Drama Menyapih

By Rumah Dandelion

Idealnya, selama usia 0 – 6 bulan bayi diberikan ASI Eksklusif (tidak diberikan asupan lainnya di luar Air Susu Ibu), dan mulai 6 – 24 bulan mulai digabung dengan MPASI (Makanan Pendamping Air Susu Ibu). Menyusui itu sendiri tidak melulu indah dan menyenangkan, sebenarnya banyak perjuangan dan suka dukanya juga.

Waktu menyusui anak pertama, saya tidak menikmati sekali proses menyusui, terutama sampai anak pertama saya berusia 1 tahun. Puting lecet, mastitis berulang, menyusui sambil demam demam merinding ngilu, sebut lah semuanya, Yup, been there done that. Waktu menyusui anak kedua, belajar dari pengalaman anak pertama, pengalaman menyusui jadi jauh lebih baik. Yang dibilang orang-orang “menyusui itu bonding time dengan anak” baru bisa saya rasakan sepenuhnya waktu saya menyusui anak kedua.

Lalu, ketika anak kedua saya belum berusia setahun, saya didiagnosa kondisi medis tertentu yang mengharuskan saya mengkonsumsi obat rutin, yang berakibat si bayi menolak menyusu dan dokter pun menyarankan untuk saya menyapihnya. Reaksi saya? Menangis berurai air mata. Konflik mulai muncul, antara ingin berhenti konsumsi obat tapi berdampak buruk ke kesehatan (dan muncul masalah lain dengan pasangan dan keluarga yang marah karena menanggap saya tidak mau menjaga kesehatan demi umur panjang) atau terus minum obat tapi hati sedih karena musti menyapih sebelum waktunya (dan si bayi yang juga jadi rewel karena tidak bisa menyusu tapi tidak mau juga diganti dengan susu formula).

Akhirnya, setelah beberapa waktu konflik dan menghindari obat, ketemu juga dengan dokter yang bisa memberikan obat yang tidak terlalu berdampak ke rasa ASI sehingga semua senang. Bayi kembali mau menyusu, saya bisa konsumsi obat, kesehatan terjaga, pasangan dan keluarga tidak marah. Dari pengalaman tersebut, saya jadi teringat cerita teman-teman dan banyak orang yang merasa stress dan galau ketika harus menyapih anaknya di usia 2 tahun. Kalau dari artikel-artikel yang ada di situs atau majalah parenting biasanya diinfokan bahwa kunci keberhasilan dari menyapih anak adalah dukungan dari suami untuk mengajak main anak, konsistensi, berikan alternatif kegiatan yang menenangkan buat anak, melakukan pembatasan waktu menyusui secara bertahap, dan lainnya yang intinya membantu anak bisa menjalani masa transisi lepas dari menyusui dengan aman, damai, dan tentram.

Tapi, satu hal yang mungkin sering terlupa atau jarang dibahas, menyapih itu juga berat bagi si ibu. Ada kecemasan yang dialami oleh si ibu ketika harus “melepaskan” kebiasaan menyusui. Kecemasan apakah yang dirasakan oleh si ibu? Kalau dalam psikologi, kita kenal dengan istilah separation anxiety, perasaan khawatir dan sedih ketika berada dalam situasi perpisahan dengan seseorang yang biasanya memberikan rasa nyaman atau seseorang yang dicintai dan berarti. Separation anxiety ini biasanya dialami oleh si anak ketika harus berpisah dari orangtua, bermula dari anak berusia 7-8 bulan yang mulai menangis kalau orangtuanya hilang dari pandangan, berlanjut hingga nanti anak masuk sekolah.

Tapi ternyata orangtua sendiri pun mengalami separation anxiety terhadap anak-anaknya. Pertama dari pengalaman menyapih, anak masuk sekolah dan mulai memilih teman-teman dibanding ortu (apalagi pas remaja ya), hingga nanti anak dewasa mulai mandiri secara penuh dan keluar dari rumah. Separation anxiety pada ibu yang menyapih anaknya bisa dimunculkan oleh berbagai alasan, tapi yang tersering muncul mungkin karena adanya perasaan kehilangan sesuatu yang spesial, yang hanya dimiliki mereka berdua. Satu hal yang perlu diingat, bahwa kecemasan ini adalah hal yang wajar dan jamak dirasakan oleh para ibu.

Sebelum mulai menyapih anak, pertama-tama siapkan diri dulu ya. Ingatkan dan tanamkan keyakinan bahwa proses menyapih adalah proses melatih anak dan ibu menjadi mandiri, menjadi 2 sosok yang berdiri sendiri. Minta bantuan suami untuk mengingatkan bahwa meski sudah selesai menyapih, ibu tetap menjadi seseorang yang spesial dan satu-satunya bagi si anak J. Berada dalam komunitas atau kelompok ibu-ibu juga bisa menjadi salah satu alternatif untuk menenangkan diri ketika mengalami separation anxiety selama proses menyapih. Selamat menikmati kegiatan menyusui dan menyapih ibu-ibu! Weaning is not an ending, it’s a beginning.

 

Source

http://www.healthcentral.com/anxiety/c/157571/114483/adult-separation/

 

Oleh: Nadya Pramesrani, M. Psi., Psikolog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>