Hurried Child Syndrome: Growing Up Too Fast

By Rumah Dandelion

Dalam sebuah seri infographic “The Science of Raising Happy Kids”, dikatakan anak-anak jaman sekarang waktu bermain bebasnya menjadi 8 jam lebih sedikit dibanding 20 tahun lalu. Jadwal mereka padat dengan berbagai kegiatan. Pulang dari sekolah, mereka pergi les. Orang tua berlomba-lomba mengikutsertakan anaknya dalam berbagai kursus seperti menari, bahasa asing, berenang, piano, martial arts, melukis, komputer, robotik, dan lain-lain.

Anak di bawah tekanan untuk berprestasi, untuk menjadi kompetitif di ajang-ajang lomba. Anak tergesa-gesa, berangkat dari satu tempat ke tempat lainnya dan menghabiskan banyak waktu di perjalanan. Bahkan tidak jarang waktu bersantai di hari Sabtu dan Minggu pun terpakai untuk aktivitas terstruktur.

Ini adalah salah satu gejala dari fenomena Hurried Child Syndrome, istilah yang dipopulerkan oleh psikolog David Elkind. Anak diburu-buru tumbuh lebih cepat dan mereplika kehidupan orang dewasa yang sibuk dan sangat terjadwal layaknya kerja. Over-scheduling. Padahal, anak-anak masih sangat membutuhkan waktu bermain tidak terstruktur.

Gejala lain dari hurried child syndrome ini adalah dandanan dan perilaku yang menyerupai orang dewasa. Tidak jarang sekarang kita melihat anak perempuan usia SD bahkan TK sudah menggunakan make-up, pewarna kuku, dan high heels. Banyak anak-anak lebih familiar dengan lagu-lagu cinta daripada lagu anak-anak. Di film kartun pun seakan sudah biasa ada adegan cinta atau kekerasan. Dalam urusan belajar, kini tampaknya tuntutan pelajaran dan keterampilan akademik semakin tinggi. Anak dituntut bisa baca tulis hitung lebih cepat, ada tes masuk SD (bahkan TK!), dan pelajaran yang dulu diajarkan di SMP mungkin sekarang sudah dapat ditemui di tingkat SD akhir. Huffff….

Apa yang menjadi penyebab merebaknya fenomena ini?

Bisa karena kombinasi berbagai faktor. Pertama, adanya mispersepsi terhadap teori-teori psikologi perkembangan, misalnya teori bahwa lima tahun pertama merupakan masa-masa golden age anak dan teori kecerdasan majemuk. Semua orang tua tentu ingin yang terbaik bagi anaknya, namun ada perbedaan antara memberikan stimulasi yang sesuai usia dan membuat tumbuh kembang anak menjadi optimal, dengan memberikan anak beban berlebihan yang justru bisa menjadi bumerang bagi perkembangannya.

Kedua, sebagian orang tua ingin anak cepat dewasa karena lebih mudah dihadapi: tidak perlu lagi kemana-mana ditemani, tidak harus semua-semua dibantu, tidak perlu khawatir semua barang masuk mulut, tidak perlu cemas tiba-tiba tantrum di supermarket, dan sudah bisa lebih memahami instruksi.

Ketiga, ada pula orang tua yang merasakan social pressure dan punya obsesi untuk mencetak anak serba bisa. “Eh anaknya si ibu X umur 3 tahun udah bisa baca lho”, atau “wow anaknya bapak Y menang lomba Koki Cilik dan karate kid, gara-gara ikut kursus di Z”, atau “dulu orang tua saya ga punya uang untuk ikutin saya les piano, sekarang si kakak musti ikut! Pemain piano itu keren banget..”

Keempat, kemajuan teknologi yang mempermudah akses ke berbagai hal dan mengaburkan batasan usia, serta media massa yang tidak terlalu mempedulikan apakah konten sesuai umur selama itu menjual dan meningkatkan rating. Bye bye moral responsibility.

Mengapa fenomena ini perlu diwaspadai?

Anak bukanlah miniatur orang dewasa, mereka punya kebutuhan dan keinginannya sendiri. Saat mereka dipaksa dewasa lebih dini, mereka jadi ‘matang semu’. Mungkin anak bisa ini itu, tapi kurang mampu mengelola emosinya dengan baik dan ignorant pada lingkungan sekitarnya. Seperti yang diungkapkan David Elkind, “Growing up emotionally is complicated and difficult under any circumstances but especially so when children behavior and behavior speak ‘Adult’ while their feelings cry ‘Child’”.

Hurried child syndrome akan membuat anak-anak akan kehilangan waktu bermainnya (and by play is something that we do out of interest, to use our time freely, to relax, to have fun, to build confidence). Anak yang jadwalnya terlalu sibuk atau dipaksa belajar suatu hal terlalu banyak terlalu cepat, bisa jadi stress. Kasus stress pada anak-anak sekarang ini meningkat, dengan tingkat ekstrim hingga kasus bunuh diri.

Begitu pula dengan gangguan belajar, jumlah semakin banyak. Anak jenuh belajar, tidak termotivasi. Ada sebuah penelitian di New Zealand, bahwa saat dites kemampuan membacanya di usia 11 tahun, tidak ditemukan perbedaan antara anak yang diajari membaca di usia 7 tahun dan 5 tahun. Tapi….anak yang diajari membaca lebih dini justru punya minat baca dan kemampuan pemahaman bacaan yang lebih rendah.

Apa yang dapat orang tua lakukan untuk menghindari hal ini?

  • Let kids be kids! Orang tua perlu memahami perkembangan yang sesuai usia. Mengharapkan anak untuk duduk tenang selama 15 menit sambil mendengarkan cerita adalah wajar untuk usia 5 tahun, tapi tidak untuk anak 2 tahun. Anak yang takut berpisah sama ibunya wajar untuk anak 1.5 tahun, jadi antisipasi tangisan dan teriakan saat ingin memasukkan anak ke Kalau kita tahu mana perkembangan yang normal untuk usia tertentu, orang tua akan lebih sedikit frustrasi karena ekspektasinya realistis.
  • Latih keterampilan dasar. Pahami bahwa tumbuh kembang anak butuh proses yang disebut “maturational readiness”. Sama seperti kita tidak akan mampu berjalan kalau kekuatan otot-otot kaki tidak dilatih lebih dulu, anak juga tidak akan mampu membaca, menulis, berhitung, berpikir kompleks, dan belajar di sekolah dengan baik bila keterampilan dasarnya belum berkembang dengan baik. Lebih baik masuk SD ‘terlalu matang’, daripada terlalu dini. Biasanya, anak-anak belum kelihatan bermasalah ketika TK atau SD awal. Gangguan belajar dan masalah sosial-emosional seringkali baru muncul kelas 4 SD ke atas, akibat kurangnya waktu dan kesempatan yang diberikan pada anak untuk mengasah keterampilan dasarnya.

  • Seimbangkan antara kegiatan terstruktur dan tidak terstruktur. Anak butuh waktu untuk main senang-senang dan ‘sekadar’ lari-larian di taman, petak umpet, balon air, naik sepeda, main pura-pura dari kardus bekas, atau sejenisnya. Permainan tidak terstruktur memungkinkan anak menemukenali apa yang benar-benar mereka suka, mengekspresikan kepribadiannya, dan belajar mengelola waktu mereka. Anak juga perlu waktu tenang. They don’t need to be in ‘achieving mode’ and to be productive all the time.
  • Batasi jumlah kursus. Dengan mengikuti banyak kursus anak memang terpapar dengan lebih banyak hal dan keterampilan. Namun, perlu juga dilihat apakah anak mengembangkan kompetensi mendalam di bidang-bidang tersebut. Untuk anak usia SD, David Elkind menyarankan maksimal mengikuti tiga kursus: 1 tipe sosial (seperti pramuka, pemuda masjid/ kegiatan gereja), 1 tipe fisik (seperti olahraga, bela diri, menari), dan 1 artistik (seperti piano, melukis). Pastikan kursus yang diikuti sesuai minat anak, bukan minat orang tua ataupun sekedar ikut tren. Libatkan anak dalam memilih kursusnya. Dalam seminggu, paling tidak ada satu hari libur dari segala macam kegiatan ekstrakurikuler. Ini untuk SD, untuk TK atau prasekolah tentu kebutuhan waktu bermain tidak terstruktur lebih banyak lagi.
  • Kenali gejala stress pada anak. Bila anak tampak lelah berkepanjangan, suka tidak mood, mudah marah, tampak malas-malasan, sulit tidur atau makan, kembali mengompol / menghisap jempol, menarik diri dari lingkungan sosial, atau menjadi sangat bergantung pada orang tua, bisa jadi sebenarnya anak sedang mengalami stress. Coba berempati pada anak dan fokus pada kebutuhan psikologis yang ia perlukan.
  • Quality time. Kelekatan dan komunikasi antara anak dan orang tua sangat penting untuk perkembangan psikologis yang sehat. Anak butuh perhatian dan kasih sayang dari ayah dan ibu, untuk membangun self-esteem dalam dirinya. Luangkan waktu dengan anak benar-benar untuk sekedar bercanda, bermain, dan mengobrol untuk menggali dunia pikiran dan emosi anak.
  • Last but not least, orang tua perlu melakukan pengawasan dan pembatasan konten terhadap apa yang anak dengar atau tonton. Untuk anak usia dini, sebisa mungkin filter terlebih dahulu lagu-lagu atau film yang ingin dipaparkan pada mereka, dan temani dalam prosesnya.

David Elkind berpendapat “Childhood has its own way of seeing, thinking, and feeling…and nothing is more foolish than to try and substitute ours for theirs.”

 Apakah Anda setuju?

 

Ditulis oleh Orissa Anggita Rinjani, Psi

Rumah Dandelion

 

Referensi:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>