakukan?”

 

Semakin terbiasa anak untuk melakukan pembahasan isi buku, kemampuan berbahasa dan pemahaman bacaannya pun akan semakin berkembang.

 

Selamat mencoba!

 

Penulis: Orissa Anggita Rinjani, M.Psi, Psi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>