Kapan Mulai Mengenalkan Media Sosial Kepada Anak?

By carmelia

Saat ini kita hidup di dunia digital, hampir semua orang memiliki akses ke media sosial untuk berhubungan dengan dunia luar dengan beragam tujuan, ada yang menggunakan media sosial sebagai alat bersosialisasi hingga menggunakan sosial media sebagai sumber informasi terkini. Perlu diakui bahwa informasi mengenai apa yang ada di sekeliling kita paling cepat diterima melalui media sosial.

Sebagai orang tua yang menggunakan digital, pasti kita dapat melihat dan merasakan sendiri adanya sisi positif dan sisi negatif dari dampak media sosial. Melalui media sosial, kita dapat berhubungan dengan teman-teman yang sulit ditemui tatap muka, berkenalan dengan orang baru, belajar melalui pengalaman orang lain, hingga mendapatkan tips dan trik untuk alternatif menyelesaikan masalah kita. Tapi di sisi lain orang tua sendiri merasakan sisi negatif dari media social, terlebih lagi dengan berita viral bagaimana media sosial dapat memberikan tekanan social kepada kalangan tertentu hingga terkadang kita mendapatkan tampilan iklan yang tidak lazim. Dengan merasakan sisi positif dan negatif inilah yang sering menimbulkan pertanyaan bagi para beberapa orang tua “Kapan waktu yang tepat untuk mulai mengenalkan media social kepada anak?”

Pertanyaan kapan mengenalkan media social sebenarnya sejalan dengan pertanyaan kapan memberikan gadget pada anak. Saat mengambil keputusan untuk memberikan gadget seperti handphone, setidaknya anak dapat dihubungi atau menghubungi orang tuanya. Di sisi lain, adanya telepon pintar (smart phone) menjadikan anak dengan mudah mengakses tontotan, games, atau pun media sosial. Namun, perlu dipahami bahwa pengenalan media sosial dapat dilakukan melalui alat lain misalnya laptop atau tablet. Mungkin beberapa anak tidak memiliki handphone, tapi mereka sudah memiliki akun media sosial.

 

Setelah membaca beberapa artikel psikologi yang ada, saya menemukan bahwa beberapa ahli berpendapat bahwa pengenalan media sosial diharapkan tidak dilakukan sejak dini. Namun, dengan tuntutan sosial yang ada memang sangat sulit ini dilakukan bukan? Pada saat anak masuk sekolah SD misalnya, dia mungkin menemukan beberapa kawannya sudah memiliki akun facebook, instagram, atau bahkan sudah memiliki akun sendiri di Youtube. Sebenarnya sebagai orang tua sendiri dapat mencari berbagai alasan untuk tidak mengizinkan anak memiliki akun sosial tetapi saat memutuskan mengizinkan maka ada beberapa hal yang perlu ditekankan kepada anak. Berikut merupakan hal-hal yang dapat didiskusikan dengan anak saat mereka memiliki akun media social:

  1. Perhatikan apa yang diposting

Hal apa saja yang perlu diperhatikan? Pertama dari segi bahasa dan gaya penyampaian. Jelaskan kepada anak bahwa apa yang kita komen atau posting di media social tidak dapat dihapuskan sehingga menjadi hal penting untuk mengetik dengan gaya bahasa yang sopan, tidak menghujat, atau bahkan bagaimana berespon mengenai isu sensitif pada media social. Kedua, perhatikan pula dengan gambar atau foto yang ingin ditunjukkan pada media social, upayakan supaya anak memperlihatkan kepada kita terlebih dahulu sebelum diposting.

  1. Terkadang tidak semua harus dilakukan pada media sosial

Apabila ada kekecewaan terhadap suatu hal maka ajarkan anak untuk berbicara secara langsung, tidak melalui media sosial karena kalimat yang dibuat dapat salah diinterpretasikan dan dapat disebarkan orang tidak bertanggung jawab pada media sosial lain. Berikan alasan kenapa anak perlu menyelesaikan sebuah konflik secara langsung sehingga membantu anak dalam kematangan bersosialiasi.

  1. Berikan petunjuk keamanan dalam menjaga akun media social

Ajarkan anak untuk menjaga password yang ia miliki dan tidak memberikan kepada orang lain, terlebih orang asing. Berikan pula alasan kenapa ia tidak boleh berespon dengan orang asing pada media social. Demi keamanan, pastikan anak memberikan password yang dia punya kepada orang tua dengan alasan keamanan.

  1. Jika perlu, ajarkan anak bagaimana memposting yang baik

Saat anak sudah memiliki akun media social, tidak ada salahnya mencontohkan bagaimana anak dapat memposting di media social. Hal ini secara tidak langsung memberikan batasan kepada anak apa yang boleh dan apa yang tidak boleh diposting. Jangan sampai anak dapat memposting hal buruk karena dampaknya akan berkepanjangan dalam media social. Bagaimana pun juga, orang tua merupakan salah satu role model bagi anak.

  1. Sebagai orang tua ikuti apa yang dia ikuti

Dalam bermedia sosial, orang tua perlu mengetahui siapa yang mereka ikuti atau dengan siapa mereka berkomunikasi di dalamnya. Setidaknya jika ada yang tidak sesuai dengan nilai yang ingin diterapkan, kita sebagai orang tua dapat mengajak diskusi dengan anak. Berikan batasan yang jelas dari awal dengan anak sehingga anak pun belajar untuk bertanggung jawab terhadap akun media social mereka.

 

Walaupun anak dapat berkawan di media sosial, tidak ada salahnya bagi orang tua untuk tetap membentuk sebuah playdate atau acara bermain bersama. Hal ini tetap dilakukan supaya kehidupan sosial mereka dapat berimbang, yakni berkomunikasi dalam berkawan secara langsung (bertatap muka). Ada beberapa anak dapat berkomunikasi dengan baik di media sosial, tetapi menjadi panas dingin saat harus berhadapan orang secara langsung lho! Selain itu, perbanyak aktivitas bersama keluarga serta libatkan mereka supaya anak tetap mempercayakan keluarga sebagai dasar pelarian mereka. Bagaimana pun keputusannya, mari para orang tua belajar lebih banyak mengenai teknologi dan media sosial sehingga kita dapat mengawasi dan menjaga anak kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>