Melatih Ingatan Bayi

By Rumah Dandelion

Beberapa dekade lalu, ilmuwan di bidang perkembangan anak menganggap bayi tidak punya kemampuan mengingat. Itu sebabnya saat dewasa kita tidak punya kenangan menjadi bayi (ada yang menyebutnya sebagai infantile amnesia).  Ingatan awal dari masa kanak-kanak kita biasanya tentang pengalaman yang terjadi setelah usia 3 tahun.  Saya pun begitu sih. Kalau diminta cerita ingatan pertama masa kecil, yang terbayang adalah saat saya mulai masuk kelompok bermain. Walau agak samar dan tidak bisa cerita detail, saya bisa membayangkan bangunan sekolah serta kegiatan yang biasa dilakukan bersama guru dan teman-teman. Kalau untuk apa yang terjadi waktu saya umur 1-2 tahun, mutlak mengandalkan foto. “Oohh..dulu pernah kesini toh…wah pernah main ini ternyata..”

 

Tapi perkembangan ilmu menunjukkan bahwa bayi sebenarnya mampu mengingat, bahkan dari lahir! Bayi baru lahir sudah bisa mengenali suara ibu atau suara lainnya yang diperdengarkan selama di kandungan. Jadi misalnya kita sering menyetel lagu atau membacakan cerita tertentu selama hamil, saat lahir bayi bisa bereaksi terhadap lagu atau cerita tersebut. Luar biasa ya.

Pemahaman tentang ingatan pada bayi semakin melesat setelah penelitian-penelitian yang dilakukan oleh Rovee-Collier (1999). Salah satu penelitian yang dilakukan adalah eksperimen mainan gantung pada bayi usia 2-6 bulan. Bayi ditidurkan di kasur, kakinya diikat tali yang tersambung pada mainan . Ketika kaki bergerak, mainan akan berbunyi. Rovee-Collier membandingkan seberapa sering reaksi menggerak-gerakkan kaki sebelum dan sesudah kaki bayi disambungkan pada mainan. Untuk mengetes apakah bayi mampu mengingat pengalaman ini dan seberapa kuat ingatannya, Rovee-Collier menempatkan kembali bayi di kasur yang sama di beberapa waktu berbeda (2 hari kemudian, 7 hari kemudian, 2 minggu kemudian), namun talinya tidak disambungkan ke mainan . Bila bayi mengingat pengalaman sebelumnya bahwa gerakan kakinya bisa membunyikan mainan, seharusnya frekuensi bayi menggerak-gerakkan kaki menjadi lebih sering dibandingkan awal.

Hasilnya? Ternyata bayi semuda 2 bulan pun sudah mampu mengingat! Kemajuan teknologi pemetaan otak di masa kini pun mendukung hasil penelitian ini, bahwa struktur saraf yang memungkinkan pembentukan memori bisa dibilang sama antara bayi dan orang dewasa. Bedanya, bayi masih terbatas kemampuannya untuk mempertahankan ingatan tersebut dalam jangka waktu lama.

 

Balik ke pernyataan awal tentang ingatan pertama kita. Kalau ternyata bayi bisa mengingat, dan proses memori bayi dan orang dewasa sama, kenapa ya saat dewasa kita tidak mampu mengingat pengalaman waktu bayi? Ternyata, ini bukan karena ingatan itu hilang, tetapi sulit untuk dipanggil kembali karena petunjuk atau pemicu yang menghubungkan dengan kenangan itu tidak ada. If we don’t bring memories to minds, they fade away. Ada yang pernah nonton film Inside Out?  Tokoh utamanya, Railey, lupa bahwa ia pernah punya teman imajiner si gajah Bing Bong, padahal kenangan itu masih tersimpan dalam memori jangka panjangnya.

 

Waktu bayi, kita belum mengenal bahasa, sehingga pembelajaran akan berbagai hal bergantung pada proses inderawi dan banyak mengandalkan petunjuk visual. Tetapi petunjuk visual yang menghubungkan dengan ingatan saat bayi susah untuk dimunculkan kembali karena berbeda. Contohnya nih, pengalaman memandang ruangan dari sudut pandang bayi yang baru bisa tiduran, tengkurap, atau merangkak, berbeda dengan batita dan anak-anak yang sudah lebih besar dan bisa berjalan. Saat bayi, perabotan pun bisa tampak sangat besar dan belum bisa ia lihat secara menyeluruh dari berbagai sisi, jadi ingatan yang terbentuk pun tidak sama.

 

Apa yang bisa orangtua lakukan untuk membantu bayi mengingat?

  • Kenalkan suatu hal berulang-ulang

Kuncinya adalah di repetisi! Rovee-Collier (1999) membandingkan ingatan bayi 2 bulan saat diberi sesi latihan 2x 9 menit dan 3x 6 menit. Ternyata, pengulangan lebih sering, meskipun durasinya lebih singkat, membuat bayi dapat mengingat pengalaman itu sampai waktu 2 minggu (sama seperti bayi 6 bulan yang hanya diberi sesi latihan 2x).

 

Seiring bertambahnya usia, bayi mampu mempertahankan ingatan lebih lama. Bayi 9 bulan bisa mengingat cara memainkan suatu permainan seperti yang ditunjukkan hingga 1 bulan setelahnya, bayi 1 tahun hingga 3 bulan setelahnya. Jadi jika ingin bayi belajar sesuatu, jangan terlalu lama karena atensinya belum begitu berkembang. Lebih baik waktunya pendek-pendek 1-5 menit, tetapi sering dilakukan. Ajarkan bayi cara melakukan sesuatu (misal memencet tombol tertentu untuk membuat mainan bergerak, atau memasukkan koin ke lubang), lalu singkirkan beberapa waktu dan hadirkan kembali. Lihat apakah ia masih ingat caranya.

 

Ingatan bayi yang masih terbatas membuat rutinitas harian menjadi penting. Kalau kita selalu punya kebiasaan untuk baca buku sebelum tidur, atau menyanyikan lagu tertentu saat mandi, atau bermain kelitikan sebelum pakai baju, bayi akan mulai membangun asosiasi dan mengingat. Ia pun bisa antisipasi apa yang akan terjadi dan mulai menikmatinya. Ada satu lagu yang selalu saya nyanyikan saat mau ajak mandi anak saya yang kedua (saat ini usia 3 bulan). Lagunya seperti ini (nada Are You Sleeping?)

 

Ayo Yoda kita mandi

Pakai air, pakai sabun

Supaya badan bersih, supaya badan wangi

Yuk mandi, yuk mandi

 

  • Ingatan berkaitan dengan emosi

Pernah tidak memperhatikan reaksi bayi saat masuk ruang dokter? Apa sepertinya ia menjadi lebih gelisah bahkan saat baru masuk gerbang rumah sakit? Ini karena suatu pengalaman lebih teringat saat memicu emosi kita, negatif maupun positif. Jadi bisa juga bayi sudah menunjukkan keceriannya saat dipakaikan jaket dan topi tertentu, karena ia ingat biasanya itu menandakan ia mau diajak jalan-jalan ke taman! Walau mungkin belum mengingat secara spesifik, tapi suasana yang ia alami terekam dalam otaknya.

 

  • Rangsang sebanyak mungkin indera

Hal-hal lebih mudah diingat juga jika merangsang lebih banyak indera. Misalnya, bayi akan lebih cepat mengingat binatang kucing bila ia bukan hanya melihat gambar atau memperhatikan saat kucing lewat depan rumah, tetapi juga bisa mengelus dan memeluknya. Pengalaman langsung itu ikut merangsang indera perabanya (merasakan bulu halus kucing), indera penciuman (mengendus bau kucing), dan juga indera pendengarannya (mendengar suara meong atau dengkuran kucing).

 

  • Permainan memori

Permainan apa yang bisa melatih memori bayi? Sesederhana cilukba juga bisa loh. Perhatikan reaksi bayi saat kita bilang ”ciluk….”  Mungkin saja ia sudah tampak geli atau tertawa bahkan sebelum ”ba!” terucap! Permainan lain seperti menyembunyikan benda di bawah kain dan minta ia mencarinya. Untuk usia lebih besar, setelah disembunyikan bisa diberi jeda 3-10 hitungan, lihat apakah bayi masih mampu menemukannya secara langsung karena masih ingat, bukan coba-coba.

 

  • Bahasa

Bahasa isyarat bayi bisa jadi cara lain untuk melatih ingatan bayi, karena kemampuan komunikasi juga terkait seberapa baik bayi-bayi mampu mengingat apa yang ia lihat dan dengar. Setelah 1 tahun, saat bayi mulai berbahasa…kita sebagai orangtua akan terkagum-kagum betapa cepatnya mereka menyerap dan mulai mengeluarkan kata-kata. Ia akan mulai menghubungkan antara bahasa dan memori, menyebut nama-nama benda, atau membuat asosiasi, misalnya bilang ’kue’ saat tiba di rumah nenek karena itu yang biasanya ia dapatkan disana.

 

Kalau diajarkan sesuatu dan bayi tidak ingat, jangan panik! Seperti kita, tidak semua pengalaman akan bisa kita ingat. Memang akan ada kejadian-kejadian yang lebih berkesan dan tertanam lebih lama. Amati saja, dan…..tetap berhati-hati dengan apa yang kita lakukan atau katakan yah.Those little brains are recording!!

 

Penulis: Orissa Anggita Rinjani, M.Psi, Psi

 

Sumber:

Rovee-Collier, C. (1999).  The Development of Infant Memory.  Current Directions in Psychological Science, 8, 80-85. Diunduh dari

https://faculty.washington.edu/sommej/Rovee-Collier1999.pdf

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>