Katakan tidak pada Cyberbullying

By Orissa Anggita

“Nyadar diri dong..muka jelek gitu dipasang. Ga ada yang suka liatnya kalii…”

“Jadi orang tuh jangan kebangetan bodohnya. Punya otak tuh dipakai jangan jadi pajangan aja..”

 

Di sosial media, sering sekali saya temui ucapan-ucapan yang buat geleng-geleng kepala dan elus-elus dada seperti di atas. Mau tidak mau saya bertanya-tanya mengapa ya orang bisa mengucapkan kata-kata seperti itu pada orang lain. Ketika bertatap muka secara langsung, kita bisa impulsif dan sulit menahan diri. Ketika tertulis, sebenarnya ya kan kita lebih punya waktu untuk berpikir apa yang mau ditulis, bisa edit, dan bisa tidak jadi tekan tombol ‘sent’. Tapi nyatanya.. cyberbullying semakin marak terjadi. Apa penyebabnya?

Pada dasarnya cyberbullying adalah bentuk penindasan dan intimidasi yang dilakukan oleh satu pihak ke pihak lainnya untuk mendapatkan rasa kekuasaan, secara online. Tidak seperti bullying biasa, pelaku cyberbullying dapat melancarkan aksinya tanpa melihat respon korban (Donegan, 2012). Efek jarak psikologis ini yang kemudian cenderung membuat orang tanpa banyak pertimbangan mengatakan hal-hal yang kejam daripada bila berinteraksi tatap muka. Kemudahan untuk membuat profil samaran dan akun palsu juga menyebabkan pelaku dapat menyembunyikan identitasnya dan menjadi anonim, merasa dapat lolos dari perbuatannya tanpa konsekuensi apapun.

Komen-komen kasar, ucapan-ucapan yang menyerang harga diri, dan tuduhan-tuduhan tidak berdasar juga bisa jadi tampak ‘normal’ di sosial media, sehingga banyak yang menganggap tak apa bila melakukannya. Pada suatu survey yang dilakukan oleh National Crime Prevention Council, pada remaja 13-17 tahun, sebagian besar remaja percaya bahwa orang melakukan cyberbullying karena merasa itu lucu (81%), tidak menyukai korban (64%), melihat korban sebagai pecundang (45%), atau sesederhana tidak melihat tindakan itu sebagai masalah (58%). Hmmm.. menunjukkan pentingnya pengajaran logika dan pertimbangan situasi sosial yaa…

Walau saya melihat bahwa cyberbullying bisa dilakukan dan dialami oleh orang dewasa (mom’s war terkait topik asi vs sufor, ibu pekerja vs ibu rumah tangga, atau lainnya; debat kusir politik; kawin cerai artis; atau lainnya), penelitian-penelitian tentang cyberbullying lebih banyak yang menyasar usia remaja.

Dari survey yang dilakukan Pew Internet & American Life Project tahun 2006, sebanyak 32% remaja pengguna internet menyatakan bahwa mereka pernah menjadi sasaran cyberbullying, seperti menerima pesan-pesan ancaman, mendapati pesan atau email privat mereka diteruskan ke orang lain tanpa ijin, mendapati foto mereka yang memalukan diunggah tanpa permisi, atau tersebarnya rumor tentang mereka di dunia maya. Cyberbullying lebih banyak dialami, dan dilakukan, oleh anak perempuan daripada laki-laki (Floros dkk, 2013; Kowalski dkk, 2008; Schneider dkk, 2012 dalam cyberbullying.org). Pada anak perempuan, bentuk cyberbullying yang dialami lebih pada tersebarnya rumor tentang mereka, sedangkan pada anak lelaki bentuknya lebih berupa ancaman.

Bahaya cyberbullying bisa menjadi lebih intens daripada bullying, mengapa? Ketika anak mengalami bullying di sekolah, hal itu bisa berhenti ketika memang sudah waktunya pulang dan penghindaran fisik dari pelaku. Sementara cyberbullying bisa terjadi tanpa batasan ruang dan waktu, selama punya akses internet. Cyberbullying bisa berakibat pada menurunnya self-esteem, tindakan menyakiti diri hingga pemikiran bunuh diri, kemarahan, frustrasi, serta berbagai gangguan emosi dan psikologis lainnya (Brighi dkk, 2012; Hinduja & Patchin, 2010; Kowalski & Limber, 2013; Patchin & Hinduja, 2010; Wang, Nansel, & Iannotti, 2011 dalam cyberbullying.org).

Sebagai orangtua, apa yang bisa dilakukan untuk membantu memerangi cyberbullying?

  • Bahas bersama dengan anak seputar cyberbullying: apa itu, bentuk-bentuknya, mengapa itu tidak baik, konsekuensi bila melakukannya, dan apa yang bisa dilakukan bila itu terjadi pada mereka.
  • Buat aturan terkait cyberbullying, contohnya: bila anak mengirimkan atau meneruskan pesan-pesan yang kasar atau menyebarluaskan foto orang lain tanpa ijin, konsekuensinya adalah berkurang atau hilangnya ha katas perangkat digital/ screentime
  • Ingatkan selalu untuk berkata yang baik dan berpikir sebelum mengunggah sesuatu. Di era digital ini semua terekam dan dengan mudah orang lain dapat menyebarluaskannya. Ajarkan prinsip THINK (is it True, Helpful, Inspiring, Necesaary, Kind?)
  • Bila mereka menjadi korban, simpan bukti terjadinya cyberbullying tersebut dan block pelaku
  • Ingatkan anak jangan pernah memberitahu password pada siapapun
  • Bangun hubungan yang positif dengan anak agar komunikasi terjaga dan anak merasa nyaman untuk menceritakan apapun pada orangtua. Beberapa cyberbullying tidak tertangani dan terlambat terungkap karena korban merasa tidak berdaya dan tidak punya tempat aman untuk bercerita.
  • Last but not least, jadilah role model bagi anak. Refleksi diri apakah kita juga pernah mengunggah pernyataan atau memberi komen yang tidak sepantasnya di dunia maya.

 

Yuk sama-sama budayakan etika komunikasi dan penggunaan perangkat digital yang baik. Katakan tidak pada cyberbullying!

 

Referensi:

Donegan, Richard. 2012. Bullying and Cyberbullying: History, Statistics, Law, Prevention, and Analysis. The Elon Journal of Undergraduate Research in Communications Vol. 3 No. 1

Lenhart, Amanda. 2007. Cyberbullying. http://www.pewinternet.org/2007/06/27/cyberbullying/

Cyberbullying Research Center. http://cyberbullying.org

National Crime Prevention Council. 2007. Teens and Cyberbullying. http://www.ncpc.org

http://bullyingstatistics.org

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>