Empati & Pretend Play

By Rumah Dandelion

Ayah lihat! Aku punya mainan puzzle baru dari mama!

Oyah? Gambar apa puzzlenya?

Puzzle Dory! Ini ada Dory dan Destiny!

Sudah coba dimainkan?

Sudah! Aku bisa sendiri lho, hanya dicontohkan sekali sama mama, terus aku bisa sendiri!

Wow! Makin pintar main puzzlenya sekarang ya. Ayah coba lihat dong.

Boleh, yuk sini aku kasi lihat. Aku yagng ajarin ayah ya.

Saya mendengar dan melihatnya senyum-senyum sendiri. Kenapa? Pembicaraan diatas itu terjadi dalam bentuk monolog, alias si anak yang bicara sendiri, berpura-pura sedang berada dalam percakapan bersama ayahnya. Ia pura-pura menciptakan pembicaraan antara dirinya dan ayahnya. Menakjubkan ketika saya lihat ternyata anak berumur 4 tahun ini mampu mengingat dan menirukan komentar-komentar yang biasanya diucapkan oleh sang ayah.

Di usianya sekarang, 4 tahun, anak saya memang mulai sering bermain peran, menggunakan mainan tertentu ataupun sekedar membuat percakapan dengan orang-orang yang biasa ia ajak bicara. Seringnya sih dia berpura-pura menjadi orang lain dan membuat percakapan. Pura-pura terlibat dalam percakapan dengan neneknya, kakeknya, ayahnya, dan teman-teman mainnya di sekolah. Yang mengagumkannya lagi, karena ternyata dia ingat ucapan-ucapan apa yang sering dikeluarkan orang lain tersebut dan …. nada serta aksen bicaranya! Jadi seperti nonton sandiwara.

Kalau dari tahap perkembangan anak, fase permainan bermain peran dan/atau bermain pura-pura ini mulai dimunculkan anak-anak di usia 2.5 tahun dan biasanya dimainkan hingga usia 6 tahun (Kaufman, 2013). Bermain peran tidak hanya sekedar menyenangkan buat anak, tapi juga memiliki manfaat yang signifikan dalam tumbuh kembang anak. Bukan hanya secara kognitif yang membantu anak mengembangkan imajinasi dan kemampuan berbahasannya dalam membuat cerita, tapi ternyata juga berperan penting dalam mengembangkan kemampuan sosial dan regulasi emosi anak.

Beberapa manfaat dari bermain peran adalah (Hughes, 1999):

  1. Anak belajar tentang empati, kemampuan memahami apa yang dirasakan dan dialami oleh orang lain. Dengan memainkan peran sebagai profesi, tokoh, atau peran tertentu anak belajar secara langsung bagaimana rasanya menjadi orang lain. To be in someone else’s shoe..
  2. Anak belajar mengekspresikan dan meregulasi emosi negatif. Psikolog yang berpraktek seringkali menggunakan permainan pretend play untuk mendapatkan informasi dari anak. Dengan menggunakan permainan pretend play anak merasa lebih aman untuk berbicara apa adanya, terutama dalam mengungkapkan emosi yang mereka rasakan tapi takut atau tidak tahu bagaimana cara mengekspresikannya.
  3. Anak belajar berkomunikasi asertif dengan orang lain. Bermain sandiwara dan peran membantu anak mengembangkan kemampuan berbahasannya dan pada akhirnya membantu anak lebih efektif dalam bersosialisasi dan menyelesaikan konflik dengan temannya.

Namun perlu diingat bahwa bukan berarti anak yang sering bermain peran otomatis memiliki kemampuan regulasi emosi dan kemampuan sosial yang lebih baik ya. Bermain peran hanya menjadi salah satu dari sekian banyak cara dan pengalaman lain yang bisa berdampak positif pada perkembangan anak. Pengalaman langsung berinteraksi dengan orang lain, dari berbagai latar belakang dan usia, juga perlu diberikan kepada anak untuk membantu mereka menjadi individu yang percaya diri. Yuk main!

Oleh: Nadya Pramesrani, M. Psi., Psikolog.

 

Sumber:

www.childrennatureandyou.org

Kaufman, S. 2013. The need for pretend play in child development. www.scientificamerican.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>