Mari Berimajinasi!

By Rumah Dandelion

Dunia anak sangat identik dengan dunia imajinasi. Hal itu tampak dari banyak permainan yang mereka lakukan sehari-hari, seperti misalnya main rumah-rumahan atau bermain menjadi tokoh super heroes dengan kemampuannya yang ajaib. Terkadang, imajinasi anak juga terlihat dalam bentuk imaginary friend-nya, ketika anak tampak asyik berbincang tanpa lawan bicara, dan ketika anda tanya ia berkata bahwa ia sedang berbicara dengan temannya yang tidak terlihat.

Sebenarnya, apa ya manfaat dari imajinasi ini? Sampai sejauh mana kita sebagai orang tua dapat mendorong anak untuk terus mengembangkan imajinasinya, atau justru kita perlu khawatir ketika anak menunjukkan imajinasi yang makin berlebihan?

Imajinasi sangat identik dengan kreativitas. Imajinasi itu sendiri bukanlah kreativitas, tapi imajinasi dapat menjadi langkah awal seorang anak bisa memunculkan ide-ide yang kreatif. Dan anak yang kreatif akan memiliki kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik. Bagi orang tua, jika ingin membesarkan anak yang kreatif, satu hal yang orang tua perlu ingat adalah kita harus berpikir terbuka terhadap ide-ide mereka. Jadi, ketika mereka punya cerita yang aneh, kita tidak langsung mengatakan: “Kamu kok aneh-aneh aja sih”? atau ketika anak menggambar gajah warna ungu, kita langsung mengatakan: “salah, dek. ngga ada gajah warna ungu..” reaksi-reaksi seperti ini akan membuat mereka tidak termotivasi untuk melontarkan ide baru dari imajinasi mereka. Sebalikny, reaksi yang dapat diberikan adalah: “wah, gajahnya warna ungu? kenapa dia bisa berwarna ungu? apakah dia gajah ajaib? dia berbeda dari teman-teman gajah yang lain?” Sehingga imajinasi anak dapat terus berkembang.

Ada beberapa cara atau aktivitas yang bisa dilakukan oleh orang tua dan anak untuk dapat mengembangkan imajinasi anak, seperti berikut ini:

  1. Bercerita secara bergantian – orang tua memulai cerita dan dilanjutkan oleh anak, lalu kembali dilanjutkan orang tua, demikian seterusnya. Hal itu mungkin lebih mudah dilakukan untuk anak berusia di atas 2 tahun.
  2. Kreasi mainan dari peralatan bekas/sehari-hari – membuat mainan yang bisa diciptakan dari beberapa peralatan sederhana seperti misalnya membuat boneka dari sekelompok peralatan seperti sumpit, handuk kecil, kancing bekas, dan sebagainya.
  3. Permainan ide – lontarkan sebanyak mungkin ide mengenai hal-hal yang bisa dilakukan dengan menggunakan satu alat rumah tangga, misalnya saja sapu (dapat digunakan untuk menyapu, mendorong benda, dan lain sebagainya)

Sebagai catatan yang tidak kalah pentingnya, anak juga perlu tahu batasan antara imajinasi dan realita. Di usia SD anak sudah mulai membedakan hal yang nyata dan imajinasi. Dorong anak untuk tetap mengingat bahwa setiap permainan atau fantasi yang ia miliki belum tentu sesuai dengan kenyataan yang ada. Anak perlu tahu kapan perlu berimajinasi, dan kapan perlu menghentikan imajinasinya. Misalnya saja, pada saat kecil anak dapat berimajinasi bahwa ia bisa terbang. Tapi semakin dewasa, ia harus menyadari bahwa hal itu adalah fantasinya. Akan ada banyak kesulitan ketika anak tidak dapat membedakan antara imajinasi dan hal yang nyata. Misalnya saja, ia dapat menyakiti dirinya sendiri ataupun dikucilkan dari lingkungan pergaulan.

Jika menurut anda imajinasi yang dilakukan anak anda tampak sudah  melebihi batas kewajaran, mungkin anda dapat membawanya untuk melakukan konsultasi dengan psikolog anak dan mendapatkan saran-saran untuk mengatasinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>