Kapan Anak Mulai Sekolah?

By Rumah Dandelion

Pertanyaan ini merupakan salah satu pertanyaan yang paling sering saya dapat, dan mendorong kami di Rumah Dandelion untuk mengadakan sesi bincang-bincang yang mengangkat topik ini. Baca ulasannya yuk!

Kapan Anak Butuh Sekolah?

Sebelumnya kita samakan persepsi dulu, sekolah disini maksudnya adalah proses belajar dimana anak mengikuti serangkaian kegiatan di suatu lembaga, secara berkesinambungan, dan tanpa pendampingan orangtua. Jadi kalau kelas-kelas aktivitas yang sesekali saja dan bersama orangtua, tidak menjadi cakupan bahasan disini ya.

 

Hal pertama yang perlu diperhatikan sebelum memutuskan kapan anak sekolah, adalah apakah anak butuh? Bagi saya, anak usia dini butuh sekolah bila di rumah tidak ada yang bisa menjaga dan memberikan stimulasi sesuai usia, mengingat lima tahun pertama adalah masa-masa emas yang kritikal untuk perkembangan anak ke depannya. Iya, idealnya memang orangtua sebagai pengasuh utama anak yang melakukan pemberian stimulasi tersebut di rumah. Namun, kita tidak hidup di dunia ideal bukan? Setiap keluarga punya dinamikanya masing-masing.

 

Jika dengan kegiatan bermain sehari-hari, tanpa masuk sekolah, anak telah berkembang secara optimal sesuai usianya, maka tidak perlu kok bersekolah. Jadi jangan juga memutuskan anak butuh sekolah karena merasa tertekan “duh sepertinya anak teman-teman saya semua sudah sekolah, masa anak saya ga sekolah sendiri?” Peer kita sebagai orangtua adalah memantau perkembangan anak, apakah sudah on track dan semua milestones perkembangan sudah tercapai. Lengkapnya bisa dilihat di panduan tumbuh kembang dan stimulasi 0-5 tahun yang diterbitkan Rumah Dandelion ya..

Apakah Anak Siap Sekolah?

Bila merasa anak memang butuh sekolah, pertanyaan selanjutnya adalah apakah anak siap sekolah? Kesiapan sekolah ini berbeda-beda untuk setiap tingkatan. Kita saja sampai setua ini bisa juga loh belum siap sekolah, kalau tiba-tiba ditawarin lanjut s2 atau s3 apakah kita akan langsung menjawab ya?

 

Peserta bincang-bincang kemarin mayoritas adalah orangtua dengan  anak usia 2-4 tahun. Jadi pembahasan yang dilakukan adalah tanda-tanda anak siap sekolah untuk tingkat kelompok bermain (playgroup) dan taman kanak-kanak. Kesiapan sekolah meliputi berbagai aspek, antara lain kognitif, bahasa, personal sosial, dan motorik.

 

Contoh kesiapan sekolah di aspek personal sosial untuk tingkat kelompok bermain adalah mampu berpisah dari orangtua 1-3 jam, bisa secara mandiri memilih dan memulai suatu aktivitas, serta bisa mengutarakan apa yang ia mau. Sedangkan kesiapan untuk tingkat taman kanak-kanak sudah lebih tinggi seperti kemampuan mengikuti arahan (termasuk menghentikan kegiatan saat diminta), bertahan dalam satu aktivitas dan bisa bermain sama teman secara kooperatif sekitar 20 menit, serta bisa makan dan ganti baju sendiri.

 

Indikator dan bahasan kesiapan sekolah lengkapnya bisa dilihat disini ya

Bagaimana Memilih Sekolah?

Tidak ada satupun sekolah yang sempurna, yang ada adalah apa sekolah tersebut cocok dengan karakter anak kita, dengan value yang kita anut, dan punya kualitas yang kita anggap sebagai prioritas.

 

Kalau anak kita tipe yang butuh banyak bergerak, cari sekolah yang menggunakan pembelajaran aktif. Sekolah alam, Montessori, atau sekolah yang ruang kelasnya luas serta tidak mengharuskan anak selalu duduk, akan lebih sesuai. Bila ia masuk ke sekolah yang menuntut anak duduk diam dengan seting kelas bangku berjejer tanpa ruang gerak, serta kegiatan belajar yang lebih sering berupa worksheet, bisa-bisa ia frustrasi di sekolah dan mendapat label ‘anak nakal’.

 

Orangtua perlu lebih dulu mengenali value pendidikan yang dimilikinya, untuk kemudian menentukan mana sekolah yang paling sesuai, berdasarkan prioritas hal yang dirasa paling penting dan tidak boleh ditawar-tawar. Sekali lagi, ini bisa banget berbeda ya di tiap keluarga. Contoh, lebih condong kemanakah kita:

  • Sekolah dengan sistem yang seragam untuk setiap anak vs memberikan kebebasan pada anak untuk berkreasi sesuai karakter masing-masing
  • Sekolah yang menumbuhkan minat calistung vs yang mengajarkan supaya anak bisa calistung sejak dini agar mudah diterima di berbagai SD
  • Sekolah yang menggunakan nilai dan ranking untuk evaluasi hasil belajar vs penjabaran dalam bentuk uraian
  • Sekolah yang berbasis agama tertentu (sectarian school) vs mengajarkan agama di periode pelajaran tertentu
  • Sekolah dengan pengantar bahasa Indonesia vs bilingual

 

Saat memilih sekolah, orangtua pun perlu memperhatikan hal-hal teknis seperti jarak sekolah-rumah dan biaya. Jangan sampai ada sekolah yang bagusssss sekali dan kita cocoookkkk banget, namun waktu tempuh 1.5-2 jam sekali jalan. Kasihan anaknya, nanti terlalu lelah di jalan. Atau sekolah yang kita sregggg banget, namun uang pangkal dan uang bulanan di atas budget dan membuat penyusunan anggaran keluarga sulit napas. Kita pun harus memikirkan ‘uang sosial’, misal uang arisan / makan-makan saat menunggu anak pulang sekolah, uang untuk beli kado / membuat perayaan ultah, uang untuk membeli mainan / benda-benda yang sangat mungkin diminta anak bila melihat kebanyakan temannya punya (ya tidak harus selalu dituruti sih hehe..)

 

Banyak pula orangtua yang bertanya apakah perlu kelompok bermain atau boleh langsung ke TK. Bagi saya, dikembalikan lagi ke kebutuhan dan kesiapannya. Seperti saya, awalnya ingin anak saya langsung TK saja. Namun, melihat temperamen anaknya yang slow-to-warm up dan sebelumnya selalu menempel dengan saya, saya khawatir kalau langsung TK yang jam sekolah panjang dan setiap hari, ia akan kaget dan berujung mogok. Akhirnya saya ikutkan ke kelompok bermain yang hanya 2 jam sehari dan 3x seminggu. Itu pun awalnya butuh masa adaptasi sekitar 2 bulan sampai tidak lagi menangis saat ditinggal.

 

Apa akibatnya jika anak sekolah terlalu dini?

Di satu sisi, orangtua khawatir bila anak tidak sekolah, ia akan ketinggalan dibanding teman sebayanya. Di sisi lain, orangtua juga khawatir kalau sekolah terlalu dini akan membuat anak jenuh dan waktu besar tidak lagi minat sekolah. Sebenarnya, bila sekolah yang dipilih sesuai dengan kebutuhan dan karakter anak, serta memperhatikan tahapan perkembangan, saya yakin anak akan senang-senang saja. Ia akan menikmati waktu sekolah karena baginya itu bermain. Kuncinya adalah ekspektasi kita sebagai orangtua ke anak, juga tuntutan sekolah sebagai pendidik, yang tidak berlebihan. Too much too soon, won’t bring any good.

 

Jadi… kapan mau memasukkan anak ke sekolah? Semoga sudah lebih terbayang ya!

 

Penulis: Orissa Anggita Rinjani, M.Psi, Psi

 

Referensi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>