Duh! Semua Masuk Mulut!

By Agstried Elisabeth

“Mamaaaa….adek emut rambut Ara!”

“Adek, itu boneka dek..BO NE KA! Bukan makanan!”

Hehe…akhir-akhir ini Ara lagi sibuk jadi petugas patroli buat adiknya, Yoda, yang saat ini usianya 5 bulan. Yoda yang sudah mulai bisa meraih benda-benda yang terjangkau oleh tangannya, walau dia belum berguling ataupun merangkak. Susah-susah gampang untuk kasih penjelasan ke Ara bahwa adiknya memang dalam tahap suka memasukkan apa saja ke mulut (mouthing), karena mungkin dalam pikirannya “kalau aku yang ngemut rambut sama boneka pasti ditegur mama..kok adik nggak?”

Dari lahir hingga usia 2 tahun, bayi memang wajar kok bila melakukan mouthing, karena ia masih berada pada fase oral. Ini bukan hanya sekedar ‘iseng’, tapi menunjukkan bahwa ketertarikan bayi pada dunia tengah berkembang. Di samping itu, ada manfaatnya juga loh untuk tumbuh kembangnya:

  • Mengenal anggota tubuh dan benda-benda. Melalui mouthing, bayi belajar tentang bagian tubuhnya terutama kaki dan tangan, serta beragam tekstur dan bentuk. Oh benda ini kasar, licin, lembut, empuk, kenyal, keras, dan sebagainya. Di lidah bayi terdapat banyak sekali reseptor indera peraba, merupakan bagian tubuh yang paling sensitif selain ujung jari. Jadi mengemut juga merupakan stimulasi sensori.
  • Mendukung proses belajar makan. Mouthing membantu bayi terbiasa dengan sensasi adanya benda dalam mulut serta merasakan enak-tidak enak, sehingga lebih cenderung tidak menolak sendok dan lebih siap saat mulai makan makanan padat. Bayi muda punya refleks muntah (gag refleks-refleks bila dimasukkan sesuatu ke mulut) di lidah bagian depan. Saat mengemut, perlahan refleks muntah tersebut pindah ke bagian belakang lidah, jadi lebih tidak mudah muntah. Menurut penelitian, banyak anak dengan masalah perilaku makan, ternyata kurang punya kesempatan untuk mengembangkan keterampilan mouthing saat bayinya.
  • Ketika bayi menghisap, menjilat, dan mengenyot jari-jari ataupun benda-benda lain, gerakan itu turut melatih otot lidah, rongga mulut, dan rahangnya. Ini dapat berhubungan dengan perkembangan bicara nantinya. Saya pernah konsul dengan DSA Ara, Dr. Herbowo Soetomenggolo, Sp.A, biasanya kebiasaan memasukkan apa pun ke mulut akan berkurang seiring dengan meningkatkan kemampuan bicara anak.
  • Membangun sistem imun. Kebiasaan bayi memasukkan apa saja ke mulut sedikit banyak membuatnya terpapar pada kuman, yang dalam skala tertentu justru bermanfaat untuk membentuk antibodi dan sistem imunnya sehingga menjadi lebih kuat dan tidak mudah sakit, dibanding bayi yang berada di lingkungan sangat steril.
  • Self-soothing. Saya sampai sekarang masih suka gigit-gigit kuku atau mengunyah permen kalau sedang cemas. Gerakan berulang itu, somehow, membuat saya lebih tenang. Begitu juga bayi. Mengemut jari ataupun empeng adalah salah satu cara untuk untuk menenangkan diri sendiri.

Wah, banyak ya manfaatnya. Jadi tidak perlu terlalu khawatir, bahkan beri kesempatan, untuk bayi mengemut.

Oke, berarti kasih saja ya semua benda-benda buat diemut bayi? Hehe..ya nggak gitu juga. Tetap harus ada faktor-faktor keamanan dan kebersihan yang perlu diperhatikan. Berikut tipsnya:

  • Pastikan benda-benda yang ada di sekitar bayi ukurannya cukup besar sehingga tidak bisa ditelan. Bila ukurannya kecil (kepingan lego, koin, dll) pastikan disimpan di tempat yang tidak bisa bayi raih. Perhatikan pula apa benda punya sudut-sudut yang tajam, agar tidak membuat bayi luka tergores.
  • Barang-barang berbahaya (obat, cat kuku, cairan pembersih, dll) simpan di laci yang terkunci atau di rak atas yang tidak terjangkau. Bayi tidak tahu apa yang aman atau tidak aman untuk dimakan, ia akan antusias memasukkan apa saja ke mulutnya.
  • Sediakan oral toys atau teether yang memang boleh bayi emut atau gigit-gigit tanpa orangtua menjadi cemas.
  • Hindari boneka/bahan berbulu, karena bekas air liur yang menempel bisa menjadi sarang kuman. Sarung tangan kurang disarankan, karena lebih membatasi proses eksplorasi bayi.
  • Bersihkan mainan atau benda-benda secara berkala, cuci dengan sabun yang bisa untuk makanan atau gunakan tissue khusus (hand & mouth tissue).

Penulis:

Orissa Anggita Rinjani, M.Psi, Psi

Sumber:

Angelo, Florence. 2013. Oral fixation vs oral mouthing difference. http://day2dayparenting.com/

https://www.infantandtoddlerforum.org/media/upload/pdf-

Infant Toddler Forum. Developmental Stages in Infant and Toddler Feeding. downloads/3.5_Developmental_Stages_in_Infant_and_Toddler_Feeding_NEW.pdf

Morris, Suzanne Evans. 1997. Mouth Toys Open the Sensory Doorway. http://www.new-vis.com/fym/papers/p-feed1.htm

Why Babies Mouth Everything? http://www.whattoexpect.com/first-year/ask-heidi/why-babies-mouth-everything.aspx

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>